Amara menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak kering kerontang. "Aku dari apotek 24 jam di depan komplek, Mas.""Apotek?" Doni mengangkat sebelah alisnya. "Apotek yang mana? Kimia Farma di ruko depan?""Iya, Mas. Yang di deretan ruko itu.""Kimia Farma depan komplek tutup jam sepuluh malam semenjak bulan lalu, Amara. Manajemen mereka udah ganti jadwal."Doni memojokkannya dengan telak. Amara terkesiap pelan, otaknya langsung berputar cepat mencari celah."Bukan yang itu, Mas. Apotek K24 yang di dekat perempatan lampu merah ujung jalan sana. Aku rela nyetir agak jauh karena emang butuh obatnya cepat.""Perut kamu sakit apa sampai harus beli obat jam dua pagi?""Kram, Mas. Sakit banget rasanya."Amara memegangi perut bagian bawahnya, berpura-pura kesakitan. Padahal perutnya terasa pegal murni karena dihunjam habis-habisan oleh ukuran raksasa milik Adrian semalaman penuh."Kram perut biasa atau kram yang l
Read more