Mereka melanjutkan perjalanan. Labirin itu seolah hidup, penuh dengan ranjau-ranjau yang dirancang untuk membunuh siapa pun yang tidak diundang. Di persimpangan kedua, sebuah ubin jebakan kembali terpicu, melepaskan ayunan kapak raksasa dari langit-langit. Sekali lagi, Yan Lu yang berada di posisi belakang justru melompat lebih dulu, menarik lengan Li Lian menjauh dari jalur maut sebelum Chen Xu sempat bereaksi sepenuhnya."Hati-hati, Selir Li. Tempat ini tidak mengenal belas kasihan," gumam Yan Lu pelan, suaranya sedingin es namun matanya menatap Li Lian dengan intensitas yang membuat Li Lian merasa telanjang.Chen Xu mengangguk setuju. "Gao benar, Yan Lu memang rekan yang bisa diandalkan. Tetaplah waspada."Li Lian hanya bisa mengangguk lemah, namun batinnya bergejolak. Kenapa? tanyanya dalam hati. Sebagai seorang jenderal, prioritas utama Yan Lu seharusnya adalah keselamatan Kaisar. Namun, setiap kali bahaya muncul, mata Yan Lu seolah-olah hanya terkunci pada sosok Li Lian. Seo
Read more