Davin mengerutkan keningnya dalam, sorot matanya mengeras saat menatap Abhimana yang berdiri dengan sikap terlalu tenang—tenang yang justru membuat dadanya terasa panas.“Apa maksud kamu?” suara Davin terdengar rendah, bergetar, seperti menahan ledakan amarah yang siap meledak kapan saja.Abhi menyandarkan tubuhnya ke meja kerja, lalu menatap Davin dengan senyum tipis yang sulit diartikan. Senyum itu bukan senyum sombong, tapi cukup untuk menusuk harga diri lelaki mana pun.“Ayla—istriku,” ucap Abhi pelan, seolah sedang memilih kata paling tepat untuk melukai. “Dia sedang hamil. Anakku… calon anak kami berdua.”Kalimat itu jatuh seperti palu godam, menghantam dada Davin tanpa ampun.“Apa?” Davin menggeleng cepat, langkahnya mundur satu tapak. “Nggak… itu nggak mungkin.” Napasnya memburu. “Ayla sudah berjanji padaku. Dia nggak mau punya anak dari kamu!”Abhi terkekeh kecil, tawa yang terdengar ringan, namun kejam bagi telinga Davin.“Terserah kamu mau percaya atau tidak,” sahutn
Read More