Namun, sebelum Dinda sempat mengungkapkan masalahnya, Rafael sudah muncul di ambang pintu dapur. Matanya yang tajam langsung tertuju pada Dinda, lalu sekilas melirik ke arah Jena."Din, Nikita udah bangun. Dia nyariin kamu," ucap Rafael datar."Oh, ya udah, kamu ke sana aja, Din," Jena cepat-cepat menyahut. "Soal piring-piring yang belum dibilas ini, biar nanti pembantuku yang selesaikan.”“Duh, maaf ya, Kak.”“Udah, nggak apa-apa. Sesama seorang ibu, aku ngerti kok.” Jena mengusap bahu Dinda. “Nanti atau lain kali, kita lanjutkan obrolan kita lagi, ya?"Dinda mengangguk.Setelah mengeringkan tangannya dengan handuk yang tergantung di dekat wastafel, ia pun berjalan keluar dari dapur, melewati Rafael yang masih berdiri seperti patung di ambang pintu.Namun, alih-alih langsung menuju ruang tamu tempat Nikita berada, tiba-tiba tangan Rafael mencengkeram pergelangan tangannya. Dengan satu gerakan cepat, suaminya itu menariknya masuk ke sebuah ruangan yang tidak jauh dari dapur. Ruangan
Ler mais