Short
Keluarga yang Tak Kuinginkan Di Kehidupan Berikutnya

Keluarga yang Tak Kuinginkan Di Kehidupan Berikutnya

Oleh:  SansanTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
11Bab
6Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Usiaku 15 tahun saat Ayah dan Ibu akhirnya menemukan aku dari pegunungan terpencil. Melihat tubuhku yang penuh luka dan kekurangan gizi, mereka bersumpah akan menebus semua yang pernah hilang dariku. Ibu berkata aku adalah harta paling berharga milik Keluarga Atmaja. Dia mengganti namaku dari "Ilalang" menjadi "Ratna Atmaja". Ayah berkata, seberapa pun sibuknya dia nanti, setiap hari dia akan pulang untuk makan malam bersamaku, agar aku bisa merasakan kembali arti rumah. Aku pikir, akhirnya aku akan bahagia. Namun sepuluh tahun kemudian, aku malah meninggal di rumah kontrakan yang diberikan oleh adik perempuanku yang palsu itu. Saat itu, anakku berusia tiga tahun. Untuk bersenang-senang, para penculik memberiku tiga kali kesempatan meminta pertolongan. Selama ada seseorang yang mau datang melihatku, mereka akan melepaskan anakku. Kesempatan pertama, aku menelepon Ayah yang tak pernah berhenti mencariku selama 15 tahun. Saat itu dia sedang mengatur para pelayan untuk menyiapkan pesta ulang tahun adik palsuku. Setelah menerima teleponku, dia mengerutkan kening. "Ratna, kamu nggak tahu hari ini ulang tahun adikmu? Jangan bikin sial." Kesempatan kedua, aku menelepon Ibu yang dulu berjanji akan menganggapku sebagai harta paling berharga. Dia memandang penuh sayang ketika adik palsu itu merebut ponsel, lalu menatapku dengan jijik tanpa ditutupi sedikit pun. "Ratna, kalau mau bohong, bisa nggak lebih pintar sedikit? Kalau kamu terus bikin masalah, jangan harap bisa dapat uang hidup untuk bulan depan." Kesempatan ketiga, aku menelepon ayah dari anakku, suami yang dipilih dengan sangat teliti oleh orang tuaku. Dia bilang sedang rapat, setelah itu masih harus memilih hadiah untuk adikku, tidak ada waktu meladeniku bermain drama. Dia juga berkata, kalau aku mau bersikap patuh, minggu depan dia akan mengizinkanku membawa anak pulang untuk makan bersama keluarga. Aku mencium putraku yang gemetar ketakutan di dalam pelukanku, lalu memohon agar mereka memberiku satu kesempatan terakhir, membiarkanku menulis pesan perpisahan. Saat ponsel kembali ke tanganku, aku mengirim dua pesan ke grup keluarga. Satu foto tubuhku yang berlumuran darah. Satu kalimat pendek yang keluar dari lubuk hatiku. [ Aku benar-benar akan mati. Di kehidupan berikutnya, jangan jemput aku pulang lagi. ]

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Usiaku 15 tahun saat Ayah dan Ibu akhirnya menemukan aku dari pegunungan terpencil.

Melihat tubuhku yang penuh luka dan kekurangan gizi, mereka bersumpah akan menebus semua yang pernah hilang dariku. Ibu berkata aku adalah harta paling berharga milik Keluarga Atmaja. Dia mengganti namaku dari "Ilalang" menjadi "Ratna Atmaja".

Ayah berkata, seberapa pun sibuknya dia nanti, setiap hari dia akan pulang untuk makan malam bersamaku, agar aku bisa merasakan kembali arti rumah.

Aku pikir, akhirnya aku akan bahagia.

Namun sepuluh tahun kemudian, aku malah meninggal di rumah kontrakan yang diberikan oleh adik perempuanku yang palsu itu.

Saat itu, anakku berusia tiga tahun.

Untuk bersenang-senang, para penculik memberiku tiga kali kesempatan meminta pertolongan. Selama ada seseorang yang mau datang melihatku, mereka akan melepaskan anakku.

Kesempatan pertama, aku menelepon Ayah yang tak pernah berhenti mencariku selama 15 tahun. Saat itu dia sedang mengatur para pelayan untuk menyiapkan pesta ulang tahun adik palsuku. Setelah menerima teleponku, dia mengerutkan kening.

"Ratna, kamu nggak tahu hari ini ulang tahun adikmu? Jangan bikin sial."

Kesempatan kedua, aku menelepon Ibu yang dulu berjanji akan menganggapku sebagai harta paling berharga. Dia memandang penuh sayang ketika adik palsu itu merebut ponsel, lalu menatapku dengan jijik tanpa ditutupi sedikit pun.

"Ratna, kalau mau bohong, bisa nggak lebih pintar sedikit? Kalau kamu terus bikin masalah, jangan harap bisa dapat uang hidup untuk bulan depan."

Kesempatan ketiga, aku menelepon ayah dari anakku, suami yang dipilih dengan sangat teliti oleh orang tuaku. Dia bilang sedang rapat, setelah itu masih harus memilih hadiah untuk adikku, tidak ada waktu meladeniku bermain drama.

Dia juga berkata, kalau aku mau bersikap patuh, minggu depan dia akan mengizinkanku membawa anak pulang untuk makan bersama keluarga. Aku mencium putraku yang gemetar ketakutan di dalam pelukanku, lalu memohon agar mereka memberiku satu kesempatan terakhir, membiarkanku menulis pesan perpisahan.

Saat ponsel kembali ke tanganku, aku mengirim dua pesan ke grup keluarga.

Satu foto tubuhku yang berlumuran darah.

Satu kalimat pendek yang keluar dari lubuk hatiku.

[ Aku benar-benar akan mati. Di kehidupan berikutnya, jangan jemput aku pulang lagi. ]

....

Saat telepon tersambung, Ayah sedang mengarahkan orang-orang untuk menata pesta ulang tahun Kirana. Begitu melihat nama penelepon, dia langsung mengerutkan kening.

"Kenapa lagi kali ini?"

Aku menatap belati di tangan penculik yang masih meneteskan darah, tubuhku gemetar ketakutan.

"Ayah, aku diculik. Dia mau bunuh aku. Bisa nggak Ayah datang mencariku sebentar dan bawa Nara pergi."

Nara adalah anakku. Tahun ini usianya baru tiga tahun. Saat penculik menerobos masuk, aku sedang menimang-nimang dia untuk tidur. Sekarang dia tergeletak di dekat kakiku tanpa memakai sepatu dan darah mengalir sangat banyak.

"Ratna, kamu ini nggak ada habisnya, ya? Setiap beberapa waktu pasti bikin ulah. Kalau nggak ribut rasanya badanmu gatal, ya?"

"Hari ini ulang tahun adikmu. Aku sibuk. Jangan bikin sial!"

Ayah memaki lewat telepon beberapa kali, lalu menoleh dan mengingatkan pelayan, "Bi Sri, kue Kirana sudah sampai belum? Aku sudah pesan khusus dua puluh tingkat. Kurang satu tingkat pun nggak boleh."

Telepon itu ditutup dengan suara keras. Aku mendengarkan nada sambung yang terus berbunyi, jantungku terasa mencengkeram sakit.

Hari ini juga hari ulang tahunku.

Dua puluh lima tahun lalu, aku dan Kirana lahir di rumah sakit yang sama. Ibunya dibutakan oleh kekayaan dan menukar gelang identitas kami. Sejak itu, Kirana menjadi putri sosialita ternama di ibu kota yang hidup dalam kemewahan dan dimanjakan.

Sedangkan aku menjadi anak sial yang dipungut oleh seorang pria pincang di desa dari tempat sampah. Hidupku lebih hina dari rumput liar. Sejak kecil, aku tidak boleh berhenti kerja, tetapi kadang tidak diberikan makanan.

Saat paling kelaparan, aku berebut sisa makanan dengan babi, lalu pingsan di kandang.

Ketika terbangun, telingaku sudah kehilangan sepotong daging selamanya. Orang pincang itu bilang, ini namanya kurang rezeki. Kalau rezeki sudah berkurang, seumur hidup tidak akan pernah benar-benar utuh.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
11 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status