ANMELDENDi Istana Kekaisaran, pedang dapat membunuh satu orang. Namun sebuah catatan dapat membunuh seribu. Shen Yu hanyalah juru tulis rendah di Kompleks Arsip. Ia tidak punya keluarga besar, tidak punya ilmu pedang, dan tidak punya ambisi selain bertahan hidup. Namun sebuah peti rahasia dari Paviliun Utara menyeretnya ke dalam pusaran yang tidak pernah ia minta. Di dalamnya tertulis perintah kekaisaran dari Tahun Kekosongan Tahta—tahun yang seharusnya tak memiliki cap, tak memiliki nama, dan tak memiliki kehendak. Sejak malam itu, Shen Yu diburu bukan karena dosanya, melainkan karena sesuatu yang ia lihat dan sesuatu yang ia ketahui. Di antara tinta dan pedang, di antara istana dan dunia jianghu, ia harus memilih, tetap menjadi orang kecil yang diam atau menjadi saksi hidup dari rahasia paling berbahaya di bawah langit.
Mehr anzeigenAula Pedang terasa berbeda ketika utusan istana berdiri di dalamnya. Biasanya ruangan itu adalah tempat kehormatan sekte dipertahankan, dengan sumpah, dengan pedang, dengan disiplin. Namun hari ini, kehormatan itu seolah diuji oleh sesuatu yang lebih licin daripada bilah, yaitu bahasa istana. Zhou Yan berdiri di sisi kiri aula, dikelilingi pengawal kekaisaran. Dua Burung Hitam berdiri sedikit di belakangnya, seperti bayangan yang tidak bisa diusir. Tetua yang tenang berdiri di sisi kanan, bersama Tetua Gao dan Tetua Hitam. Murid-murid Yunling mengisi sisi-sisi aula, tidak berani terlalu dekat, namun mata mereka tajam seperti pedang yang siap terhunus. Aku berdiri di tengah. Sendirian. Tanpa pedang. Tanpa jubah resmi. Hanya seorang juru tulis yang diberi napas satu kali lagi. Zhou Yan menatapku dengan senyum tipis. “Aku tidak suka membuang waktu.” Aku menatap balik, tidak lama, tidak menantang, tapi cukup tegas. “Aku juga,” jawabku. Beberapa murid bergumam kecil, bukan setuj
Pemeriksaan kekaisaran dimulai seperti upacara, tapi berjalan seperti perburuan. Zhou Yan memasuki Yunling dengan langkah tenang, seolah ia hanya pejabat kecil yang datang untuk melaksanakan tugas. Namun matanya tidak pernah benar-benar diam. Ia memperhatikan posisi murid, jalur jalan, jarak antara lentera, bahkan arah angin yang membawa bau asap. Burung Hitam tetap berada tiga langkah di belakangnya sesuai aturan tetua. Tiga langkah. Namun tiga langkah itu cukup untuk membuat setiap murid Yunling merasakan dingin di tulang mereka. Aku kembali ke Paviliun Pengawas sesuai perintah. Di sepanjang jalan, aku merasakan mata-mata yang tidak terlihat. Tidak semua tatapan berasal dari sekte. Ada sesuatu yang lain—sesuatu yang bergerak seperti asap, tidak menonjol, tapi selalu ada. Begitu aku masuk paviliun, penjaga segera menutup pintu. “Jangan keluar,” kata salah satu dari mereka—bukan perintah tetua, melainkan permintaan yang seperti rasa takut. Aku mengangguk dan duduk. Di meja kec
Pagi itu, kabut Yunling belum sempat hilang ketika lonceng gerbang berbunyi tiga kali. Bunyinya berat, tidak seperti lonceng latihan, tidak seperti lonceng makan. Ini lonceng yang dipukul ketika tamu datang atau musuh datang memakai nama tamu. Para murid sekte segera berkumpul di halaman depan. Barisan mereka rapi, jubah putih kebiruan berkibar pelan dalam angin gunung. Pedang mereka tidak semuanya terhunus, tetapi tangan hampir selalu dekat gagang—sebuah tanda yang jelas bagi siapa pun yang datang: kami menerima kalian dengan sopan, tapi kami siap menebas jika kalian bertindak macam-macam. Aku berdiri di belakang barisan bersama Lin Suyin. Atas perintah tetua, aku memakai jubah sekte sederhana—tanpa lambang, tanpa sabuk murid inti. Rambutku diikat rapi, ekspresi wajah ku buat setenang mungkin. Aku tidak tampak seperti juru tulis istana. Aku tampak seperti murid sekte biasa yang bisa hilang di antara barisan para murid sekte. Tapi aku tahu Burung Hitam tidak mencari lewat pakaia
Kami kembali ke Yunling sebelum fajar. Langit masih gelap, tapi kabut mulai tipis di puncak gunung. Api ruang catatan sudah padam, hanya tersisa asap tipis dan bau arang. Beberapa murid tergeletak kelelahan di halaman, pakaian mereka basah oleh air ember dan keringat. Yang lain berdiri berjaga dengan mata merah dan tangan menggenggam pedang. Sekte ini sudah tidak tidur. Dan sekte yang tidak tidur adalah sekte yang menunggu perang. Mayat Qin Wen tidak kami bawa ke aula. Tetua Hitam memerintahkan Penjaga Dalam mengurusnya, dan itu artinya tidak akan ada upacara melepas jiwa. Tidak akan ada tangisan. Yunling tidak akan menyimpan nama pengkhianat di tanahnya. Aku berjalan di samping Lin Suyin menuju Aula Pedang, lututku masih gemetar. Rasanya seperti seluruh tubuhku dipenuhi sisa suara—pedang beradu, jarum terbang, dan kalimat Qin Wen sebelum mati. Tanpa segel itu, Yunling akan dituduh mencurinya. Aku menelan ludah. Bahkan saat pengkhianat itu mati, ia masih sempat menancapkan dur
Tangan seorang juru tulis seharusnya hanya mengenal dua hal, yaitu kuas dan tinta. Namun saat aku selesai menyalin dokumen itu, aku merasakan sesuatu yang lebih berat daripada batu tinta menekan pergelangan tanganku. Rasa bahwa setiap goresan yang kutulis barusan tidak akan pernah bisa dihapus da
Pagi datang tanpa suara. Kabut tipis masih menggantung di antara atap-atap istana ketika lonceng pertama berbunyi dari Menara Timur, tetapi udara di Kompleks Arsip Kekaisaran terasa berbeda dibanding hari-hari lain. Pagi ini terasa lebih dingin, lebih rapat, seolah ada sesuatu yang ditahan oleh d
Malam turun perlahan di atas atap-atap istana. Dari jendela tinggi Kompleks Arsip, langit tampak seperti sutra gelap yang ditarik rapat, sementara pelita-pelita minyak di lorong menyala kuning pucat, cukup untuk menampakkan jalan, tetapi tidak cukup terang untuk menenangkan hati. Aku masih berada
Kabut pagi masih menggantung di atap-atap giok ketika lonceng pertama berbunyi dari Menara Timur Istana. Di dalam Kompleks Arsip Kekaisaran, orang-orang sudah duduk rapi sebelum matahari benar-benar naik. Tidak ada yang datang terlambat. Bukan karena mereka rajin, melainkan karena siapa pun yang






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.