Reno langsung tersedak oleh ucapanku. Dengan wajah memerah karena emosi, dia membentak, “Masuk Banduna itu apanya yang susah? Aku cuma nggak mau saja!”“Kalau aku mau, tinggal mengulang setahun. Tahun depan universitas manapun pasti bisa aku masuk.”Mendengar itu, Xena juga ikut bersikap sok tinggi, menatapku dengan dagu terangkat.“Iya. Banduna itu memangnya sehebat apa sih?”Aku mengangguk, lalu menimpali dengan santai, “Benar. Banduna memang nggak sehebat itu.”“Tapi aku cuma mau ngingetin, tahun depan jangan lupa bawa kartu peserta ujian. Kalau nggak, bisa-bisa kalian harus mengulang setahun lagi.”Setelah itu, tanpa peduli wajah mereka yang memuram, aku menarik Gracella dan pergi.…Dua minggu kemudian, surat penerimaan akhirnya sampai.Ayahku menatap tiga kata itu: Universitas Teknologi Banduna.Padahal biasanya beliau orang yang kaku dan jarang menunjukkan emosi. Tapi kali ini, air matanya jatuh.Ibu malah lebih heboh. Dia mengambil foto lebih dari sepuluh kali, lalu mengunggahn
Baca selengkapnya