Menjelang sore, Ryn akhirnya menyerah. Dia mengembuskan napas panjang sebelum meraih ponselnya dan menghubungi satu orang yang langsung terlintas di kepalanya. "La, bisa datang ke restoran? Aku kayaknya butuh pendampingan." "Kenapa nggak bilang dari pagi sih, Ci? Jadi aku bisa siap-siap." Nada suara Lala memang terdengar mengeluh, tetapi Ryn mengenal sahabatnya itu dengan baik. Keluhan itu lebih karena merasa tidak bisa datang lebih cepat untuk membantu. "Aku kira stafku bisa handle cepat. Eh, ternyata yang satu lagi cuti hari ini." Ryn mengembuskan napas pelan sambil memijat pelipisnya yang mulai terasa berat. "Dijejelin laporan keuangan aku masih kuat, tapi begitu masuk urusan pajak? Aku angkat tangan, La." "Ya udah, tunggu. Aku berangkat sekarang." "Nggak ganggu kerjaan kamu?" "Lah, ini namanya kerja juga, Bu Klien." Mendengar jawaban itu, Ryn akhirnya bisa tersenyum lebih lega. "Makasih ya, La." Sekitar empat puluh menit kemudian, Lala akhirnya tiba di restoran. Mengenakan
Read more