Mama Sarah nyaris menjatuhkan piring yang sedang ia pegang. Dia berbalik perlahan, menatapku dengan tatapan yang bercampur aduk antara amarah, malu, dan hasratnya yang tertahankan. Aku terkekeh pelan melihat Mama Sarah gelisah. ”Iya, Ra. Gue tahu kok. Masakan Mama itu... selalu punya kejutan di setiap suapannya. Teksturnya pas, hangat, dan bikin ketagihan.” Aku menekankan kata hangat sambil menatap tepat ke manik mata Mama Sarah. Dia tersedak pelan, buru-buru meraih gelas air putihnya. ”Minumnya pelan-pelan, Ma. Nanti tersedak lagi,” kataku dengan nada penuh perhatian yang palsu. ”Terima kasih, Radit,” jawabnya lirih. Suaranya masih bergetar. Di bawah meja, aku mulai melancarkan serangan. Aku melepas sandal rumahku, membiarkan jemari kakiku mencari keberadaan kaki Mama Sarah. Tidak butuh waktu lama untuk menemukannya. Begitu kulit kakiku bersentuhan dengan betisnya yang halus, aku bisa merasakan tubuhnya tersentak kecil di atas kursi. Dia mencoba menarik kakinya menjauh, tapi a
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-02-10 อ่านเพิ่มเติม