Rafi menggeratakkan jemarinya di meja sembari menunggu kedatangan tamu-tamunya.Wajah pria itu tak sedap dipandang. Rahang itu tampak mengeras dengan mata yang memerah. Sejak malam ia terus menahan emosinya. Dan pagi ini, ia ingin meladeni wanita yang sudah menyakiti hati adik tirinya.Saat pintu ruangan terbuka, terlihat Arif datang dengan menundukkan wajahnya."Selamat pagi, pak Rafi." Ucap Arif dengan membawa dua orang di belakangnya.Rafi mendongak dan menatap ketiga pria ini dengan tajam."Jadi kamu yang bernama Larasati??"Yang disebut namanya lantas menoleh. "Benar, pak."Rafi berlalu pada Arif. "Dan karyawati ini bergabung di perusahaan kita tanpa proses seleksi. Apa itu benar?"Arif meneguk ludah. "Maafkan saya, pak."Pandangan Rafi kini beralih pada Ghani. "Dan kamu, Ghani. Ternyata seorang musuh yang membawa ular betina ke dalam perusahaan ini." Rafi sampai berdecak dan menunjuk Ghani dan Lar
Read more