Share

Bab 3

Penulis: Farah
Begitu nilai keluar, tim penerimaan Universitas Teknologi Banduna dan Universitas Mada sama-sama datang ke rumahku.

Mereka berebut ingin menjadikanku mahasiswa mereka, bahkan bilang aku bebas memilih jurusan apa pun.

Di kehidupan sebelumnya, aku sebenarnya ingin memilih Ilmu Komputer, tapi Reno membujukku untuk memilih Teknik Sipil.

Begitu masuk tahun pertama, aku baru sadar kalau aku sama sekali tidak suka jurusan itu.

Aku memaksa diri belajar mati-matian selama setahun, begadang tanpa henti.

Akhirnya di tahun kedua, aku berhasil pindah jurusan ke Ilmu Komputer.

Kali ini, tanpa campur tangan Reno, aku akhirnya memilih langsung jurusan Ilmu Komputer di Universitas Teknologi Banduna.

Setelah formulir pilihan jurusan selesai kuisi, Gracella menelepon mengajakku ke mall untuk makan es krim.

Kebetulan yang benar-benar menyebalkan. Baru saja es krim disajikan di meja, kami bertemu Reno dan Xena.

Xena merangkul lengan Reno dengan mesra. Tanpa basa-basi, dia duduk di meja kami.

“Wah, kebetulan banget ya, Cindy. Kalian juga makan es krim?”

“Aku iri banget sama kalian yang jomblo. Masih bisa makan bareng sahabat.”

“Nggak kayak aku … tiap hari Reno nempel terus. Mau lepas saja susah.”

Reno tersenyum dengan gaya sok manis.

“Itu karena kamu terlalu imut. Jadi aku nggak tahan, pengennya tiap hari bareng kamu.”

“Ih … nyebelin. Di sini kan ada orang lain.” Xena merengek.

Lalu dia mencondongkan badannya dan mengecup bibir Reno.

Gracella langsung memasang muka jijik, kemudian melirikku dengan tatapan seolah bertanya mereka kenapa.

Aku hanya menoleh sekilas. Perasaanku datar saja.

Setelah puas pamer kemesraan, Xena menatapku dan bertanya, “Cindy, kamu jadinya kuliah sendirian nanti pasti kesepian ya?”

“Sayang banget, Reno nggak bisa nemenin kamu lagi. Dia bakal mengulang setahun bareng aku.”

Aku tersenyum tipis, tetap diam.

Tapi Gracella sudah tidak tahan. Dengan nada sengaja manis tapi menyindir, dia berkata, “Iya dong. Pasti kesepian.”

“Soalnya Cindy ambil jurusan Ilmu Komputer di Banduna. Nggak semua orang bisa masuk, lho .…”

“Oh iya … kalian kan mau mengulang setahun. Kok masih santai makan enak, jalan-jalan sih?”

“Kalau aku sih pasti sudah gelisah setengah mati. Besoknya langsung ke sekolah buat ngulang dan ngerjain soal terus.”

Wajah Xena merah padam. Dia menunjuk Gracella dengan jari bergetar, tapi saking kesalnya sampai tidak bisa bicara.

Wajah Reno memuram. Dia mengerutkan kening, menatapku tajam.

Dengan nada tidak ramah, dia bertanya, “Cindy, kamu ambil Ilmu Komputer?”

“Itu jurusan nggak populer, kan? Aku kan sudah bilang ambil Teknik Sipil.”

“Sekarang ini eranya sipil. Kalau salah pilih jurusan, sekalipun lulusan Banduna, kamu tetap nggak bakal dapat kerja bagus.”

Mendengar itu, Xena langsung heboh. “Reno, kamu serius? Beneran begitu?!”

Reno mengangguk, pura-pura dewasa dan berwibawa.

“Ilmu Komputer Banduna juga kalah sama Teknik Sipil di kampus biasa.”

Dia lalu menghela napas, seolah prihatin. “Aduh … masa depan Cindy berat banget.”

Wajah Gracella langsung memerah karena marah, sudah mau membantah.

Tapi karena tidak yakin ucapan Reno benar atau tidak, dia cuma menatapku dengan panik.

Aku melirik Reno sekilas, lalu berkata datar dengan tatapan tak peduli, “Urusanku … apa ada hubungannya denganmu?

“Kenapa kamu jadi berlagak sok ngatur-ngatur hidupku?”

“Sebenci apapun kamu, faktanya aku tetap diterima di Banduna.”

“Kamu sendiri diterima di universitas mana?”
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Penebusanku, Semoga Kau Senang   Bab 9

    Setelah kembali ke Beira, aku lulus pascasarjana dengan lancar dan masuk ke sebuah perusahaan teknologi kecil.Guru dan teman-teman tidak mengerti pilihanku.Tapi hanya aku yang tahu, dua tahun lagi, perusahaan ini akan meroket.Kalau bergabung sekarang, aku masih bisa mendapatkan bonus saham.Nanti saat perusahaan sudah melantai di bursa, aku akan langsung mencapai kebebasan finansial.Risiko rendah, untung besar.Kalau aku tidak terlahir kembali, kesempatan sebagus ini jelas tidak akan jatuh ke tanganku.Perusahaan sedang bertumbuh pesat, jadi pekerjaan juga menumpuk. Setiap hari aku sibuk mondar mandir.Saat telepon dari Gracella masuk, barulah aku sadar ternyata sudah satu tahun berlalu tanpa terasa.Dari seberang telepon, Gracella hampir tidak bisa menahan rasa menggebu-gebunya.“Cindy! Aku mau kasih kamu gosip super besar. Keluarga Xena bangkrut!”Jantungku sedikit bergetar.Sudah lama sekali dan aku kembali mendengar nama yang terasa begitu familiar itu.Gracella melanjutkan, “I

  • Penebusanku, Semoga Kau Senang   Bab 9

    Setelah kembali ke kampus, aku menjalani pendidikan pascasarjana dengan lancar.Dua tahun kemudian, aku berhasil menulis dua artikel riset.Di bawah bimbingan dosenku, kedua artikel itu berhasil terbit di jurnal bidangku.Ada perusahaan yang tertarik dengan penelitianku dan secara khusus mengundangku menjadi konsultan riset.Honor untuk satu proyeknya bahkan hampir sepuluh juta lebih.Aku pun mengumpulkan modal pertama dengan cepat.Kebetulan saat liburan aku pulang kampung, aku ikut Gracella menghadiri reuni teman sekolah.Beberapa tahun sudah berlalu dan aku kembali bertemu Reno.Hal yang paling mengejutkanku adalah dia terlihat jauh lebih tua.Rambutnya berantakan, kulitnya tidak lagi bersih dan cerah.Wajahnya kusam kehitaman dan kerutan mulai muncul di wajahnya.Orang-orang yang tidak tahu umur aslinya, kalau dibilang dia sudah umur tiga puluhan pun mereka pasti percaya.Yang lebih mencengangkan adalah salah satu kakinya terlihat pincang. Langkahnya oleng, tubuhnya tidak seimbang.

  • Penebusanku, Semoga Kau Senang   Bab 7

    Saat aku sudah menginjak tahun keempat kuliah, aku berhasil mendapatkan kuota jalur rekomendasi untuk pascasarjana.Aku melakukan riset di bawah bimbingan dosen yang sangat aku sukai.Karena jadwalku relatif longgar, aku menggunakan waktuku untuk dua hal. Menyiapkan rencana tesis untuk jenjang magister, sekaligus mengurus persiapan bisnis yang ingin aku bangun.Tak disangka, saat liburan pulang kampung, aku bertemu Reno di bawah apartemen kompleks.Sepertinya dia sudah menunggu cukup lama.Begitu melihatku, wajahnya terlihat sedikit berseri, seperti kaget sekaligus senang.Dia melangkah mendekat, menggosok telapak tangannya, lalu berkata dengan ragu-ragu, “Cindy, lama nggak bertemu. Gimana keadaanmu di Beira?”Aku mengangguk kecil, suaraku datar. “Lumayan.”Dia tersenyum canggung. “Oh iya, kamu mau lanjut S2 ya? Aku dengar sekarang masuk pascasarjana susah banget. Nggak gampang bisa keterima.”Aku menjawab dengan singkat, “Aku masuk jalur rekomendasi.”Dia terdiam sejenak. Sekilas mata

