Share

Penebusanku, Semoga Kau Senang
Penebusanku, Semoga Kau Senang
Penulis: Farah

Bab 1

Penulis: Farah
Tiga puluh menit sebelum ujian dimulai, aku berdiri di depan gedung ujian menunggu dipersilahkan masuk.

Reno Haris berlari menghampiriku dengan wajah tegang, keringatnya bercucuran karena panas.

“Cindy, kartu peserta ujian Xena ketinggalan di rumah. Aku harus balik untuk mengambilnya.”

Aku mengangguk tenang. “Pergilah. Hati-hati di jalan.”

Reno terengah-engah, lalu berkata, “Setelah ujian Saintek selesai, tunggu aku di depan gedung. Temani aku beli hadiah ulang tahun untuk Xena.”

Aku menatapnya lurus dan menolak tanpa ragu.

“Nggak usah.”

“Reno, kita putus.”

Dia mengangkat kepala dan terkejut. Lalu alisnya mengerut, emosinya langsung naik.

“Cindy Aira, kamu kenapa sih? Aku cuma balik buat ambil kartu pesertanya. Aku sama dia beneran nggak ada apa-apa!”

Aku mengangguk, suaraku datar. “Aku tahu.”

“Aku cuma mau putus. Kita nggak cocok.”

Reno menatapku lama, lalu menyeringai dingin.

Dia pun memalingkan wajah dan mendengus.

“Baik. Kalau putus ya sudah. Tapi jangan menyesal.”

Setelah itu, dia berbalik pergi dan langsung menghilang di antara kerumunan peserta ujian.

Aku menatap punggungnya, dan tanpa sadar bibirku terangkat membentuk senyum tipis.

Tenang saja, Reno.

Kali ini, yang menyesal bukan aku.

Di kehidupan sebelumnya, ketika Reno ingin pulang mengambil kartu ujian untuk Xena Leora, aku menghentikannya.

“Ujian sebentar lagi dimulai. Kalau kamu telat dan ketinggalan ujian gimana?”

Reno terlihat sangat bimbang.

Namun akhirnya dia mendengarkanku, dan datang tepat waktu untuk mengikuti ujian.

Aku tidak menyangka, setelah pengumuman nilai keluar, karena Xena tidak hadir ujian Soshum, ia dinyatakan gugur.

Dalam keputusasaan, dia benar-benar melompat dari gedung dan bunuh diri.

Kemudian aku dan Reno sama-sama diterima di Universitas Teknologi Banduna.

Setelah lulus S1, dengan berkembang pesatnya industri internet, kami berhasil masuk ke perusahaan besar.

Tidak butuh waktu lama, gaji yang kami dapatkan per tahunnya sangat besar. Hubungan kami pun berjalan mulus sampai akhirnya menikah.

Aku selalu mengira, Reno dan aku adalah sebuah kisah klasik, dari masa sekolah berlanjut ke pelaminan. Hubungan kami pun erat.

Kata teman-teman, kami pasangan idaman.

Tapi ternyata aku cuma terlalu naif. Suatu hari di musim hujan, hujan deras mengguyur tanpa henti.

Reno baru kembali dari luar, lalu menarik sebuah belati dari balik bajunya. Tanpa ragu, dia menghujamkan belati itu tepat ke dadaku.

Sekali. Dua kali. Berkali-kali. Darah menyembur keluar.

Aku memegangi dadaku, menatap lelaki yang kucintai dengan tatapan tak percaya.

Wajah Reno mengerikan, sorot matanya penuh kegilaan.

Dengan suara penuh kebencian, dia berkata, “Ini semua salahmu. Kamu yang menghalangiku mengambil kartu ujian untuk Xena!”

“Kalau aku sempat pergi, dia nggak akan bunuh diri hanya karena gagal ujian! Kembalikan cintaku!”

Xena Leora?

Dulu aku benar-benar bodoh, percaya bahwa mereka hanya teman masa kecil biasa.

Ternyata yang Reno cintai sejak awal adalah sahabat masa kecilnya itu.

Niat baikku waktu itu berubah jadi duri tajam yang menancap di hatinya puluhan tahun.

Kalau begitu, di kehidupan ini tolong kalian berdua mengikat janji sehidup semati saja.

Setengah jam kemudian, aku duduk tepat waktu di ruang ujian.

Setelah dua setengah jam mengisi ujian tanpa henti, akhirnya aku menyerahkan jawaban yang terasa seperti penutup dari tiga tahun perjuanganku.

