LOGINLi Lian adalah istri politik yang tak pernah disentuh, hidup di balik kelambu dan aturan. Namun tiap malam, ia terjerat mimpi bersama sosok pria abu-abu yang selalu membuatnya lupa batas. Sampai suatu saat seorang jenderal terkuat yang dikutuk singgah di rumahnya dan ia diperintahkan merawatnya, Li Lian sadar dengan ngeri—pria itu nyata. Dialah lelaki yang selama ini menguasai mimpinya. “Jangan lakukan ini, Jenderal,” bisik Li Lian. Suaranya gemetar—bukan karena takut, tapi karena hatinya sudah lebih dulu menyerah. Chen Xu menatapnya lama, rahangnya mengeras. “Kalau aku mundur sekarang, aku akan kehilanganmu kedua kalinya."
View More"Ah..."
Rintihan itu lolos begitu saja dari bibir Li Lian, memecah kesunyian yang pengap. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri—serak, basah, dan penuh damba.
Sentuhan itu tidak lagi sekadar menelusup, tapi menuntut. Telapak tangan yang lebar dan panas itu merayap naik dari pinggang, menekan lekuk tubuh Li Lian hingga ia terpaksa melengkungkan punggung, mencari lebih banyak kontak.
Jubah sutranya yang tipis terasa seperti gangguan, ia bisa merasakan tekstur kasar jemari pria itu yang bergesekan dengan kulitnya yang sensitif, menyulut api di setiap titik yang dilewatinya.
Li Lian memejamkan mata erat-erat, membiarkan kepalanya tersandar pada dada bidang yang keras dan kokoh. Aroma maskulin yang bercampur dengan wangi cendana dan hujan menyergap indra penciumannya, membuatnya pening oleh gairah yang belum pernah ia rasakan selama tiga tahun pernikahan dinginnya dengan Wu Chen.
Di sini, di bawah kukungan pria asing ini, Li Lian bukan lagi istri yang diabaikan. Ia adalah pusat semesta pria ini.
Napas pria itu memburu, terasa panas dan lembap saat bibirnya menyapu lembut tengkuk Li Lian, meninggalkan jejak panas yang merayap hingga ke tulang belakang. Setiap sentuhan terasa seperti klaim—sebuah kepemilikan yang begitu intens hingga membuat kaki Li Lian terasa lemas.
"Putri Li Lian..." bisik pria itu. Suaranya berat dan rendah, bergetar tepat di telinganya seperti petir yang menggelegar namun menenangkan.
Li Lian tersentak, mencoba membuka kelopak matanya yang terasa berat. Dalam keremangan bayangan, ia hanya bisa melihat siluet rahang yang kokoh dan garis bibir yang tegas.
Panggilan itu—Putri Li Lian—adalah racun sekaligus penawar.
Sudah terlalu lama gelar itu dikubur bersama harga dirinya. Ia adalah anak haram yang tak diinginkan, buah dari skandal bangsawan yang memalukan. Darahnya terlalu mulia untuk dibuang, namun keberadaannya dianggap sampah oleh keluarga Wu Chen.
Pria itu menghentikan gerakannya, namun tidak menjauh. Ia justru mengeratkan pelukannya, menekan tubuh Li Lian lebih rapat hingga tak ada lagi celah udara di antara mereka. Matanya yang tajam mengunci tatapan Li Lian, seolah sedang meminum seluruh luka yang selama ini ia sembunyikan.
Pria itu menarik dagunya, memaksa Li Lian menatap kedalaman matanya yang penuh badai. "Putri Li Lian, jangan pernah lupakan aku saat kau terbangun nanti. Fajar akan memisahkan kita, tapi aku butuh kau tetap hidup agar aku bisa menemukan jalan pulang."
“Tapi….”
“Aku percaya padamu, Putri Li Lian.”
Sentuhan panas itu tiba-tiba tersentak hilang. Cahaya fajar menusuk masuk melalui celah jendela, merobek kenyamanan mimpi itu dengan paksa.
Li Lian tersentak bangun. Napasnya pendek-pendek, dadanya naik turun dengan cepat sementara paru-parunya terasa sempit. Ia meraba leher dan wajahnya yang masih terasa panas merona. Di sampingnya, ranjang itu tetap luas, rapi, dan sedingin es.
Wu Chen, suaminya, tidak ada di sana. Seperti biasanya, pasti menghabiskan malam di paviliun Mawar.
