Mag-log inLi Lian adalah istri politik yang tak pernah disentuh, hidup di balik kelambu dan aturan. Namun tiap malam, ia terjerat mimpi bersama sosok pria abu-abu yang selalu membuatnya lupa batas. Sampai suatu saat seorang jenderal terkuat yang dikutuk singgah di rumahnya dan ia diperintahkan merawatnya, Li Lian sadar dengan ngeri—pria itu nyata. Dialah lelaki yang selama ini menguasai mimpinya. “Jangan lakukan ini, Jenderal,” bisik Li Lian. Suaranya gemetar—bukan karena takut, tapi karena hatinya sudah lebih dulu menyerah. Chen Xu menatapnya lama, rahangnya mengeras. “Kalau aku mundur sekarang, aku akan kehilanganmu kedua kalinya."
view morePaviliun Cendana sore itu diselimuti suasana musim gugur yang kian meresap. Udara sejuk berhembus pelan, membawa serta aroma kayu cendana yang samar dan wangi bunga krisan yang mekar di taman. Daun-daun maple yang mulai menguning berjatuhan satu per satu, menciptakan permadani keemasan di atas batu-batu halus. Langit di ufuk barat memancarkan cahaya jingga lembut, menyinari paviliun dengan cahaya hangat yang meredup, menciptakan bayangan panjang yang menari pelan. Suasana tenang dan damai, hanya diselingi kicauan burung yang hendak pulang ke sarang. Di sudut, sebuah guci keramik berisi air mancur kecil gemericik dengan suara menenangkan.Mata Chen Xu langsung bersinar saat melihat kedatangan Li Lian. Ia sempat mengira Li Lian marah padanya dan takkan datang lagi. Ternyata dugaannya salah. Li Lian datang dengan senyum manisnya.Senyumnya begitu tulus dan memesona, sehingga siapa pun yang melihatnya tak akan menyangka bahwa perempuan itu hidupnya penuh dengan kesialan.“Jenderal, baga
Siang itu, setelah meramu obat untuk Jenderal Chen Xu dan meminta Bibi Rumi mengantarkannya, Li Lian menuju perpustakaan tua yang hampir tak lagi dijamah. Ruangan sunyi itu, dengan rak-rak kayu tinggi penuh debu, telah lama sepi dari anak muda yang belajar.Hanya Li Lian yang masih sering menyambanginya. Terkadang, di tengah kesendiriannya, dia bersyukur atas keadaannya yang ironis ini — meski menjadi Istri Perdana Menteri, ketiadaan kekuatan politik justru memberinya waktu luas untuk belajar. Dalam diam, dia masih berharap bisa bebas dari keluarga ini suatu hari nanti, lalu mengabdi pada masyarakat dengan ilmu pengobatan yang dipelajarinya secara otodidak.Lembar demi lembar dia bolak-balik. Satu tumpukan buku berdebu telah terbaca. Kesimpulannya tetap sama, yaitu satu-satunya cara menyembuhkan Jenderal Chen Xu memang melalui titik pusat di bawah pusarnya.Tapi kenapa memikirkan titik di bawah perut pria itu membuat jantungnya berdegup kencang dan pipinya memanas? Padahal, dia belum
Genggaman tangan Chen Xudi jemari Li Lian masih terasa panas ketika pintu paviliun kembali terbuka. Kali ini tanpa suara Wu Chen, hanya derap langkah ringan yang membawa aroma parfum menyengat.Mei Lan masuk dengan wajah yang dipasang layaknya malaikat yang sedang prihatin. Namun, matanya langsung tertuju pada tangan Chen Xu yang masih memegang Li Lian. Sebuah senyum tipis yang licik muncul di sudut bibirnya."Astaga, Kakak Li Lian," suara Mei Lan melengking, berpura-pura terkejut. "Aku baru saja pergi sebentar, dan Kakak sudah seakrab ini dengan Jenderal?"Li Lian menarik tangannya dengan sentakan kasar. Ia berdiri tegak, menatap Mei Lan dengan dingin. "Apa yang kau lakukan di sini, Mei Lan? Tuan Besar sudah pergi."Mei Lan mengabaikan Li Lian dan menoleh pada Chen Xu dengan tatapan penuh simpati. "Jenderal, Anda tidak perlu merasa berhutang budi padanya hingga terus-menerus ingin membelanya. Anda mungkin tidak tahu, tapi Kakak Li Lian ini memang selalu begini."Mei Lan melangkah maj
Baru saja Chen Xu menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya tiba-tiba menegang. Sebuah batuk keras yang tertahan pecah, diikuti cairan merah pekat yang menyembur dari mulutnya, menodai jubah kelabu dan lantai kayu Paviliun Cendana."Jenderal!" Li Lian tersentak, tangannya dengan sigap meraih sapu tangan untuk menahan darah yang terus mengucur.Tepat saat itu, pintu paviliun terbuka dengan dentuman keras. Wu Chen melangkah masuk dengan wajah yang dikeraskan oleh amarah. Ia tidak datang sendiri, Mei Lan mengekor di belakangnya dengan tatapan penuh kepuasan yang disamarkan sebagai rasa cemas.Wu Chen membeku sejenak melihat noda darah di lantai, sebelum matanya menyambar Li Lian dengan tatapan membunuh. "Li Lian! Apa yang kau lakukan? Kenapa kondisi Jenderal semakin parah di tanganmu?"Li Lian tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang. Ia terus menekan titik nadi di punggung tangan Chen Xu untuk menstabilkan gejolak energinya. Chen Xu mencoba melambaikan tangan ke arah Wu Chen—sebuah isyar
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu