Share

Bab 2

Penulis: Farah
Keesokan paginya, begitu aku bangun, sahabatku Gracella langsung menelepon.

Suaranya terdengar luar biasa bersemangat.

“Cindy! Ini berita besar!”

“Kamu tahu nggak, kemarin Reno dan Xena nggak ikut ujian!”

“Katanya Reno pulang buat ambilin kartu peserta ujian Xena. Tapi pas balik ke gedung ujian, dia kena macet.”

“Akhirnya mereka berdua nggak sempat masuk ruang ujian. Bahkan sampai masuk berita lokal.”

Aku terdiam sejenak, lalu menjawab dengan tenang, “Aku tahu. Aku ada di tempat kejadian, kok.”

“Hah?!” Gracella terkejut. “Waktu itu kamu nggak coba cegah Reno?”

“Aku dengar wali kelas sampai marah besar saat tahu hal itu.”

“Dia kan berharap kamu sama Reno bisa tembus Banduna demi bikin dia bangga, sekarang kayaknya tinggal kamu sendiri.”

Gracella masih seperti gadis delapan belas tahun yang darah mudanya gampang meledak-ledak. Tapi aku sudah bukan Cindy yang delapan belas tahun itu lagi.

Kalau ini kehidupan sebelumnya, aku pasti sudah panik setengah mati cuma karena dengar kabar itu.

Namun di kehidupan ini, aku sudah tidak mau ikut campur urusan orang lain.

Aku menjawab dengan tenang, “Aku nggak cegah dia. Itu pilihannya sendiri. Konsekuensinya dia tanggung sendiri. Itu bukan urusanku.”

“Oh ya, waktu itu aku juga minta putus sama dia. Dan dia setuju.”

Di seberang telepon, Gracella terdengar sangat terkejut.

“Kalian putus?!”

“Iya.”

Dia lalu menarik napas dan menenangkan diri beberapa detik. “Baiklah, meski ini mendadak, tapi masuk akal juga.”

“Reno memang agak aneh. Itu kan ujian masuk perguruan tinggi, ya ampun … kok bisa-bisanya dia ngorbanin ujian demi Xena.”

“Aku ngerasa ada yang janggal. Tapi susah dijelasin.”

Aku menertawakan diriku sendiri dalam hati. Wajar kalau Gracella merasa janggal.

Masalahnya bukan Gracella yang kurang peka. Tapi Reno yang terlalu pandai menyembunyikan diri.

Bahkan di kehidupan sebelumnya, sebagai orang yang tidur seranjang dengannya, aku pun tak pernah menyadari perasaan sebenarnya yang dia simpan rapat-rapat.

Tapi itu sudah tidak penting lagi. Mulai sekarang, aku hanya peduli pada kemajuanku sendiri.

Mengenai Reno, aku justru ingin melihat, di kehidupan ini, apakah semuanya masih bisa berjalan semulus dulu untuknya.

Dalam acara reuni, Reno merangkul Xena dan masuk ke ruang karaoke.

Mereka duduk berdekatan di sofa dan sangat intim.

Semua orang langsung memasang ekspresi seperti sedang menonton pertunjukan seru. Mereka melirikku, lalu ke pasangan itu.

Seseorang lebih dulu bertanya, “Reno, aku dengar kamu sama Xena mau ngulang setahun ya?”

Reno mengangguk.

Xena tampak manis dan manja di pelukannya, lalu berkata dengan suara dibuat-buat lembut, “Saat ujian hari itu, Reno sendiri yang pulang buat ambilin kartu peserta ujianku.”

“Walaupun jadi telat ujian, tapi aku pun bisa lihat ketulusannya.”

“Kami sudah resmi pacaran kok. Setelah ngulang setahun, nanti kami juga bakal masuk universitas yang sama.”

“Kami sudah rencanain semuanya. Setelah lulus, kami akan menikah, terus punya sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan. Pokoknya kami bakal terus bahagia.”

Mendengar itu, Reno terlihat bangga.

“Sekolah bisa kapan saja,” katanya, sok dewasa. “Tapi kalau melewatkan cinta, nggak bakal kembali lagi.”

“Lagipula, nilaiku bagus. Tahun depan juga aku tetap bisa tembus Banduna.”

Xena tersipu, lalu dengan pelan mengangkat wajahnya dan mengecup bibir Reno.

“Aaaaaa!”

Sekejap, ruang itu dipenuhi jerit girang dari para cewek.

Di tengah riuh itu, Gracella diam-diam menoleh ke arahku, memperhatikan reaksiku.

Dia bicara dengan pelan dan hati-hati, “Cindy, kamu jangan terlalu sedih ya.”

“Reno dulu bilang suka sama kamu, tapi sekarang cepat banget berubah. Putus sama dia juga bagus.”

Aku menoleh padanya, lalu menepuk punggung tangannya pelan.

Aku menenangkannya dan berkata, “Tenang. Aku nggak sedih.”

Aku mengenal Reno sejak kelas dua SMA setelah pembagian jurusan.

