"Harusnya kamu sapa aku aja waktu itu," bisik Amara, suaranya terdengar sedikit sesak. "Aku emang kelihatan sombong karena didikan orang tuaku, tapi aslinya nggak gitu. Aku malah seneng kalau ada cowok pinter kayak kamu yang ngajak ngobrol. Kalau aja kamu berani... mungkin nasib kita nggak bakal seberantakan ini sekarang."Karena ingatan masa lalu itu kembali muncul, raut wajah Adrian berubah menjadi sangat sendu. Pria itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan lemas. Dia membiarkan Amara memproses seluruh informasi mengejutkan tersebut."Gimana aku mau maju, Amara? Sainganku Doni," Adrian tertawa hambar, matanya menatap langit-langit klinik dengan sorot lelah. "Dia punya segalanya, sementara aku... aku cuma mahasiswa yang makannya aja harus irit. Tapi bukan cuma soal harta yang bikin aku nyerah sebelum perang.""Apa lagi?" Amara mendongak, napasnya memburu menanti kejujuran pria itu. "Ada apa lagi, Adrian?"Sesudah memberikan jeda sejenak, Adr
Leer más