“Operasi jantung selalu memiliki risiko,” sahut Kak Diana dengan suara datar.Dadaku terasa sesak.“Namun kami akan melakukan yang terbaik,” tambahnya. Setelah mengatakan itu, dokter itu mengangguk sopan lalu berjalan pergi.Lorong kembali hening. Aku menatap pintu ICU.Di balik pintu itu ayah sedang berbaring tanpa sadar.Mesin-mesin medis mungkin sedang mengatur napasnya.Mengawasi detak jantungnya. Sementara aku di sini… Tidak bisa melakukan apa-apa.Kak Diana memegang bahuku. “Bayu,” katanya pelan.Aku menoleh.“Maaf.”Aku mengerutkan kening. “Untuk apa?”“Semalam… aku terlalu banyak bicara. Aku terlalu melebih-lebihkan mengenai obat itu”Aku menghela napas. Entah harus menjawab apa.Tiba-tiba Kak Lora sudah berdiri di depan kami lalu berkata pelan, “Sekarang bukan waktunya sali
Read more