"Ini tempatnya, Tuan. kumohon jangan sakiti aku." Jasper Fitzwilliam berkata dengan nada gemetar saat mereka tiba di sebuah gubuk kayu yang nyaris rubuh di tepian sungai. Dia begitu takut dengan pria tegap bermata sebiru safir tersebut. Adrian tidak memedulikan rintihan Jasper. Sebaliknya, dia mendorong pria tua itu masuk ke dalam ruangan sempit yang berbau pengap, lembap, dan amis. "Cepat ambil kotak itu,” perintah Adrian dingin. “Aku tidak punya banyak waktu untuk menghirup bau kemiskinanmu lebih lama lagi." Jasper menelan ludah lalu menurut. Dia kemudian merangkak menuju sudut ruangan yang gelap, tepat di bawah tumpukan karung gandum yang sudah mulai berjamur. Dengan tangan yang gemetar hebat, dia mulai mengorek tanah di bawah papan kayu lantai yang sudah lapuk menggunakan kuku-kukunya yang kotor. Semenatra itu, Adrian berdiri menjulang di bela
Read More