Dinda menunduk lalu menghela napas. "Iya, Bu. Aku ngerti," jawabnya kepada Santi.Demi menghindari ceramah panjang yang pasti hanya akan melelahkan batinnya, ia pun menerima bungkusan ramuan itu. Tentu saja ia tak berniat benar-benar akan meminumnya. Untuk apa minum ramuan kesuburan kalau suaminya saja tak pernah menggaulinya? Itu sama saja dengan menyiram tanaman plastik, berharap akan tumbuh bunga."Nah, gitu dong, nurut sama Ibu," ujar Santi. "Oh, ya, Din. Ibu mau cerita sedikit. Sekarang kan harga-harga naik semua ya, Din. Ibu juga harus ngatur uang buat belanja, bayar listrik yang makin mahal, belum lagi biaya berobat Bapakmu ... aduh, rasanya pusing kepala Ibu."Dinda menahan napas, perasaannya tidak enak. "Nah, kamu sekarang kan sudah jadi istri Rafael, pasti hidupmu berkecukupan, ya?" Santi melirik Dinda penuh harap. "Ibu pikir ... mungkin kamu bisa bantu Ibu sedikit? Bulan ini Ibu agak kekurangan."Dinda merasakan amarah merayap naik ke tenggorokannya. Rasanya ingin sekal
Ler mais