Waktu itu, kami sama-sama masuk kelas unggulan IPA. Aku peringkat satu, dia peringkat dua.

Guru sengaja memindahkan posisi duduk kami supaya kami bisa saling membantu dalam belajar.

Lama-kelamaan, aku dan Reno semakin akrab, sampai rasanya nggak ada hal yang nggak bisa dibicarakan.

Bahkan saat jam istirahat, kami sering berdiskusi tentang soal-soal latihan bersama. Sampai beberapa anak laki-laki di kelas selalu bersiul menggoda dengan senyum jail.

Setiap kali begitu, biasanya telinga Reno memerah, lalu dia minta maaf padaku.

Dan aku hanya menunduk, bahkan nggak berani menatap matanya.

Sampai suatu hari sepulang sekolah, dia menyatakan perasaannya padaku.

Waktu itu dia tinggi, kurus, kulitnya putih, nilai bagus, dan termasuk bibit unggulan yang berpotensi tembus ke Universitas Teknologi Banduna.

Aku sungguh mengira aku adalah tokoh utama dalam kisah cinta masa sekolah, bertemu dengan laki-laki yang menjadi takdirku.

Tapi siapa sangka, semua itu berhenti sepuluh tahun kemudian, pada saat malam hujan turun yang menghabisi nyawaku.

Melihatku terdiam, Gracella kembali bicara, mencoba menghiburku, “Reno itu cuma modal tampang doang. Aslinya dia buaya darat sampah.”

“Xena juga sama saja. Tiap hari di sekolah manggil cowok-cowok ‘kakak’, akrab sama banyak anak berandalan.”

“Kalau bukan karena keluarganya punya uang, dari dulu juga sudah kena peringatan keras sama sekolah.”

“Aku rasa mereka berdua juga nggak bakal langgeng.”

Aku tersenyum kecil, lalu memeluk Gracella.

“Tenang saja, sahabatku. Aku benar-benar nggak peduli lagi sama mereka.”

“Melihat mereka berdua pacaran aku malah senang. Semoga saja mereka beneran sehidup semati.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Penebusanku, Semoga Kau Senang   Bab 9

    Setelah kembali ke Beira, aku lulus pascasarjana dengan lancar dan masuk ke sebuah perusahaan teknologi kecil.Guru dan teman-teman tidak mengerti pilihanku.Tapi hanya aku yang tahu, dua tahun lagi, perusahaan ini akan meroket.Kalau bergabung sekarang, aku masih bisa mendapatkan bonus saham.Nanti saat perusahaan sudah melantai di bursa, aku akan langsung mencapai kebebasan finansial.Risiko rendah, untung besar.Kalau aku tidak terlahir kembali, kesempatan sebagus ini jelas tidak akan jatuh ke tanganku.Perusahaan sedang bertumbuh pesat, jadi pekerjaan juga menumpuk. Setiap hari aku sibuk mondar mandir.Saat telepon dari Gracella masuk, barulah aku sadar ternyata sudah satu tahun berlalu tanpa terasa.Dari seberang telepon, Gracella hampir tidak bisa menahan rasa menggebu-gebunya.“Cindy! Aku mau kasih kamu gosip super besar. Keluarga Xena bangkrut!”Jantungku sedikit bergetar.Sudah lama sekali dan aku kembali mendengar nama yang terasa begitu familiar itu.Gracella melanjutkan, “I

  • Penebusanku, Semoga Kau Senang   Bab 9

    Setelah kembali ke kampus, aku menjalani pendidikan pascasarjana dengan lancar.Dua tahun kemudian, aku berhasil menulis dua artikel riset.Di bawah bimbingan dosenku, kedua artikel itu berhasil terbit di jurnal bidangku.Ada perusahaan yang tertarik dengan penelitianku dan secara khusus mengundangku menjadi konsultan riset.Honor untuk satu proyeknya bahkan hampir sepuluh juta lebih.Aku pun mengumpulkan modal pertama dengan cepat.Kebetulan saat liburan aku pulang kampung, aku ikut Gracella menghadiri reuni teman sekolah.Beberapa tahun sudah berlalu dan aku kembali bertemu Reno.Hal yang paling mengejutkanku adalah dia terlihat jauh lebih tua.Rambutnya berantakan, kulitnya tidak lagi bersih dan cerah.Wajahnya kusam kehitaman dan kerutan mulai muncul di wajahnya.Orang-orang yang tidak tahu umur aslinya, kalau dibilang dia sudah umur tiga puluhan pun mereka pasti percaya.Yang lebih mencengangkan adalah salah satu kakinya terlihat pincang. Langkahnya oleng, tubuhnya tidak seimbang.

