LOGIN"Dasar cewek gila! Sampai kapanpun aku nggak akan mau sama kamu!" Ucap Satria dengan lantang. Cecilia sering kali diejek sebagai cewek gila karena tak berhenti mengejar cinta pria idamannya, Satria. Sejak dari bangku kuliah hingga akhirnya Satria menikah dan menjadi duda, tak menyurutkan Cecil berjuang mendapatkan hati pria itu. Berusaha keras memikat dengan pesonanya walau masih saja Satria tak menyukainya. Malah kebencian Satria semakin menjadi-jadi pada perempuan gila itu. Sampai 10 tahun berlalu, ketika Satria mulai menikmati kegilaan Cecil yang menjadi candu baginya.. disaat yang bersamaan ia juga tersadar jika perempuan yang dianggapnya gila itu telah berlalu. Cecil berhenti berjuang dan pergi setelah tak diharapkan. Apakah rasa kehilangan menghampiri hati Satria yang membeku? Atau harusnya ia puas karena Cegil itu tak lagi mengganggu hidupnya?
View More"Minggir!" Bentak Satria tak sabar. "Aku hampir kehabisan nafas!"
Cecilia menggeser sedikit tempat duduknya sambil tersenyum-senyum sendiri. Dia suka sekali menjahili pria ini. Si tampan yang mirip ksatria di jenderal perang. Jika sang ksatria di dalam film suka membawa pedang dengan mengendarai kuda putihnya. Maka si tampan bernama Satria ini cukup menunjukkan wajah yang bisa membuat perempuan tergila-gila. Satria mendengkus kesal sembari mendelik tajam ke arah Cecil. Apa kepala wanita ini terbuat dari batu? Kenapa keras sekali! Padahal sudah berulang kali Satria menolaknya tapi masih juga Cecilia mendekatinya. Ah, Cecil memang harus dipuji karena keberaniannya. Atau mungkin karena kegilaannya? Sial, Memang dasar tidak tahu malu! Mendengar kemarahan Satria barusan memancing gelak tawa para mahasiswa lainnya. Betapa tidak? Mereka tengah belajar statistika. Mata kuliah yang paling dibenci sejagad raya. Oleh karena mata ajar yang sulit, mereka diminta membuat beberapa kelompok untuk memecahkan masalah yang rumit. Dan seperti biasa, Cecil akan mencari celah untuk menempel pada Satria. "Lihat si Cegil! Masih aja usaha mau deketin Satria!" Ujar Laras terkikik geli dari meja depan. Nama Cecil seringkali dipelesetkan menjadi Cegil. Bukannya tersinggung, Cegil ini bersikap biasa saja. Diejek oleh teman-temannya sudah menjadi makanannya selama 3 tahun terakhir berkuliah, jadi ya santai saja. "Pak!" Seru Satria mengangkat tangan pada dosen yang sedang mengajar di depan. "Kenapa Satria?" "Saya nggak mau satu kelompok dengan Cecil!" Ucap Satria memandang jijik. "Loh kenapa? Kan tadi kita sudah membagi rata anggota kelompoknya." "Ganti saja sama yang lain, pak! Badan cewek ini bau! Kami jadi nggak konsen ngerjain tugas!" Gelak tawa terdengar seantero kelas. Mereka pun kemudian ikut mengolok-ngolok Cecil. Sedangkan perempuan itu hanya menyunggingkan senyuman. Dasar aneh! "Sudah, diam!" Dosen pria ini menatap tajam. "Kerjakan tugas kalian dan jangan banyak permintaan!" Satria hanya bisa berpasrah kalau sudah begitu. Ia melirik Cegil yang tersenyum senang setelah permintaan pria idamannya ditolak. Ia lalu mendekatkan kursinya lagi pada Satria. "Jauh sedikit!" Bentak Satria kesal. "Badanmu bau telur busuk!" Cecil mana perduli. Dia memang menjauhkan kursinya, tapi bobot tubuh ini didekatkannya pada Satria. Pria ini pun harus menahan emosinya selama 90 menit ke depan. Untunglah kelompok Satria bisa mengerjakan tugas lebih cepat. Bisa dibilang mereka beruntung karena ada Cecil. Walaupun dia Cegil, tapi otaknya encer. Buktinya sudah 3 tahun ini di diperalat Satria mengerjakan tugas kuliah dan selama itu juga Cegil tak pernah memprotes. Selesai dengan perkuliahan, Satria buru-buru meninggalkan kelas dan menarik tangan Sofia. Perempuan dadakan yang baru dikencaninya seama 5 