Short
Dia Tertidur Dalam Malam Abadi

Dia Tertidur Dalam Malam Abadi

By:  MonaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
22Chapters
2views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Risa Melia dikenal luas di kalangan elite sebagai "peri kecil". Dia punya bibir merah yang melengkung tipis dan sudut mata yang menggoda. Niko Sutomo adalah pewaris paling cemerlang dari keluarga konglomerat. Dia dingin, sulit didekati, laksana bunga di puncak gunung salju, penuh pengendalian diri dan tahan pada hasrat. Tak seorang pun tahu bahwa dua pribadi yang begitu bertolak belakang ini, di antara gelapnya malam, saling menjerat dalam keintiman. Di kursi belakang mobil yang melaju senyap, di toilet jamuan amal yang sunyi, hingga di depan jendela kaca setinggi langit-langit di kebun anggur pribadi, pinggang Risa dicengkeram erat hingga kakinya melemas. Satu malam panas telah usai, suara air mengalir terdengar lirih dari kamar mandi. Risa bersandar di kepala ranjang, menghubungi ayahnya. “Aku bisa menikah dengan Putra Mahkota Kota Selatan yang katanya sekarat itu untuk menolak bala. Tapi aku punya satu syarat .…” Di seberang sana, kegembiraan ayahnya tak bisa disembunyikan. “Katakan syaratnya. Asal kau mau menikah, apa pun syaratmu akan Ayah penuhi.” “Nanti kita bicarakan saat aku pulang.” Suara Risa terdengar lembut, namun sorot matanya dingin tanpa emosi. Risa menutup telepon dan hendak bangkit untuk berpakaian, sekilas pandangannya jatuh pada laptop Niko di samping ranjang. Layar yang menampilkan aplikasi pesan masih menyala di sana. Pesan terbaru datang dari seorang gadis dengan nama kontak "Dinda". [Kak Niko, ada petir, aku takut ….] Ujung jari Risa bergetar. Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, Niko keluar dari sana. Tetesan air meluncur dari tulang selangkanya, dua kancing kemejanya terbuka sembarang, tampak dingin dan tenang, terselip sedikit kesan santai dan malas yang memikat. “Ada urusan di perusahaan. Aku pergi dulu,” katanya datar sambil meraih jas. Bibir merah Risa terangkat membentuk senyum tipis. “Urusan perusahaan, atau kamu mau menemui belahan jiwamu?”

View More

Chapter 1

Bab 1

“Apa?” tanya Niko karena tidak mendengar dengan jelas.

“Tidak apa-apa,” jawab Risa sambil turun dari ranjang dengan kaki telanjang, telapak kaki putihnya menginjak karpet yang lembut.

Sorot mata pria itu menggelap samar. Ibu jarinya mengusap bibir Risa yang masih merah dan bengkak. “Jadilah anak manis. Jangan bikin masalah.”

Begitu pintu tertutup, senyum di wajah Risa seketika lenyap. Ia memanggil taksi dan menyuruh sopir mengikuti mobil Niko.

Tiga puluh menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah hotel. Dari balik tirai hujan, Risa melihat Dinda berlari keluar dari pintu hotel dengan mengenakan gaun putih. Niko melangkah cepat menghampiri, melepas jasnya lalu menyampirkannya ke pundak gadis itu, kemudian mengangkatnya dengan satu gerakan untuk menggendongnya.

“Di luar dingin. Kenapa keluar tanpa pakai mantel, hm?”

Gerakannya begitu terampil, seolah telah dilakukan ratusan, bahkan ribuan kali. Tangan Risa mencengkeram gagang pintu mobil erat-erat, kuku-kukunya menancap dalam ke telapak tangan. Ia menatap punggung Niko yang sedang berhati-hati membawa Dinda masuk ke hotel. Entah kenapa, bayangan itu tiba-tiba menyeretnya kembali ke saat pertama kali Risa bertemu pria itu.

Waktu itu hubungannya dengan ayahnya sedang memburuk. Setelah lagi-lagi memecahkan amarah ayahnya, Risa dikirim ke tempat putra sahabat ayahnya. Katanya untuk memperbaiki sifat manja sang nona besar.

Saat pertemuan pertama, Niko sedang duduk di lantai atas kantor Grup Sutomo. Tatapannya di balik kacamata berbingkai emas itu dingin seperti es. Tentu saja Risa tak ingin tinggal di sana. Maka Risa sengaja membuat onar.

Hari pertama bekerja, Risa menumpahkan kopi ke setelan jas mahal milik Niko. Niko hanya meliriknya sekilas, seraya berkata, “Kasmir impor dari Negara Iris. Catat untuk tagihan ke rekening Keluarga Melia.”

