Aula Pedang terasa berbeda ketika utusan istana berdiri di dalamnya. Biasanya ruangan itu adalah tempat kehormatan sekte dipertahankan, dengan sumpah, dengan pedang, dengan disiplin. Namun hari ini, kehormatan itu seolah diuji oleh sesuatu yang lebih licin daripada bilah, yaitu bahasa istana. Zhou Yan berdiri di sisi kiri aula, dikelilingi pengawal kekaisaran. Dua Burung Hitam berdiri sedikit di belakangnya, seperti bayangan yang tidak bisa diusir. Tetua yang tenang berdiri di sisi kanan, bersama Tetua Gao dan Tetua Hitam. Murid-murid Yunling mengisi sisi-sisi aula, tidak berani terlalu dekat, namun mata mereka tajam seperti pedang yang siap terhunus. Aku berdiri di tengah. Sendirian. Tanpa pedang. Tanpa jubah resmi. Hanya seorang juru tulis yang diberi napas satu kali lagi. Zhou Yan menatapku dengan senyum tipis. “Aku tidak suka membuang waktu.” Aku menatap balik, tidak lama, tidak menantang, tapi cukup tegas. “Aku juga,” jawabku. Beberapa murid bergumam kecil, bukan setuj
Read more