hari ini. "Mau kemana?" Tanya Sofia jadi tersipu malu setelah tangannya di pegang oleh pria idaman. "Aku kelaparan, kita ke kantin!" Jawabnya terburu-buru. Keduanya lalu bergegas meninggalkan kelas. "Cieeee!" Sorak yang lain kembali menggaung di udara. Mereka bahkan tertawa dan bertepuk tangan. Sofia si cantik dan menjadi incaran banyak pria kini jatuh pada kumbang jantan bernama Satria. Si gagah yang terkenal playboy karena sering kali terbang dari satu putik ke putik yang lain. Dalam 6 bulan ini saja Satria sudah 3 kali berganti pacar. Nah, hitung saja sendiri kalau begitu. Ssmentara, Cecil hanya bisa menatap kepergian dua orang itu dengan datar. Tanpa ekspresi seperti biasa. Di bibirnya mengulum senyum, seakan tak sakit hati melihat pria yang ia sukai menjalin kasih dengan hubungan yang lain. "Kasihan banget si Cegil. Untuk kesekian kalinya kamu patah hati!" Ejek Laras yang membuat semua orang tertawa. Sadar diri saja, Cecil. Jika dibanding Satria, dia bahkan tak bisa menyentuh ujung kukunya.. Satria dari keluarga terpandang dengan masa depan yang jelas. Sementara Cecil.. astaga lihatlah penampilannya. Rambut yang acak-acakan dikuncir satu, lalu jaket jeans yang dipadu padankan dengan celana loreng-loreng. Ah, benar-benar bukan tipe kesukaan para pria. Setelah menjalani waktu yang menyenangkan bersama Sofia, Satria menceritakan betapa cantiknya perempuan itu di hadapan teman-temannya. Mumpung jam kuliah belum dimulai, Satria berkumpul bersama teman satu geng motornya. Ada Reza, Pras dan juga Gior. "Udah ngapain aja sama Sofia?" Tanya Gior terkikik. Dia tahu jika temannya ini bajingan. Tak ada perempuan yang mulus dilewatkannya begitu saja. Mendengar itu, Satria tersenyum. "Sesuai yang kalian bayangkan. Sofia mulus banget! Masih perawan lagi!" "Wow keren banget kamu bisa membuat dia takluk!" Sahut Pras takjub. Dia sudah lama mengincar Sofia, tapi cintanya selalu gagal diterima. "Ya, dong. Jangan panggil aku Satria kalau nggak bisa menaklukan cewek cantik!" Sahut Satria bangga. Pria ini terus memamerkan senyum patennya sembari menceritakan kejadian menyenangkan semalam dengan kekasih barunya. Termasuk hal-hal yang harusnya menjadi rahasia pribadi malah ikut dimakan oleh teman-temannya. Saat sedang asyik bercengkrama, Reza terperangah dengan mahasiswi yang baru saja masuk. Si angsa hitam yang baru saja berubah warna menjadi bebek putih. "Sat! Lihat tuh!" Reza menyenggol lengan Satria dengan sikunya. Satria pun menatap ke arah Reza memandang, tepatnya dimana seorang perempuan yang baru saja tiba dan berjalan mendekat padanya. "Astaga.. dasar gi-la!" Satria mengumpat."Gimana persiapan minggu depan?" Tanya Cecil. Keduanya sudah pulang ke rumah. Satria bahkan sudah mendarat di tempat tidur sedangkan Cecil masih memakai skincarenya. "90% rampung. Semuanya aman." "Syukurlah.." Cecil menarik kimono gaun tidurnya dan beranjak ke tempat tidur. Satria pun menyambut istrinya yang cantik jelita. "Maafin aku. Beli rumahnya ditunda dulu sampai aku siap." Satria mengecup dahi Cecil. "Pengeluaran banyak sekali. Keuntungan perusahaan kupakai untuk pembangunan dan membayar hutang ke mama." "Kamu kehabisan uang?" Tanya Cecil mendongakkan wajahnya untuk menatap ketampanan Satria. "Kenapa? Kamu takut hidup susah?" Goda Satria. "Dari kecil aku udah hidup kesulitan, Satria. Aku nggak mau itu terus berlanjut." Jawab Cecil jujur. Dia memiliki uang, bahkan mungkin tabungannya lebih banyak dari Satria untuk saat ini. Tapi dia juga seorang wanita... seorang istri yang ingin hak-haknya terpenuhi. Satria terkekeh sembari mengusap kepala istrinya. "Jangan khawa