Hari kedua, Risa dengan sengaja memasukkan dokumen rapat ke mesin penghancur kertas. Wajah Niko tetap tenang. Ia dengan lancar mengucapkan ulang seluruh isi rapat menurut ingatannya, membuat para eksekutif senior di ruangan itu terperangah.

Hari ketiga, Risa mencampurkan obat bius ke dalam kopi Niko dan menyiapkan kamera, berniat merekam aib Niko untuk bahan mengancam. Namun hasilnya justru berbalik, Risa sendiri malah menjadi penawar.

Keesokan paginya, sekujur tubuh Risa terasa pegal. Risa begitu marah hingga ingin membunuh seseorang, tapi Niko menekan tubuhnya di jendela kaca besar.

“Riri,” bisik Niko sambil menggigit lembut cuping telinga Risa, suaranya serak. “Jadilah anak manis.”

Hanya satu panggilan "Riri" itu saja, sudah cukup membuat Risa runtuh sepenuhnya. Sejak ibunya meninggal, sudah lama tak ada yang memanggilnya seperti itu. Sejak hari itu, hubungan mereka berubah total. Setiap kali Risa membuat ulah, Niko akan langsung membawanya masuk ke kantor. Orang lain mengira Risa sedang dihukum, padahal sebenarnya ia ditekan di atas meja kerja untuk menerima "pelajaran".

Perlahan, Risa menyadari dirinya mulai ketagihan. Apakah karena Niko terlalu hebat dalam urusan itu? Atau karena Risa terlalu kesepian? Risa sendiri tidak tahu. Yang Risa tahu, dia sudah jatuh terlalu dalam.

Maka pada hari ulang tahun Niko, Risa menghabiskan seharian penuh menata vila. Mawar, cahaya lilin, musik yang lembut, bahkan cincin lamaran pun telah ia siapkan. Namun Risa menunggu semalaman. Hingga lilin-lilin padam satu per satu, kelopak mawar layu dan gugur ke lantai, Niko tetap tidak datang. Sampai pukul tiga dini hari, ponsel Risa tiba-tiba bergetar. Sebuah notifikasi berita muncul di layar.

[Seorang Bos Konglomerat Menjemput Cinta Pertamanya di Tengah Malam]

Di foto itu, Niko tampak melindungi seorang gadis bergaun putih dengan hati-hati saat membantunya masuk ke mobil. Tatapannya begitu lembut, menusuk mata siapa pun yang melihatnya.

Di kolom komentar langsung meledak.

[Aaa, pasangan bos besar dan gadis polos. Aku sangat mendukung!]

[Gila! Bukannya itu Pak Niko dan Dinda Kencana si primadona? Dulu mereka kan pasangan emas di sekolah!]

[Aku alumni di sekolah yang sama, aku bersaksi, Pak Niko dingin ke semua orang, hanya ke Dinda dia pernah tersenyum! Kalau saja Dinda nggak sakit dan harus ke luar negeri, mereka pasti sudah menikah!]

Ponsel itu terlepas dari genggaman Risa, jatuh ke lantai dengan bunyi "tak". Ia tak berani memercayai apa yang dilihatnya. Jika di hati Niko sudah lama ada orang lain, lalu dirinya ini apa? Sekadar pasangan di ranjang yang bisa dipanggil kapan saja?

Dengan tangan gemetar, Risa menelepon Niko, ingin mendengar satu jawaban darinya. Namun panggilan itu tak pernah tersambung. Setelah panggilan terputus, Risa menurunkan ponselnya. Ia melangkah menuju ruang kerja, ruangan yang selama ini tidak boleh Risa masuki. Saat pintu terbuka, Risa seolah tersambar petir. Dinding ruangan itu dipenuhi foto Dinda. Foto wisuda, foto liburan, bahkan ada foto Dinda sedang tidur, yang jelas diambil secara diam-diam.

Niko yang selalu dingin dan tenang, ternyata bisa melakukan hal seperti ini. Apakah Risa masih membutuhkan jawaban, rasanya itu sudah tidak penting lagi.

Risa tiba-tiba tertawa. Tawanya menggema di ruangan kosong itu, terdengar begitu nyaring dan menyakitkan. Namun sambil tertawa, air mata yang terasa panas mengalir deras, jatuh dari garis rahangnya yang indah dan menghantam lantai kayu. Dengan mata memerah, ia menghancurkan seluruh vila itu.

Keesokan harinya, saat Niko pulang, ia melihat vila yang porak-poranda. Niko dengan tenang memerintahkan orang untuk membersihkannya. Ia bahkan tak melirik Risa sekali pun, seolah apa yang Risa lakukan adalah hal yang sepenuhnya wajar.

Risa menatap tanpa daya saat para pelayan menyapu cincin lamaran yang ia persiapkan dengan sepenuh hati. Kini benda itu diperlakukan seperti sampah. Niko tak tahu apa yang ada di dalam kotak itu. Tak tahu bahwa Risa pernah ingin menghabiskan sisa hidup bersamanya. Dan terlebih lagi, tak tahu bahwa pada detik cincin itu masuk ke tempat sampah, Risa memutuskan untuk berhenti mencintainya.