Malam setelah ujian selesai, Ayah dan Ibu sengaja mengajakku makan enak.

Aku bilang pada mereka, aku mengerjakannya dengan sangat baik. Pasti bisa masuk ke Universitas Banduna.

Ibu senang sekali, bahkan suaranya ikut bergetar karena semangat.

“Nanti kamu sama Reno berangkat ke Banduna bareng, kan? Kalian bisa saling menjaga.”

Aku menggeleng pelan, tetap tenang.

“Aku sudah putus sama dia.”

Ekspresi Ayah dan Ibu langsung berubah. Mereka seperti kehilangan kata-kata.

Aku tertawa kecil dan menenangkan mereka.

“Apa yang kalian khawatirkan?”

“Mau putus atau nggak, Banduna tetap ada di sana. Nggak akan kemana-mana.”

Ayah dan Ibu pun ikut tertawa. Mereka lalu mengangkat gelas.

“Kalau begitu, semoga putri kita bersinar di Universitas Teknologi Banduna!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Penebusanku, Semoga Kau Senang   Bab 9

    Setelah kembali ke Beira, aku lulus pascasarjana dengan lancar dan masuk ke sebuah perusahaan teknologi kecil.Guru dan teman-teman tidak mengerti pilihanku.Tapi hanya aku yang tahu, dua tahun lagi, perusahaan ini akan meroket.Kalau bergabung sekarang, aku masih bisa mendapatkan bonus saham.Nanti saat perusahaan sudah melantai di bursa, aku akan langsung mencapai kebebasan finansial.Risiko rendah, untung besar.Kalau aku tidak terlahir kembali, kesempatan sebagus ini jelas tidak akan jatuh ke tanganku.Perusahaan sedang bertumbuh pesat, jadi pekerjaan juga menumpuk. Setiap hari aku sibuk mondar mandir.Saat telepon dari Gracella masuk, barulah aku sadar ternyata sudah satu tahun berlalu tanpa terasa.Dari seberang telepon, Gracella hampir tidak bisa menahan rasa menggebu-gebunya.“Cindy! Aku mau kasih kamu gosip super besar. Keluarga Xena bangkrut!”Jantungku sedikit bergetar.Sudah lama sekali dan aku kembali mendengar nama yang terasa begitu familiar itu.Gracella melanjutkan, “I

  • Penebusanku, Semoga Kau Senang   Bab 9

    Setelah kembali ke kampus, aku menjalani pendidikan pascasarjana dengan lancar.Dua tahun kemudian, aku berhasil menulis dua artikel riset.Di bawah bimbingan dosenku, kedua artikel itu berhasil terbit di jurnal bidangku.Ada perusahaan yang tertarik dengan penelitianku dan secara khusus mengundangku menjadi konsultan riset.Honor untuk satu proyeknya bahkan hampir sepuluh juta lebih.Aku pun mengumpulkan modal pertama dengan cepat.Kebetulan saat liburan aku pulang kampung, aku ikut Gracella menghadiri reuni teman sekolah.Beberapa tahun sudah berlalu dan aku kembali bertemu Reno.Hal yang paling mengejutkanku adalah dia terlihat jauh lebih tua.Rambutnya berantakan, kulitnya tidak lagi bersih dan cerah.Wajahnya kusam kehitaman dan kerutan mulai muncul di wajahnya.Orang-orang yang tidak tahu umur aslinya, kalau dibilang dia sudah umur tiga puluhan pun mereka pasti percaya.Yang lebih mencengangkan adalah salah satu kakinya terlihat pincang. Langkahnya oleng, tubuhnya tidak seimbang.

  • Penebusanku, Semoga Kau Senang   Bab 7

    Saat aku sudah menginjak tahun keempat kuliah, aku berhasil mendapatkan kuota jalur rekomendasi untuk pascasarjana.Aku melakukan riset di bawah bimbingan dosen yang sangat aku sukai.Karena jadwalku relatif longgar, aku menggunakan waktuku untuk dua hal. Menyiapkan rencana tesis untuk jenjang magister, sekaligus mengurus persiapan bisnis yang ingin aku bangun.Tak disangka, saat liburan pulang kampung, aku bertemu Reno di bawah apartemen kompleks.Sepertinya dia sudah menunggu cukup lama.Begitu melihatku, wajahnya terlihat sedikit berseri, seperti kaget sekaligus senang.Dia melangkah mendekat, menggosok telapak tangannya, lalu berkata dengan ragu-ragu, “Cindy, lama nggak bertemu. Gimana keadaanmu di Beira?”Aku mengangguk kecil, suaraku datar. “Lumayan.”Dia tersenyum canggung. “Oh iya, kamu mau lanjut S2 ya? Aku dengar sekarang masuk pascasarjana susah banget. Nggak gampang bisa keterima.”Aku menjawab dengan singkat, “Aku masuk jalur rekomendasi.”Dia terdiam sejenak. Sekilas mata