Rasanya baru sebentar Cecil memejamkan mata tapi tiba-tiba saja ia merasakan hawa dingin menusuk ke tulangnya. Saat dia membuka mata rupanya ada Satria telah naik di atasnya. "Satria.." Cecil menggeleng pelan. Tenaganya sudah habis tak tersisa karena semalaman di gempur pria ini. Belum saja mulut ini mengeluarkan suaranya, Satria sudah terlebih dahulu menbungkamnya dengan sebuah ciuman. Tangan pria itu kembali menjelajah ke seluruh titik sensitif istrinya. Satu kali tidak cukup, dia ingin mengulanginya lagi sebelum matahari terbit. Cecil memejamkan mata saat Satria turun ke bawah. Ia membiarkan pria itu kesana untuk menghilangkan rasa takutnya. Setelah Cecil dirasa cukup siap untuk menerima alat tempurnya, Satria mendesak dan mengulangi lagi kegiatan semalam. Bayangkan saja.. Hampir enam tahun Satria tidak menjamah wanita. Dan kali ini ia sudah berhasil mendapatkan wanita pujaannya. Satria berj
Satria menggenggam tangan Cecil menyusuri koridor hotel untuk membawanya ke kamar pengantin mereka. Cecil melirik ke belakang. Suara tawa para wanita dan pria paruh baya sudah memudar. Mereka telah kembali ke kamar masing-masing. Satria dan Cecil memberikan voucher menginap gratis di hotel ini untuk para kerabat mereka. Termasuk Siti yang takjub akan kemewahan hotel ini. Detak jantung Cecil semakin kencang saat perjalanan mereka menuju kamar kian dekat. Rasanya Cecil ingin membalik tubuh ini dan berlari ke arah Dian. Ini adalah malam pertamanya menjalankan tugas sebagai seorang istri. Dan Cecil merasa takut, gugup, cemas tapi juga menantikannya. Ah.. sungguh perasaan yang campur aduk. Tap. Pintu terbuka dengan kartu pintar yang dibawa oleh Satria. Pria ini mempersilahkan istri barunya masuk terlebih dahulu. Cecil masuk dan memandang kamar yang mereka pesan.
Di hari bahagia ini hanya ada satu orang yang tak fokus. Dia lah Satria. Sejak tadi dia sibuk memandangi wajah cantik istrinya. Cecil yang cantik dan lembut. Pipinya yang kemerahan membuat Satria gemas sekali ingin mengigitnya. "Satria! Kamu ditegur MC." Cecil mencubit pelan lengan Satria yang melingkarinya agar pria itu sadar. Sejak tadi nama Satria disinggung oleh pemandu acara. Tapi pria ini malah tak bergeming. Tak ayal, Satria menjadi bahan olok-olokan di hari pernikahannya. Selesai dengan seluruh rentetan acara, giliran tamu yang hadir memberikan ucapan selamat. Sekarang kelas status Satria dan Cecil benar-benar terlihat. Tak hanya keluarga dan teman, para kolega bisnis dari kalangan atas ikut hadir memberikan selamat. Maklum saja, ini adalah pernikahan dari pemilik Ksatria Guard dan Safety Guard. Wajar jika pernikahan keduanya menjadi sorotan publik.
Tekad sudah bulat, Satria akhirnya mendaftarkan dirinya ke jenjang magister di Universitas Singapura. Dua tahun ia kejar untuk menyelesaikan kuliahnya. Untung saja jadwal kuliah yang ia ambil adalah weekend. Sehingga senin sampai jum'at digunakan untuk bekerja. Sekar
Sayup-sayup Satria mendengar suara dering ponselnya. Aduh. Pria ini mengeluh. Kepalanya begitu nyeri saat digerakkan. Terpaksa ia bangun dari tidurnya, mengambil ponsel yang berdering di atas nakas samping tempat tidur. Matanya pun terbelalak. "Astaga!" Satria terlonjak kaget. Waktu sudah menun
"Tolong!" Suara Cecil melengking menembus jalan yang gelap nan sepi. Ia berlari sekuat tenaga. Di sisi kanan kirinya hanya ada pohon-pohon yang besar. Mustahil jika bisa bersembunyi, empat orang pria yang sedang mengejarnya pasti bisa menemukannya.
Tidak masalah jika tertolak. Walau Cecil tak bisa menjadi kekasih pria ini. Berteman saja sudah cukup baginya. Cecil seperti biasa, datang setiap pagi ke apartement Satria. Mengurus pria itu dengan baik walau harus menebalkan telinganya. Satria






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore