Sampai di kantor, Cecil bekerja seperti biasa. Padahal ia sudah tak fokus lagi, badan ini bermandikan keringat. Wajah ini pucat tak karu-karuan. Tapi demi menjaga profesionalitasnya, Cecil tetap melaksanakan tugas. Mengerjakan pekerjaan yang sempat tertinggal. Namun sayang, laporan yang baru saja ia kerjakan malah tidak sempurna. Cecil pun menyadari jika Satria pasti akan marah lagi padanya. Satria membaca laporan tersebut dengan sesekali menatap Cecil. Wanita itu termenung dengan wajah yang tertunduk. Sejak di hotel tadi, tepatnya setelah bertemu Jeri, sekretarisnya ini tak banyak bicara. Matanya terus bersorot ketakutan. Satria berdeham. "Aku rasa cukup untuk hari ini, Cecil. Kamu sudah bekerja keras." "Saya akan memperbaikinya lagi, pak." Jawab Cecil menyadari kesalahannya. "Tidak perlu. Besok saja. Sekarang kamu pulang saja." "Tapi ini belum jam pulang." "Anggaplah ini sebaga
Magbasa pa