“Melani!”Setelah kembali ke markas, Melani segera memberikan obat penurun panas pada Bagas. Perlahan, kondisi pria itu mulai membaik.Saat Melani memasang infus, Bagas membuka mata, tampak lemah.Pria itu menggenggam pergelangan tangan Melani.Melani benar-benar tak berdaya.Sebenarnya, dia ingin orang lain saja yang merawat Bagas. Namun, setiap kali orang lain menyuapinya obat, pria itu selalu menolak, tak mau minum.Pimpinan tim pun tak punya pilihan lain selain memintanya berkorban demi donasi sepuluh miliar itu.Melani membuka paksa jemari Bagas dengan geram. Untungnya, pria itu dalam kondisi yang lemah, sama sekali bukan tandingannya. Dia bahkan membungkus tubuh Bagas dengan seprai, membuat pria itu tak bisa bergerak.Bagas langsung memalingkan wajah, menolak minum obat sebagai bentuk protes.“Seorang CEO sekelas Pak Bagas juga bisa bersikap kekanak-kanakan?”Tak tahan lagi, Melani membuang obat itu ke samping.“Terserah mau minum atau nggak!”Bagaimanapun juga, Bagas sudah dipas
Read more