Wu Chen, suaminya, memang tidak pernah sekalipun tidur bersamanya karena sehari setelah pernikahan mereka, dia sudah memutuskan mengambil Mei Lan yang hanya seorang pelayan istana biasa sebagai selir. Namun, Mei Lan adalah satu-satunya perempuan yang ada di hati Wu Chen.
Dan ini adalah mimpi kesekian kali ketika pria itu muncul.
"Nyonya Muda, Anda sudah bangun?" suara datar dan dingin dari pelayan senior, Bibi Rumi, memecah keheningan. "Cepatlah bersiap. Tuan Besar sedang dalam suasana hati yang buruk karena perintah mendadak dari Kaisar."
Li Lian membiarkan para dayang membasuh tubuhnya. Mereka bekerja dengan gerakan kasar, tanpa rasa hormat yang seharusnya diberikan pada istri sah seorang Perdana Menteri. Pikiran Li Lian masih tertahan pada suara rendah pria di mimpinya. Putri Li Lian...
"Siapa tamu yang akan datang?" tanya Li Lian pelan saat rambutnya disanggul.
"Jenderal Chen Xu," jawab Bibi Rumi sambil memasangkan tusuk konde perak dengan gerakan menyentak. "Beliau dari perjalanan perang dalam keadaan terluka parah dan membutuhkan tempat istirahat serta menyembuhkan dirinya, tidak mungkin langsung kembali ke istana. Jadi…"
Li Lian mengernyit. Nama itu, Chen Xu, terasa asing namun memicu debaran aneh di dadanya.
“Aku mengerti, Bi…untuk sementara jenderal itu akan tinggal di sini”
Langkah kaki Li Lian bergema di koridor kayu aula utama. Dari kejauhan, ia sudah bisa melihat suaminya, Wu Chen, berdiri memunggungi pintu dengan sikap tubuh yang angkuh. Di hadapan WU Chen, serombongan prajurit kekaisaran berdiri tegap, mengelilingi sebuah kursi tandu.
"Li Lian…Kau terlambat," tegur Wu Chen tanpa menoleh, suaranya penuh penghinaan terselubung. "Sambutlah tamu kita. Pastikan kamu melayaninya dengan baik. Jangan membuatku kesulitan di hadapan Kaisar."
Li Lian menunduk, mencoba mengabaikan rasa sakit di hatinya. Namun, saat ia mengangkat wajah untuk memberikan salam formal, dunianya seolah berhenti berputar.
Seorang pria sedang mencoba berdiri dari kursinya, bersandar pada tongkat kayu hitam. Sosok itu tampak ringkih, kulitnya pucat seolah tak pernah tersentuh matahari, dan napasnya terdengar berat. Namun, saat pria itu mendongak, Li Lian merasa bumi bergeser dari porosnya.
Rahang itu. Garis bibir itu. Dan yang paling utama—aroma cendana yang samar terbawa angin saat pria itu bergerak.
"Jenderal Chen Xu..." Wu Chen memperkenalkan dengan nada malas. "Ini istriku, Li Lian."
Tatapan Chen Xujatuh tepat di mata Li Lian. Detik itu juga, udara di aula terasa mampat. Mata itu tidak lagi terpejam seperti dalam mimpi, mata itu kini terbuka, tajam, kelam, dan penuh dengan badai yang tak terucapkan.
Jantung Li Lian jatuh ke dasar perutnya. Ia mengenali tatapan itu. Itu adalah sorot mata yang sama yang menatapnya dengan penuh gairah dan kepedihan beberapa menit yang lalu di bawah pohon persik.
"Nyonya Muda Chen," suara Chen Xu terdengar parau, jauh lebih rendah dan pecah dibanding suaranya di dunia mimpi, namun getarannya tetap sama. Ia membungkuk sedikit, tubuhnya yang lemah terlihat gemetar, namun matanya tetap mengunci Li Lian.
Li Lian membeku. Pria ini... pria yang telah menyentuh bagian terdalam dari jiwanya, pria yang tahu setiap rahasia dan air matanya, kini berdiri hanya tiga langkah darinya. Nyata. Hidup.
Namun, kenyataan pahit menghantamnya karena ia adalah seorang Jenderal besar, dan dirinya adalah istri sah dari pria yang paling dibenci Chen Xu di kekaisaran ini.
"Selamat datang... Jenderal," bisik Li Lian, suaranya nyaris hilang.
"Mulai hari ini, kau yang akan mengurus semua keperluan Jenderal Chen Xu," perintah Wu Chen tanpa beban.
