“Aglio e olio? Bolognese? Atau carbonara?” tanya Kylar begitu sampai di dapur. Tangannya langsung bergerak membuka laci, mengambil panci tanpa perlu berpikir lama, seolah tubuhnya sudah hafal harus melakukan apa.Ryn duduk di kitchen island, kedua tangannya bertumpu di atas meja, matanya mengikuti setiap gerakan pria itu.“Padahal yang tadi masih bisa dimakan,” sahutnya pelan.“Yang tadi udah dingin,” jawab Kylar tanpa menoleh. Air mulai mengalir ke dalam panci, lalu diletakkan di atas kompor. “Jadi mau spaghetti apa?”“Aglio e olio aja.”Jawaban itu keluar lebih cepat dari yang Ryn kira. Tidak ada perdebatan, tidak ada bantahan. Karena memang benar, makanan dingin memang membuat perutnya terasa semakin tidak nyaman.Mendengar itu, Kylar langsung bergerak ke lemari pendingin, mengambil bawang putih, cabai, dan bahan lain yang dibutuhkan. Gerakannya efisien, cepat, meskipun tidak sepenuhnya rapi seperti orang yang terbiasa memasak.Dari tempatnya duduk, Ryn memperhatikan. Cara Kylar ber
Mehr lesen