Kegelapan malam di istana terasa lebih mencekam daripada biasanya. Di dalam peraduan, deru napas Chen Xu yang teratur menandakan sang Kaisar telah hanyut dalam kelelahan yang luar biasa. Namun, di sampingnya, mata Li Lian terjaga lebar. Kata-kata Chen Xu di koridor tadi terus bergema, menghantam dinding kesadarannya—keponakan Permaisuri Xiao, pengkhianatan, dan tatapan di labirin.Li Lian bergerak tanpa suara. Ia menanggalkan pakaian tidurnya, menggantinya dengan setelan sutra hitam yang melekat ringkas di tubuhnya. Sebuah cadar tipis berwarna senada menutupi separuh wajahnya, menyisakan sepasang mata yang kini berkilat penuh tekad. Di balik pinggangnya, terselip sebuah belati perak bermata dua—senjata yang jarang ia gunakan, namun selalu ia asah untuk saat-saat mendesak seperti ini.Dengan langkah seringan kapas, ia menyelinap keluar melalui jendela samping paviliun, menghindari patroli pengawal yang kini diperketat oleh Lin Feng. Tujuannya hanya satu, yaitu Paviliun Tamu di saya
Baca selengkapnya