Lampu obor yang berderak di dinding mausoleum seolah menjadi saksi bisu atas hancurnya kepingan kepercayaan terakhir di hati Li Lian. Sosok di bawah ujung pedangnya itu gemetar hebat, perlahan meluruh ke lantai pualam yang dingin. Saat kain penutup wajah itu tersingkap sepenuhnya, wajah yang selama ini selalu menyambutnya dengan senyum tulus dan kehangatan kini basah oleh air mata ketakutan."Nona... maafkan aku... maafkan aku... aku hanya pelayan tidak berguna," ratap sosok itu. Suaranya pecah, menggema di antara pilar-pilar batu yang bisu."Mei Lan..." gumam Li Lian.Suara Li Lian nyaris tidak terdengar, namun sarat dengan kemarahan yang membeku. Pedangnya sedikit tergores di leher pelayan setianya itu, meninggalkan garis merah kecil yang mengeluarkan setetes darah. Li Lian tidak menarik senjatanya; tangannya gemetar bukan karena takut, melainkan karena rasa dikhianati yang begitu dalam. Mei Lan adalah satu-satunya orang yang ia bawa dari kediaman Wu Chen, orang yang ia percayai
Malam itu, di bawah lindungan hujan yang mulai turun membasahi atap-atap istana yang dingin, tiga bayangan melesat keluar melalui jalur rahasia yang hanya diketahui oleh garis keturunan Naga. Mereka memacu kuda di tengah badai, menuju bukit suci yang menjadi tempat peristirahatan terakhir para leluhur.Namun, saat bayangan mausoleum yang megah mulai terlihat di balik kabut hujan, langkah kuda mereka mendadak terhenti. Li Lian merasakan bulu kuduknya berdiri. Di depan gerbang utama yang seharusnya tertutup rapat dan dijaga ketat, tampak beberapa obor yang menyala redup, bergoyang tertiup angin kencang."Ada yang tidak beres," bisik Lin Feng, tangannya sudah menghunus pedang.Chen Xu memicingkan mata, menatap ke arah pintu batu raksasa mausoleum yang kini tampak terbuka sedikit, menyisakan celah gelap yang menganga. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara dentingan logam yang beradu dengan batu, seolah seseorang sedang mencoba membongkar sesuatu dengan paksa di dalam sana.Bukan W
Li lian meggelengkan kepalanya. ‘Sepertinya mereka sudah menduga dari awal kalau ia akan mencari mereka untuk memberikan kesaksian.’Firasat buruk merayap di punggung Li Lian. Ia segera melangkah menuju kamar kecil di ujung lorong tempat para kasim tingkat rendah beristirahat. Kamar itu berantakan, sebuah kursi terbalik dan ada bekas gesekan di lantai pualam yang berdebu.Li Lian berlutut, menyentuh lantai tersebut. Matanya yang tajam menangkap sesuatu di bawah kolong tempat tidur kayu yang rendah. Dengan bantuan sebilah belati kecil, ia menarik sebuah benda keluar.Itu adalah sebuah lencana kecil dari perak, simbol pengenal kasim istana. Namun, lencana itu berlumuran darah yang sudah mulai mengering. Di dekatnya, ada secarik kertas kecil yang robek, hanya menyisakan beberapa kata yang ditulis terburu-buru: "...Mausoleum... fajar... rahasia...""Mereka melenyapkannya," bisik Li Lian, napasnya tertahan.Wu Chen atau Ibu Suri tidak akan membiarkan saksi hidup. Ketiga kasim itu kemungki
Aula Harmoni Agung biasanya merupakan simbol ketertiban kekaisaran, namun pagi ini, ruangan luas berlantai pualam itu dipenuhi oleh bisik-bisik tajam yang menyerupai desis ular. Udara terasa panas meski jendela-jendela tinggi telah dibuka lebar. Di tengah ruangan, Perdana Menteri Wu Chen berdiri dengan jubah kebesarannya yang berwarna gelap, tampak tenang namun matanya memancarkan kepuasan yang dingin."Tindakan ini tidak bisa dibiarkan!" suara Wu Chen bergema, memantul di pilar-pilar naga. "Putri Li Lian telah melangkahi otoritas hukum kita. Memindahkan Ibu Suri ke penjara militer tanpa melalui persidangan atau dekrit resmi adalah bentuk penculikan yang nyata. Jika hari ini seorang Putri bisa memenjarakan Ibu Suri, besok siapa di antara kalian yang akan ia seret ke ruang gelap tanpa alasan?"Beberapa menteri senior mulai berbisik setuju, wajah mereka menyiratkan ketakutan akan hilangnya perlindungan hukum istana. Wu Chen mengambil satu langkah ke depan, suaranya naik satu oktaf,






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore