LOGIN"Dasar cewek gila! Sampai kapanpun aku nggak akan mau sama kamu!" Ucap Satria dengan lantang. Cecilia sering kali diejek sebagai cewek gila karena tak berhenti mengejar cinta pria idamannya, Satria. Sejak dari bangku kuliah hingga akhirnya Satria menikah dan menjadi duda, tak menyurutkan Cecil berjuang mendapatkan hati pria itu. Berusaha keras memikat dengan pesonanya walau masih saja Satria tak menyukainya. Malah kebencian Satria semakin menjadi-jadi pada perempuan gila itu. Sampai 10 tahun berlalu, ketika Satria mulai menikmati kegilaan Cecil yang menjadi candu baginya.. disaat yang bersamaan ia juga tersadar jika perempuan yang dianggapnya gila itu telah berlalu. Cecil berhenti berjuang dan pergi setelah tak diharapkan. Apakah rasa kehilangan menghampiri hati Satria yang membeku? Atau harusnya ia puas karena Cegil itu tak lagi mengganggu hidupnya?
View MorePlak!! Suara tamparan itu terdengar nyaring mengenai pipi kiri Laras. Wanita ini menjerit terperangah. Di pipi itu sudah tercetak warna kemerahan. Ia pun menatap Satria setengah tak percaya. "Masih belum sadar? Atau aku perlu memukul kepalamu supaya kamu bisa sadar, hah??" Teriak Satria emosi. Teman-teman yang melihat kegaduhan ini sontak berdiri. Termasuk Pras dan Gior yang naik ke atas panggung untuk melerai pertengkaran mantan suami istri ini. "Satria!" Tegur Reza. "Apa???" Satria ikut menatap tajam sahabatnya. "Jadi ini tujuanmu mengadakan reuni? Agar kalian bisa bersekongkol untuk mempermalukan Cecil, kan?" "Satria. Tidak seperti itu maksudnya. Kamu salah paham." Ucap Reza. "Salah paham bagaimana, Reza? Tiba-tiba kamu membiarkan Laras memberi sambutan! Apa pentingnya wanita ini, hah????!" Satria lalu beralih pada
Laras menaiki tangga kecil yang menghubungkan panggung dengan lantai. Pinggul itu sedikit dilenggokan untuk memamerkan buntalan padat berisi yang menggoda mata. Semua perhatian tertuju pada wanita itu. Bak mawar hitam berduri, penampilan Laras seakan menegaskan kecantikannya. Tajam juga berbahaya. Wajah itu.. senyumnya.. matanya.. tubuhnya.. ah, bahkan mereka tak bisa menemukan mana bentuk asli dari Laras. Semuanya sudah tersentuh oleh pisau bedah dokter. "Terima kasih, Reza." Senyum Laras mengembang saag mic itu berada di tangannya. Ia pun memutar tubuhnya ke arah depan. Memandang satu per satu wajah teman yang dulu menjadi penggemar rahasianya. "Pertama, aku ingin mengucapkan selamat kepada Reza atas jabatan barumu. Itu sebuah pencapaian yang luar biasa. Selamat untukmu.." Laras memberikan tepukan tangan secara pribadi pada sahabatnya. "Serta.. aku juga sangat terharu karena kembali bertemu dengan kalian. B
Cecil melangkah pelan masuk ke dalam ballroom yang menjadi tempat pertemuan. Matanya ikut membalas tatapan mata yang tertuju padanya.Wajah-wajah itu, Cecil masih hapal sekali. Wajah yang sering kali memberikan sorot sinis kepadanya. Mulut-mulut yang sering kali menghujat dan menghina dirinya. Cecil masih ingat semua perlakuan teman-teman satu kelasnya ini."Itu Cegil, kan?" Sofia berbisik kepada teman wanita di sebelahnya. Matanya sampai terbuka lebar menatap Cecil yang tengah melangkah. Ia memandang Cecil dari atas ke bawah.Wanita gila yang dulu pernah meniru gayanya kini tampil sangat berbeda. Begitu anggun dan berkelas. Sangat berbeda dengan penampilannya 16 tahun yang lalu."Cegil! Eh, Cecil!"Semua terperanjat saat Pras memanggil nama wanita bergaun putih itu. Bahkan saking terkejutnya, mulut Pras separuh terbuka."Kemari! Duduk disini!" Ajak Pras berdiri ingin menyambut Cecil.Namun wanita ini hanya tersenyum san
Tepat minggu malam, Satria sudah bersiap untuk pergi ke acara reuni yang akan diselenggarakan malam ini.Pria ini menggunakan pakaian yang cukup santai sesuai dengan usianya. Hanya memakai kemeja putih yang dipadu padankan dengan celana jeans. Tak lupa jam tangan mahal berwarna hitam melingkari pergelangan tangannya.Selesai menyemprotkan parfum, Satria melenggang keluar dari apartement tepat pukul 7 malam. Sesuai janjinya yang akan berangkat bersama Cecilia.Bilik rumah milik Cecil juga terbuka, keduanya sempat saling memandang sekilas. Namun, Cecil segera memalingkan wajah.Oh.. Satria terperangah.Cecil sangat cantik dengan menggunakan gaun terusan selutut berwarna putih. Ada ikat pinggang kecil berwarna hitam yang melilit di pinggangnya yang ramping.. rambutnya juga di tata lurus dengan blow di bawah. Tak lupa tas tangan kecil berwarna hitam serta sendal bertongkat memperkuat penampilannya."Padahal kita nggak janjian, Cecil.
Tekad sudah bulat, Satria akhirnya mendaftarkan dirinya ke jenjang magister di Universitas Singapura. Dua tahun ia kejar untuk menyelesaikan kuliahnya. Untung saja jadwal kuliah yang ia ambil adalah weekend. Sehingga senin sampai jum'at digunakan untuk bekerja. Sekar
Sayup-sayup Satria mendengar suara dering ponselnya. Aduh. Pria ini mengeluh. Kepalanya begitu nyeri saat digerakkan. Terpaksa ia bangun dari tidurnya, mengambil ponsel yang berdering di atas nakas samping tempat tidur. Matanya pun terbelalak. "Astaga!" Satria terlonjak kaget. Waktu sudah menun
"Tolong!" Suara Cecil melengking menembus jalan yang gelap nan sepi. Ia berlari sekuat tenaga. Di sisi kanan kirinya hanya ada pohon-pohon yang besar. Mustahil jika bisa bersembunyi, empat orang pria yang sedang mengejarnya pasti bisa menemukannya.
Tidak masalah jika tertolak. Walau Cecil tak bisa menjadi kekasih pria ini. Berteman saja sudah cukup baginya. Cecil seperti biasa, datang setiap pagi ke apartement Satria. Mengurus pria itu dengan baik walau harus menebalkan telinganya. Satria












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore