Amara langsung menangis haru mendengarnya. Dia membalas pelukan itu dengan mengalungkan kedua tangannya di leher lebar sang dokter.Beban berat dari tuntutan ibunya dan ketakutan akan kemandulan menguap begitu saja. Dokter miskin ini terbukti jauh lebih jantan dan unggul dibandingkan Doni yang sudah mencobanya selama lima tahun tanpa hasil.Namun, senyum Adrian perlahan memudar di sela-sela pelukan hangat tersebut. Pria itu mengelus rambut Amara dengan gerakan yang mendadak terasa pelan.Adrian mendekatkan bibirnya tepat ke telinga Amara."Tapi maaf, Amara. Sepertinya ini akan menjadi saat terakhir kita," bisik Adrian.Tubuh Amara langsung kaku membeku mendengar kalimat tersebut. Isak tangis harunya terhenti seketika digantikan oleh rasa bingung yang luar biasa."Maksud kamu apa, Mas? Kenapa jadi saat terakhir kita?"Adrian mempererat pelukannya, seolah enggan melepaskan wanita itu dari dekapannya."Mengingat Doni pasti nggak mau kita bersama terus-terusan kalau dia tahu kebenarannya,
Read more