  • Penebusanku, Semoga Kau Senang   Bab 7

    Saat aku sudah menginjak tahun keempat kuliah, aku berhasil mendapatkan kuota jalur rekomendasi untuk pascasarjana.Aku melakukan riset di bawah bimbingan dosen yang sangat aku sukai.Karena jadwalku relatif longgar, aku menggunakan waktuku untuk dua hal. Menyiapkan rencana tesis untuk jenjang magister, sekaligus mengurus persiapan bisnis yang ingin aku bangun.Tak disangka, saat liburan pulang kampung, aku bertemu Reno di bawah apartemen kompleks.Sepertinya dia sudah menunggu cukup lama.Begitu melihatku, wajahnya terlihat sedikit berseri, seperti kaget sekaligus senang.Dia melangkah mendekat, menggosok telapak tangannya, lalu berkata dengan ragu-ragu, “Cindy, lama nggak bertemu. Gimana keadaanmu di Beira?”Aku mengangguk kecil, suaraku datar. “Lumayan.”Dia tersenyum canggung. “Oh iya, kamu mau lanjut S2 ya? Aku dengar sekarang masuk pascasarjana susah banget. Nggak gampang bisa keterima.”Aku menjawab dengan singkat, “Aku masuk jalur rekomendasi.”Dia terdiam sejenak. Sekilas mata

  • Penebusanku, Semoga Kau Senang   Bab 7

    Setelah masuk kuliah, aku akhirnya benar-benar melangkah melewati gerbang Universitas Teknologi Banduna.Dengan pengalaman dari kehidupan sebelumnya, kali ini aku jauh lebih paham bagaimana menyusun rencana selama kuliah.Aku nggak cuma menjaga nilai mata kuliah dan mempertahankan IPK terbaik di jurusan.Aku juga aktif ikut berbagai proyek riset di luar kelas, membangun relasi dengan para dosen pembimbing top, dan memperluas jaringan.Semua itu bukan hanya membuat jalanku di dunia akademik lebih mulus, tapi juga bisa menjadi pondasi kuat untuk rencana berwirausaha di masa depan.Di akhir semester, dengan mudah aku meraih peringkat pertama di jurusan, bahkan mendapatkan beasiswa riset.Namaku langsung dikenal di jurusan.Saat Tahun Baru, aku pulang ke kampung halaman. Gracella mengajakku jalan-jalan ke mall dan memberitahuku sebuah berita besar.Xena Leora hamil.Aku mengangkat alis, agak terkejut.Gracella memasang ekspresi seolah berkata pasti kamu juga tidak menyangka dan berkata den

  • Penebusanku, Semoga Kau Senang   Bab 6

    Sebulan berlalu, hari masuk perkuliahan sudah semakin dekat. Aku dan kedua orang tuaku sedang membereskan barang-barang di rumah.Tak disangka, Reno muncul di depan pintu.Dia melirik ke dalam, lalu berkata dengan pura-pura sopan, “Tante, saya teman sekelas Cindy. Katanya dia mau terbang ke Beira, saya cuma ingin bicara sebentar dengannya.”Ibu mengizinkannya. Lalu memanggilku keluar.Di lorong apartemen hanya ada kami berdua. Aku langsung berkata,“Kamu mau ngomong apa? Cepat katakan.”Reno mengerutkan kening, memperhatikan ekspresiku.Aku tidak nyaman ditatap seperti itu. Aku pun membuka pintu hendak masuk kembali.“Kalau kamu nggak ngomong, aku masuk ya ....”Dia buru-buru mengulurkan tangan, menahan pintu.“Cindy, kamu masih marah sama aku?”Aku menatapnya heran.Dia tersenyum dengan ekspresi sok mengerti. “Aku tahu kok kamu malu karena aku ninggalin kamu.”“Tapi siapa pun itu, aku pasti bakal milih Xena.”“Dia cantik, lembut, penurut. Aku bener-bener cinta mati sama dia.”Aku samp

  • Penebusanku, Semoga Kau Senang   Bab 5

    Wajah Reno tampak kesal. Dia tiba-tiba menghempaskan tangan ayahnya.“Cukup! Kalian ributin apa sih?!”“Xena itu gadis terpolos yang pernah aku kenal. Mana mungkin dia maksa aku?!”“Semua ini pilihanku sendiri. Bisa bersama Xena itu impianku. Terus kenapa kalau sampai mengorbankan ujian masuk perguruan tinggi?!”Ayah dan ibu Reno sampai pucat saking marahnya. Jari mereka gemetar saat menunjuknya.“Kamu … dasar anak durhaka!”“Kami membesarkanmu dengan susah payah, dan ini balasanmu?!”Ekspresi Reno dingin. Dengan suara datar dia berkata, “Kalau kalian memang nggak mau mengakuiku … kita bisa putus hubungan keluarga.”“Mulai sekarang, aku akan menganggap orang tua Xena sebagai orang tuaku sendiri. Aku cukup berbakti pada mereka.”Mendengar itu, ibu Xena langsung tertawa terbahak-bahak.“Kalian dua guru miskin sudah dengar kan? Reno mau ngakuin kami sebagai orang tuanya. Kalian mending pulang saja, cuci muka, terus tidur sana!”Xena pun memeluk Reno dengan manja.“Om, Tante … mulai sekara

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status