Ia tertawa kecil.“Katanya kamu ganteng, tinggi, sopan…” ia mengangkat bahu. “Pokoknya banyak lah.”Aku mendengus pelan.Namun kalimat berikutnya langsung membuatku melotot.“Tapi katanya kamu masih perjaka,” lanjutnya tanpa rasa bersalah. “Dan kelihatannya kurang mampu di atas ranjang.”“Apa?”"Uhm, lebih tepatnya, mungkin karena kamu kurang pengalaman.""What?!" geramku.Aku menatapnya dengan kesal.Bagaimana mulut dokter itu bisa sewot sekali?Sejak kapan Kak Diana membicarakan hal seperti ini kepada orang lain?Perempuan itu hanya tertawa pelan melihat reaksiku.“Aku bisa lihat dari wajahmu,” katanya sambil mencondongkan tubuh sedikit ke depan. “Sepertinya apa yang dia bilang tidak sepenuhnya benar, ya?”Aku malas melanjutkan percakapan aneh itu.“Berapa harganya?”Ia menyeb
Read more