Short
Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang

Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang

By:  AuroraCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
25Chapters
11views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Empat tahun menikah, suamiku tak pernah sekali pun menemaniku ke tempat kencan yang sedang viral. Katanya aku norak, suka ikut-ikutan tren. Namun begitu cinta pertamanya pulang ke tanah air, dia justru tak sabar mengajak wanita itu mendaki gunung yang konon dipercaya bisa membuat pasangan bertahan hingga tua. Aku pun memutuskan untuk bercerai, lalu pergi menjalankan misi bantuan ke Lunaria. Namun, mantan suamiku justru mengejarku hingga ke sana. Di tengah reruntuhan, dia menangis sambil menggali tanah, mencari jasadku ....

View More

Chapter 1

Bab 1

“Pak, aku mau mengajukan permohonan cerai.”

Musim gugur tahun 1983. Setelah empat tahun menikah, Melani Kusuma akhirnya memutuskan untuk menutup lembaran pernikahannya.

Namun, petugas di hadapannya tampak mengira dia hanya bercanda.

“Mbak, cerai itu bukan cuma urusan sepihak,” ucapnya dengan nada serius.

Melani mengerti mengapa petugas tak menganggapnya serius.

Bagaimanapun, dia baru saja pulang dari kampus, masih mengenakan tas ransel dan sepatu kain. Penampilannya sama sekali tak terlihat seperti seorang perempuan yang sudah menikah.

Namun sebelum datang ke sini, dia sudah menyiapkan semuanya dengan matang.

“Tolong beri stempel pada surat permohonan cerai ini. Aku akan minta suamiku menandatanganinya,” kata Melani dengan tenang.

Dia dan Bagas tak memiliki anak. Dia juga tak menginginkan harta sedikit pun. Bahkan surat permohonannya pun dibuat sederhana, hanya dua halaman.

Rumah kecil dua lantai milik Keluarga Rahardian berdiri mencolok di sudut jalan. Begitu Melani melangkah masuk, bau menyengat langsung menyerbu indra penciumannya.

Dia menoleh mengikuti sumber bau itu.

Vania Rahayu dan Bagas ternyata sedang menyantap makanan lokal, tahu busuk.

Entah apa yang mereka bicarakan, tawa keduanya terdengar begitu lepas hingga tubuh mereka hampir saling bersandar.

Begitu menyadari kehadiran Melani, ekspresi Bagas seketika berubah. Dia kembali bersikap kaku dan formal.

“Mel, aku nggak tahu kalau kamu pulang, jadi cuma beli dua porsi. Kamu mau makan apa? Nanti aku belikan.”

“Nggak usah. Aku sudah makan tadi di kampus.”

Pandangan Melani sempat jatuh pada semangkuk mie beraroma tajam, lalu menunduk perlahan.

Selama bertahun-tahun, dia tak pernah berani menyentuh makanan berbau tajam, hanya karena Bagas pernah berkata tidak suka mencium bau tajam di rumah.

Melani mengeluarkan surat permohonan cerai dari tasnya dan menyodorkan sebuah bolpoin pada Bagas.

“Ada surat tanggung jawab keselamatan dari universitas yang harus ditandatangani wali keluarga. Tolong tanda tangani.”

Melani adalah seorang yatim piatu. Sebagai suaminya, Bagas memang satu-satunya keluarga yang tersisa baginya.

“Sini, biar kulihat dulu,” ucap Bagas sambil sedikit mengernyit dan mengulurkan tangan.

Melani tak menyangka Bagas akan memeriksanya dengan seksama.

Selama ini, pria itu tak pernah benar-benar memedulikannya. Terlebih sejak sebulan lalu, setelah Vania bercerai dan kembali ke tanah air. Perhatian Bagas padanya semakin menipis.

Melani menggenggam erat surat di tangannya. Tubuhnya menegang, ragu apakah ini saat yang tepat untuk menyerahkannya.

“Bagas? Kamu kenapa, sih?” sahut Vania dengan bibir merah merona. Dia menepuk pelan Bagas sambil menggoda, “Kamu serius banget di depan Melani, seperti mau menerkamnya saja. Lihat tuh, Melani jadi takut.”

“Eh, benaran?”

Kerutan di dahi Bagas langsung mengendur. Sorot matanya berubah hangat, disertai senyum tipis. Dia menerima berkas itu dari tangan Melani, lalu dengan satu gerakan menandatanganinya dengan rapi dan tegas di bagian yang ditunjuk.

Melani menghela napas lega.

Namun sesaat kemudian, rasa pahit perlahan menyusup di hatinya.

Bagas selalu bersikap hati-hati dan kaku di hadapannya. Begitu Vania ada di sisinya, semua kekakuan itu seolah lenyap, membuatnya terlihat begitu santai.

Padahal, dia hanya perlu memperhatikan sedikit lebih saksama untuk menyadari bahwa berkas itu bukanlah surat tanggung jawab keselamatan, melainkan surat permohonan cerai.

Namun Bagas justru sibuk menanggapi candaan Vania.

“Bagiku, Melani tetap kuanggap sebagai adik. Sebagai kakak, wajar kalau aku bersikap lebih tegas padanya,” ucapnya

Dianggap sebagai adik?

Gerakan Melani terhenti sejenak.

Dia teringat setiap malam ketika Bagas menindihnya, memeluknya erat hingga napasnya terengah. Ucapannya sama sekali bukan seperti itu.

Kedua orang tua Melani telah lama meninggal.