“Nona Risa, Anda mau ke mana?” Suara sopir membuyarkan lamunan Risa.

“Pulang.” Risa membuka mata, dan nada bicaranya sedingin es. “Pulang ke Keluarga Melia.”

Begitu tiba di vila Keluarga Melia, ayahnya sangat menyambut Risa. “Riri, apa kamu benar-benar bersedia menikah dan pergi ke Kota Selatan?”

Di tangga, ibu tirinya juga menatap Risa dengan penuh harap.

“Iya.” Sorot mata Risa menajam. “Tapi bukankah aku juga bilang, aku punya satu syarat?”

“Syarat apa? Cepat katakan!”

“Aku ingin ….” Risa menggantung kalimatnya, “Memutuskan hubungan ayah dan anak denganmu.”

Udara seketika membeku. Wajah ayah Risa berubah drastis. “Kamu sudah gila! Kamu sadar dengan apa yang kamu katakan?”

“Tidak pernah sesadar ini.” Nada bicara Risa sedingin es.

“Kamu berselingkuh. Demi memberi tempat pada perempuan itu, kamu sampai membuat ibuku melompat dari gedung. Sejak hari itu, aku tidak pernah ingin mengakui kamu sebagai ayahku.”

Risa menatap wajah ayahnya yang mulai membiru. “Sekarang keluarga dari Tuan Muda di Kota Selatan yang hampir mati itu menawarkan hadiah 100 triliun untuk mencari pengantin penolak bala. Kamu terus memintaku menikah selama tiga bulan. Kalau aku tidak mau, apakah kamu berniat menyeretku ke sana dengan paksa?”

“Jadi, apa bedanya putus atau tidak putus hubungan?” ucap Risa dengan bibir yang terangkat mengejek.

“Sekalian saja kamu bawa pulang anak perempuan dari simpananmu itu, dan jadikan dia Nona Besar Keluarga Melia.”

Ayah Risa gemetar karena marah. “Baik! Kalau mau putus hubungan ya sudah! Tapi Tuan Muda di Kota Selatan itu kabarnya tidak akan bertahan sampai akhir bulan. Kamu harus menikah sebelum bulan ini berakhir!”

Ayah Risa mencibir dingin. “Anak perempuan Tika, dua hari lalu sudah pulang dari luar negeri dan tinggal di hotel. Karena kamu sudah rela mengalah, besok dia akan pindah ke sini!”

Risa tertawa pelan. Dadanya terasa perih hingga bergetar. “Begitu bersemangat merawat anak orang lain, tapi tidak punya sedikit pun cinta untuk anak kandung. Ayah memang luar biasa.”

Risa berbalik hendak pergi, namun ibu tirinya, Tika Kencana, berpura-pura menahannya sambil berkata lembut, “Riri, mana boleh bicara seperti itu pada ayahmu.”

Langkah Risa mendadak terhenti. Dengan perlahan, ia berbalik. Di matanya bergejolak kebencian yang telah ditahan selama bertahun-tahun. “Apa? Kamu pikir begitu aku menikah dan pergi dari rumah ini, kamu bisa dengan bebas berlagak sebagai istri sah?”

Risa melangkah mendekat, setiap langkahnya menekankan kalimatnya. “Tika, dengar baik-baik! Ibuku memang sudah mati, tapi itu tidak akan mengubah fakta bahwa kamu hanyalah selingkuhan yang hina! Dan putri kesayanganmu itu, meski kelak jadi Nona Besar Keluarga Melia, tetap tidak akan bisa menghapus noda bahwa ibunya adalah wanita simpanan!”

Wajah Tika seketika pucat pasi. Ia terhuyung mundur dua langkah. Risa langsung berbalik pergi. Setiap langkahnya terasa seperti menginjak mata pisau. Baru setelah kembali ke kamar dan menutup pintu, sekujur tubuhnya seolah kehilangan seluruh tenaga. Ia merosot ke lantai, menyembunyikan wajah di antara lututnya.

Keesokan paginya, suara gaduh dan tawa terdengar dari lantai bawah, itu bunyi barang-barang dipindahkan.

“Ada apa ini?” tanya Risa sambil mendorong pintu kamar dengan kesal. “Orang mau tidur saja tidak boleh, ya?”

Kepala pelayan tergagap, “Nona Risa … Nona Kedua sudah pindah ke sini .…”

Belum sempat kalimat itu selesai, sebuah sosok yang amat dikenalnya muncul di ujung tangga. Dinda, mengenakan gaun putih, berdiri di sana dengan sikap lembut dan rapuh. Darah Risa seketika membeku!
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
22 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status