“Kau punya hak untuk marah,” jawab Lucas. Pria itu hanya menatapnya tanpa ekspresi. Tidak ada kilat amarah, sisa kesedihan, atau emosi apa pun yang terbaca di sana.Madeleine mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya memutih, berjuang keras menahan gejolak yang nyaris meledak di dadanya."Apa yang akan kudapatkan dari kemarahan itu?" tantang Madeleine, suaranya bergetar tipis."Sedikit rasa lega," jawab Lucas tenang, seolah sedang menawarkan solusi paling masuk akal di dunia. "Kau bisa memakiku sepuas hati. Berteriak di depan wajahku. Lakukan saja, dengan begitu setidaknya ada yang terlepas."Madeleine hampir tertawa.Bukan karena lucu. Tapi karena betapa ringannya Lucas mengucapkan itu, seolah amarah bisa dibuang semudah mengembuskan napas."Itu kekanak-kanakan," ujarnya. "Dan aku tidak akan melakukannya."Madeleine menegakkan punggungnya, berusaha memungut sisa martabat yang ia punya. “Aku akan kembali ke kamarku. Seperti dulu,” ujarnya dingin, lalu berbalik tanpa menunggu
آخر تحديث : 2026-05-20 اقرأ المزيد