Lift bergerak turun perlahan membawa kami menuju lantai dasar.Aku berdiri di pojok sambil memegang tas erat. Ibu bersandar lemah di sisi ayah, sedangkan pria berpakaian hitam itu berdiri dekat pintu lift dengan sikap profesional yang terlalu kaku untuk disebut “sekadar bantuan.”Dan sepanjang perjalanan turun, suasana terasa aneh. Ayah beberapa kali melirik ke arahku. Seolah ingin bertanya lagi tentang Tian, tapi menahan diri karena ibu ada di sini.Aku sendiri memilih diam. Karena semakin banyak pertanyaan muncul, semakin sulit aku menjaga semuanya tetap masuk akal.Pintu lift akhirnya terbuka.Lobby rumah sakit malam itu lebih tenang dibanding biasanya. Lampu putih terang memantul di lantai marmer, sementara beberapa keluarga pasien terlihat duduk lelah di kursi tunggu.“Mobil di depan, Pak,” ujar pria berbaju hitam sopan pada ayah.Aku langsung tahu mobil mana yang dimaksud bahkan sebelum keluar gedung.Dan benar saja. Mobil hitam Tian sudah terparkir tepat di depan lobby.Dadaku
Baca selengkapnya