Kirana tetap duduk diam, tanpa reaksi sedikit pun. Ibu akhirnya terjatuh dan menangis keras. "Dia itu kakakmu. Dia selalu mengalah untukmu, menyerahkan segalanya padamu. Kenapa kamu tega melakukan ini?"Adrian juga meluapkan amarahnya. "Kirana, Ratna dan Nara juga keluargamu. Apa kamu bisa tidur nyenyak setiap malam?"Sejak dibawa pulang, kondisi mental Nara memang sangat buruk. Setiap malam dia terbangun sambil menangis memanggil Mama. Adrian kelelahan mengurusnya, tapi yang lebih kuat adalah rasa sakit di hatinya, meski selama ini dia memang jarang benar-benar peduli.Kirana perlahan menoleh ke arah Ayah, Ibu, dan Adrian. Tiba-tiba dia terkekeh. "Yang membunuh dia itu kalian, bukan aku.""Kalian masih berani berpura-pura nggak bersalah? Sejak awal kalian tahu aku nggak suka Ratna. Kalian juga tahu aku sengaja menindas dia. Tapi kalian semua memilih pura-pura buta, bukan?"Senyum tipis menggantung di sudut bibir Kirana, tetapi sorot matanya dipenuhi kebengisan."Sejak anak kandung kal
Read more