"Satria!" Wanita ini berkacak pinggang dengan mata melotot. Melihat nenek sihir yang ada di hadapannya, Satria meneguk ludah. Ia pun berjalan mundur tanpa sadar. "Mama telepon dari tadi tapi nggak kamu angkat! Hebat kamu, ya!" Dian ingin sekali mengetuk kepala putranya dengan sendal yang ia pakai. Namun saat mata itu berpapasan dengan Cecil, Dian terlonjak kaget. "Cecil!!! Kamu Cecil, kan?" Tanya Dian tak percaya. Cecil tersenyum lembut. "Apa kabar, tante?" Cecil mendekat dan menyalim tangan wanita paruh baya ini. Dian pun langsung memberikan pelukan erat. "Astaga.. sejak kapan kamu di Jakarta, nak?" "Ngngng hampir satu minggu, tante." "Kok kamu nggak kabarin lagi, sih! Padahal tante rindu sekali padamu." Dian hampir merajuk. Mendengar itu, Cecil tersenyum tipis. Seingatnya k
더 보기