  • Penebusanku, Semoga Kau Senang   Bab 7

    Setelah masuk kuliah, aku akhirnya benar-benar melangkah melewati gerbang Universitas Teknologi Banduna.Dengan pengalaman dari kehidupan sebelumnya, kali ini aku jauh lebih paham bagaimana menyusun rencana selama kuliah.Aku nggak cuma menjaga nilai mata kuliah dan mempertahankan IPK terbaik di jurusan.Aku juga aktif ikut berbagai proyek riset di luar kelas, membangun relasi dengan para dosen pembimbing top, dan memperluas jaringan.Semua itu bukan hanya membuat jalanku di dunia akademik lebih mulus, tapi juga bisa menjadi pondasi kuat untuk rencana berwirausaha di masa depan.Di akhir semester, dengan mudah aku meraih peringkat pertama di jurusan, bahkan mendapatkan beasiswa riset.Namaku langsung dikenal di jurusan.Saat Tahun Baru, aku pulang ke kampung halaman. Gracella mengajakku jalan-jalan ke mall dan memberitahuku sebuah berita besar.Xena Leora hamil.Aku mengangkat alis, agak terkejut.Gracella memasang ekspresi seolah berkata pasti kamu juga tidak menyangka dan berkata den

  • Penebusanku, Semoga Kau Senang   Bab 6

    Sebulan berlalu, hari masuk perkuliahan sudah semakin dekat. Aku dan kedua orang tuaku sedang membereskan barang-barang di rumah.Tak disangka, Reno muncul di depan pintu.Dia melirik ke dalam, lalu berkata dengan pura-pura sopan, “Tante, saya teman sekelas Cindy. Katanya dia mau terbang ke Beira, saya cuma ingin bicara sebentar dengannya.”Ibu mengizinkannya. Lalu memanggilku keluar.Di lorong apartemen hanya ada kami berdua. Aku langsung berkata,“Kamu mau ngomong apa? Cepat katakan.”Reno mengerutkan kening, memperhatikan ekspresiku.Aku tidak nyaman ditatap seperti itu. Aku pun membuka pintu hendak masuk kembali.“Kalau kamu nggak ngomong, aku masuk ya ....”Dia buru-buru mengulurkan tangan, menahan pintu.“Cindy, kamu masih marah sama aku?”Aku menatapnya heran.Dia tersenyum dengan ekspresi sok mengerti. “Aku tahu kok kamu malu karena aku ninggalin kamu.”“Tapi siapa pun itu, aku pasti bakal milih Xena.”“Dia cantik, lembut, penurut. Aku bener-bener cinta mati sama dia.”Aku samp

  • Penebusanku, Semoga Kau Senang   Bab 5

    Wajah Reno tampak kesal. Dia tiba-tiba menghempaskan tangan ayahnya.“Cukup! Kalian ributin apa sih?!”“Xena itu gadis terpolos yang pernah aku kenal. Mana mungkin dia maksa aku?!”“Semua ini pilihanku sendiri. Bisa bersama Xena itu impianku. Terus kenapa kalau sampai mengorbankan ujian masuk perguruan tinggi?!”Ayah dan ibu Reno sampai pucat saking marahnya. Jari mereka gemetar saat menunjuknya.“Kamu … dasar anak durhaka!”“Kami membesarkanmu dengan susah payah, dan ini balasanmu?!”Ekspresi Reno dingin. Dengan suara datar dia berkata, “Kalau kalian memang nggak mau mengakuiku … kita bisa putus hubungan keluarga.”“Mulai sekarang, aku akan menganggap orang tua Xena sebagai orang tuaku sendiri. Aku cukup berbakti pada mereka.”Mendengar itu, ibu Xena langsung tertawa terbahak-bahak.“Kalian dua guru miskin sudah dengar kan? Reno mau ngakuin kami sebagai orang tuanya. Kalian mending pulang saja, cuci muka, terus tidur sana!”Xena pun memeluk Reno dengan manja.“Om, Tante … mulai sekara

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status