“Kak Vera, kalo kita tinggal bersama, bukan hanya memudahkan aku merawat kehamilan, tapi juga memudahkan aku ‘mengobati’ Kak Omar. Kamu tidak keberatan, kan?”Menghadapi provokasi itu, aku tersenyum dingin. “Tidak keberatan.”Omar semula sudah menyiapkan segudang alasan karena takut aku menolak. Melihatku begitu patuh dan pengertian, ia mengangguk puas.“Kalau kamu bisa berpikir seperti itu, tentu lebih baik .…”Belum sempat Omar menikmati kepuasannya, aku sudah melemparkan perjanjian perceraian ke hadapannya, lalu mengucapkannya dengan tegas dan jelas kata demi kata, “Omar, tanda tangani ini. Kita cerai.”…“Vera, kamu tahu apa yang sedang kamu katakan?!” teriak Omar dengan kaget.Dalam benak Omar, aku selalu perempuan yang lembut dan mudah dikendalikan. Dia bisa melempar kebohongan apa pun, dan aku akan percaya. Dia tinggal berlagak kasihan dan menangis sebentar, sebesar apa pun kesalahannya, aku pasti melunak dan memaafkannya.Namun kali ini, aku justru mengajukan perceraian. Alis O
Read more