Pagi itu, Abhi berdiri membeku di depan cermin. Jemarinya yang biasanya tangkas saat membetulkan simpul dasi, kini terasa kaku. Matanya menatap pantulan dirinya sendiri, namun pikirannya melayang jauh. Ia mengambil ponsel, memandangi foto Ayla yang sedang tertawa—sebuah potret kebahagiaan yang begitu rapuh, yang ingin ia jaga dengan segenap nyawanya.“Ini demi kamu, Sayang,” gumamnya lirih pada layar ponsel. “Biar rumah kita tetap teduh. Biar tidak ada badai yang menyentuhmu.”Abhi tidak tahu, bahwa terkadang, payung yang kita gunakan untuk melindungi seseorang justru menghalangi mereka melihat arah datangnya hujan.**Aroma kopi yang biasanya menenangkan kini terasa menyesakkan bagi Bella. Ia duduk di sudut paling sunyi, dengan jemari yang terus meremas ujung syalnya. Wajahnya pucat, matanya sembab seperti bunga yang layu sebelum sempat mekar sempurna.Langkah kaki tegap itu mendekat. Bella mendongak, dan jantungnya serasa berhenti.“Bella,” suara itu berat, tanpa emosi yang be
Read More