Uap dari cawan porselen yang dibawa Kasim Ghao mengepul tipis, menyebarkan aroma bunga krisan dan akar manis yang menenangkan di tengah kekacauan koridor peraduan yang dingin. Chen Xu, dengan tangan yang masih gemetar hebat, merebut cawan itu dari tangan pelayan. Ia menolak bantuan siapa pun, ia sendiri yang menyangga kepala Li Lian di lengannya, membimbing bibir pucat Li lian untuk meminum penawar itu setetes demi setetes dengan penuh kehati-hatian, seolah-olah ia sedang memegang porselen paling rapuh di dunia.Li Lian terbatuk pelan saat cairan hangat itu membasahi kerongkongannya yang kering. Perlahan, sesak yang mencekik paru-parunya mulai mengendur, membiarkan oksigen kembali mengalir ke seluruh sel tubuhnya. Warna mawar yang tadinya hilang kini mulai kembali menyapa pipinya yang putih porselen, meski sisa-sisa keringat dingin masih membasahi pelipisnya."Jangan pernah... jangan pernah lakukan hal bodoh itu lagi, Lian-er," bisik Chen Xu, suaranya parau dan sarat dengan luka y
Baca selengkapnya