Kalimat itu membuat hidung Risa terasa perih. Dulu, setiap kali ia bertengkar dengan ayahnya lalu kabur dari rumah, Niko selalu menyetir berkeliling kota mencarinya, lalu menggendongnya pulang.“Bikin ulah apa lagi?” Kalimat Niko waktu itu pun selalu sama.Risa bersandar di punggungnya, menghirup aroma cedar yang dingin dan bersih dari tubuh Niko. Dengan polosnya, Risa mengira mungkin, hanya mungkin, pria itu juga sedikit menyukainya.Sekarang kalau dipikir-pikir, tidak ada yang lebih bajingan daripada Niko. Jelas-jelas tidak menyukai Risa, tapi tetap ingin bersama Risa. Bahkan setelah semua ini, dia masih bisa kembali ke ruang kerja, menatap foto Dinda dengan tatapan penuh rasa sayang.Risa tidak mengerti, sebenarnya apa yang membuatnya kalah dari Dinda. Soal latar belakang keluarga, wajah, atau tubuh, bagian mana darinya yang kalah? Niko bisa menyukai siapa saja, tapi kenapa Dinda? Kenapa harus Dinda?!“Lepaskan!” Dengan mata memerah, Risa menggigit tangan Niko sekuat tenaga.Pria it
Read More