“Ryn, kamu mual?”Suara Kylar terdengar dari seberang telepon, langsung, tanpa basa-basi, seolah dia sudah tahu jawabannya bahkan sebelum Ryn sempat membuka mulut.Di dalam toilet kantor, Ryn masih bersandar lemah di dekat wastafel setelah beberapa kali muntah. Tangannya bertumpu di pinggiran, napasnya belum sepenuhnya stabil. Wajahnya sedikit pucat, rambut di sisi pipinya menempel tipis karena keringat.Pertanyaan itu membuatnya mengernyit.Bagaimana bisa?“Kok bisa nebak gitu sih?” tanya Ryn heran, masih sedikit terengah.Di seberang sana, Kylar menghela napas pelan, tapi terdengar jelas ada sisa tegang di suaranya.“Aku juga mual soalnya,” jawab Kylar jujur. “Tadi pas meeting, tiba-tiba nggak enak. Sampai harus izin ke toilet dulu.”Ryn langsung sedikit menegakkan tubuhnya, meski masih bersandar. “Asli, Mas? Bisa barengan gitu ya?” tanyanya, setengah tidak percaya.Kylar terdengar mengembuskan napas lagi, kali ini lebih ringan, seolah mencoba menenangkan dirinya sendiri juga.“Kata
Baca selengkapnya