Mendapat pertanyaan itu, keringat dingin langsung merembes di dahi Amara. Ia refleks mencengkeram erat tali tas tangannya, memaksa otaknya bekerja cepat untuk menyusun pembelaan yang masuk akal."Aku tadi mual parah gara-gara efek suntikan hormon, Mas," dalih Amara dengan suara yang diusahakan tetap stabil. "Dokter Adrian nggak bolehin aku nyetir sendiri, makanya dia yang antar aku sampai depan gerbang."Doni tidak langsung merespons. Ia melipat kedua tangan di depan dada dengan angkuh, sementara matanya bergerak lincah memindai penampilan istrinya dari ujung kaki hingga ujung kepala.Mendengar nama sepupunya disebut, Doni bangkit berdiri dan melangkah maju. Ia menghampiri Amara perlahan, lalu berhenti tepat satu jengkal di hadapan tubuh istrinya yang gemetar.Tanpa peringatan, Doni memajukan kepala ke arah perpotongan leher Amara. Ia mengendus kemeja istrinya dengan tarikan hidung yang kasar, mencoba menangkap aroma yang terasa asing di sana."Mua
Read more