Dinda mengenakan gaun putih, berdiri tak jauh darinya. Dia terlihat lembut dan rapuh, seolah tak bertulang.Bukan Risa.Namun sebelum Niko sempat bereaksi, Dinda sudah lebih dulu menerjang ke arahnya. Niko memandang sosok putih yang menubruk ke dalam pelukannya. Tubuh Niko menegang sesaat, nyaris tak kentara. Dengan tenang Niko mendorong Dinda menjauh, kemudian berbicara dengan suara dingin untuk memberi jarak yang pas, “Kenapa kamu ada di sini?”Dinda mendongak. Di matanya berkilau cahaya penuh harap. “Aku tanya jadwal penerbanganmu ke asistenmu, dan datang khusus untuk menjemputmu.”Dinda menggigit bibir, memasang wajah terluka. “Kak Niko, kamu tidak mengharapkan aku?”“Bukan.” Niko mengangkat tangan, merapikan mantel, menghindari tangan yang hendak meraih lengannya. “Hanya saja anginnya kencang. Tubuhmu lemah, jangan sampai masuk angin.”“Selama ini, saat aku di luar negeri berkat tim medis yang kamu carikan, kondisiku sudah jauh membaik.” Dinda berputar kecil, ujung gaun putihnya
Read more