Setelah mengetahui kondisi keluarganya, Prof Rahardian, dosen yang paling dia hormati, kerap memintanya datang ke rumah dengan alasan membantu merapikan data penelitian, lalu mengajaknya makan bersama.

Dari pertemuan yang berulang itulah, Melani perlahan mengenal anak Prof Rahardian, Bagas.

Prof Rahardian adalah tokoh besar di dunia medis. Namun anak semata wayangnya justru tak memilih dunia medis.

Setelah lulus kuliah, Bagas mendirikan perusahaan majalah.

Belum genap berusia tiga puluh tahun, dia telah menjadi pemuda berprestasi yang kerap mendapat perhatian dari kalangan berpengaruh.

Wajah rupawan dan aura kekayaan yang melekat padanya membuat Bagas menjadi idaman banyak gadis muda. Melani pun tak terkecuali.

Sejak beberapa kali berinteraksi dengannya, hatinya mulai berdebar tanpa kendali.

Namun Melani sadar betul akan perbedaan status di antara mereka. Kekagumannya hanya dia simpan sendiri.

Bahkan saat duduk satu meja makan dengannya, Melani tak berani menatapnya terlalu lama.

Hingga empat tahun lalu.

Saat Prof Rahardian dan istrinya pergi dinas ke luar kota. Mereka meminta Melani datang ke rumah untuk mengantarkan sebuah dokumen.

Malam itu, ketika Melani hendak pergi, Bagas yang mabuk berat tiba-tiba masuk dan terhuyung ke pelukannya.

Segalanya terjadi terlalu mendadak. Melani setengah menolak, setengah pasrah, hingga akhirnya mereka terjerat di atas ranjang.

Dalam kekalutan itu, Bagas meninggalkan bekas gigitan di bahunya.

Dengan suara yang masih bercampur aroma alkohol, pria itu meluapkan kekesalannya, penuh rasa tak terima.

“Jelas-jelas kamu tahu aku menyukaimu!”

Belakangan, Melani baru mengetahui bahwa pada hari yang sama, Vania telah menikah kilat dengan seorang pria asing.

Namun saat itu, dia sama sekali tak mengetahui keberadaan Vania.

Dalam ketidaktahuannya, Melani justru diliputi kebahagiaan. Dia mengira cinta yang selama ini dipendam akhirnya terbalas. Dalam gelap, dia menyerahkan dirinya sepenuhnya, tanpa keraguan.

Keesokan harinya, istri Prof Rahardian pulang dan memergoki perbuatan tak pantas mereka.

Melihat kejadian itu, wanita itu langsung memaksa Bagas bertanggung jawab.

Begitu Melani cukup umur secara hukum, mereka pun segera menikah.

Empat tahun berlalu.

Karena Bagas sibuk bekerja sementara Melani tinggal di asrama, mereka jarang bertemu.

Sikap dingin Bagas selalu Melani anggap sebagai watak, bukan penolakan.

Dia mencurahkan segalanya, tanpa pernah menuntut balasan.

Sebulan lalu, Melani menggunakan uang beasiswanya untuk memesan restoran mewah di Jalan Cendrawasih demi merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang keempat, sekaligus ulang tahunnya yang ke dua puluh empat.

Demi hari itu, dia membuat janji sejak setengah bulan sebelumnya, berkali-kali mengonfirmasi melalui sekretaris Bagas.

Bagas pun berjanji akan datang.

Namun malam itu, Melani menunggu hingga restoran tutup. Bagas tak pernah muncul.

Setelah diminta pulang oleh pelayan, Melani mendengar orang-orang membicarakan kecelakaan lalu lintas di sekitar sana.

Jantungnya langsung mencelos.

Dalam waktu dua jam, dia mendatangi semua rumah sakit terdekat, tapi tak menemukan Bagas.

Hingga akhirnya, dia menghubungi Hendri Wibowo, salah satu dari sedikit orang di sisi Bagas yang mengetahui hubungan mereka.

“Bagas nggak bilang ke kamu? Hari ini Vania pulang. Dia lagi sibuk siapkan pesta penyambutan di hotel.”

Melani belum pernah mendengar Bagas menyebut nama Vania sebelumnya.

Setelah tiba di hotel, barulah dia tahu kebenarannya. Penulis kontrak majalah Bagas yang dikenal dengan nama pena “V.R.” ternyata adalah Vania.

Saat Melani tiba di depan ruang privat, mereka bersama teman-teman lama sedang bermain permainan.

Di tengah sorak sorai, Bagas menggendong Vania seperti seorang putri dan menenggak segelas besar alkohol.

Melani belum pernah melihat Bagas sebahagia itu.

Dia menerobos masuk, berharap Bagas akan memberinya sebuah penjelasan yang masuk akal. Namun saat melihatnya, yang tampak di wajah pria itu hanyalah kecanggungan.

Di hadapan semua orang, Bagas berkata dengan nada datar, “Dia adik dari keluarga kerabatku.”

Pada detik itu juga, Melani akhirnya mengerti.

Selama ini, dia sama sekali tak pernah benar-benar masuk ke dalam kehidupan Bagas.

Melihat Bagas dan Vania saling menukar lauk dengan begitu alami, Melani menggenggam erat surat permohonan cerai di tangannya.

Sebulan lagi, dia akan resmi bercerai.

Dia akan meninggalkan Bagas, pria yang tak pernah benar-benar menjadi miliknya.
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
25 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status