Satria tersenyum sembari merogoh sakunya. Sementara, Cecil menahan nafas. Apalagi saat benda pipih itu dikeluarkan dari sana. Oh... Cecil ingin pingsan saja. Mungkinkah Satria ingin..."Aku lupa memberi kabar pada mama." Ucap Satria terkikik.Sementara, Cecil tertegun. Ia pikir Satria hendak melamarnya dengan memberikan sebuah cincin. Rupanya, dia mengambil ponsel. Astaga.. wajah Cecil malu sekali. Ia pun tertunduk."Mama berencana menginap malam ini di rumah. Tapi aku bilang tidak mau menerimanya..""Ya, Tuhan. Tante Dian itu ibumu, kan?" Cecil sampai keheranan."Iya.. tapi aku sudah dewasa untuk terus diikutinya. Aku juga butuh kebebasan."Pesan balasan dikirim. Satria meminta Dian untuk tidak berkunjung malam ini. Seperti biasa, Satria berbohong. Dia mengaku lembur di perusahaan."Kamu sudah selesai makannya, Cecil?"Cecil terkesiap. Lamunannya buyar begitu saja."Oh.. iya, sudah.""Oke. Kit
Read more