  • Penebusanku, Semoga Kau Senang   Bab 7

    Setelah masuk kuliah, aku akhirnya benar-benar melangkah melewati gerbang Universitas Teknologi Banduna.Dengan pengalaman dari kehidupan sebelumnya, kali ini aku jauh lebih paham bagaimana menyusun rencana selama kuliah.Aku nggak cuma menjaga nilai mata kuliah dan mempertahankan IPK terbaik di jurusan.Aku juga aktif ikut berbagai proyek riset di luar kelas, membangun relasi dengan para dosen pembimbing top, dan memperluas jaringan.Semua itu bukan hanya membuat jalanku di dunia akademik lebih mulus, tapi juga bisa menjadi pondasi kuat untuk rencana berwirausaha di masa depan.Di akhir semester, dengan mudah aku meraih peringkat pertama di jurusan, bahkan mendapatkan beasiswa riset.Namaku langsung dikenal di jurusan.Saat Tahun Baru, aku pulang ke kampung halaman. Gracella mengajakku jalan-jalan ke mall dan memberitahuku sebuah berita besar.Xena Leora hamil.Aku mengangkat alis, agak terkejut.Gracella memasang ekspresi seolah berkata pasti kamu juga tidak menyangka dan berkata den

  • Penebusanku, Semoga Kau Senang   Bab 6

    Sebulan berlalu, hari masuk perkuliahan sudah semakin dekat. Aku dan kedua orang tuaku sedang membereskan barang-barang di rumah.Tak disangka, Reno muncul di depan pintu.Dia melirik ke dalam, lalu berkata dengan pura-pura sopan, “Tante, saya teman sekelas Cindy. Katanya dia mau terbang ke Beira, saya cuma ingin bicara sebentar dengannya.”Ibu mengizinkannya. Lalu memanggilku keluar.Di lorong apartemen hanya ada kami berdua. Aku langsung berkata,“Kamu mau ngomong apa? Cepat katakan.”Reno mengerutkan kening, memperhatikan ekspresiku.Aku tidak nyaman ditatap seperti itu. Aku pun membuka pintu hendak masuk kembali.“Kalau kamu nggak ngomong, aku masuk ya ....”Dia buru-buru mengulurkan tangan, menahan pintu.“Cindy, kamu masih marah sama aku?”Aku menatapnya heran.Dia tersenyum dengan ekspresi sok mengerti. “Aku tahu kok kamu malu karena aku ninggalin kamu.”“Tapi siapa pun itu, aku pasti bakal milih Xena.”“Dia cantik, lembut, penurut. Aku bener-bener cinta mati sama dia.”Aku samp

  • Penebusanku, Semoga Kau Senang   Bab 5

    Wajah Reno tampak kesal. Dia tiba-tiba menghempaskan tangan ayahnya.“Cukup! Kalian ributin apa sih?!”“Xena itu gadis terpolos yang pernah aku kenal. Mana mungkin dia maksa aku?!”“Semua ini pilihanku sendiri. Bisa bersama Xena itu impianku. Terus kenapa kalau sampai mengorbankan ujian masuk perguruan tinggi?!”Ayah dan ibu Reno sampai pucat saking marahnya. Jari mereka gemetar saat menunjuknya.“Kamu … dasar anak durhaka!”“Kami membesarkanmu dengan susah payah, dan ini balasanmu?!”Ekspresi Reno dingin. Dengan suara datar dia berkata, “Kalau kalian memang nggak mau mengakuiku … kita bisa putus hubungan keluarga.”“Mulai sekarang, aku akan menganggap orang tua Xena sebagai orang tuaku sendiri. Aku cukup berbakti pada mereka.”Mendengar itu, ibu Xena langsung tertawa terbahak-bahak.“Kalian dua guru miskin sudah dengar kan? Reno mau ngakuin kami sebagai orang tuanya. Kalian mending pulang saja, cuci muka, terus tidur sana!”Xena pun memeluk Reno dengan manja.“Om, Tante … mulai sekara

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status