LOGINDemi melunasi utang orang tuanya, Emily Fitzwilliam dipaksa menjadi milik Lucien Montague yang merupakan seorang Marquess dingin. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, Emily harus memendam identitas aslinya serta mimpinya. Namun, saat rahasia masa lalu mulai terkuak, Emily menyadari bahwa dirinya bukan sekadar penebus utang. Melainkan bagian rencana besar sang Marquess. Apakah ini awal keselamatannya atau justru awal dari kehancurannya?
View More"Semuanya tetap di posisi! Awasi perimeter, jangan sampai kita disergap!"Perintah Adrian menggema memecah keheningan hutan. Pasukan Valoria seketika menyebar, membentuk formasi pertahanan lalu mengelilingi area tempat komandan mereka berdiri.Dalam misi diplomatik rahasia ini, Adrian memang tidak menggunakan atribut atau lambang kebesaran Grand Duke Valoria. Dia hanya mengenakan zirah ksatria biasa dan jubah pelindung standar.Dia membaur sempurna dengan anak buahnya. Bagi siapa pun yang melihatnya dari luar, dia hanyalah seorang kapten ksatria biasa, bukan penguasa tertinggi salah satu wilayah terkuat."Gareth, Kael, cepat turun. Sisanya, tetap waspada," perintah Adrian tanpa menoleh.Dua pengawal kepercayaannya segera melompat turun dari kuda mereka dan berdiri di kedua sisi Adrian, pedang terhunus siap sedia. Mereka tahu, di perbatasan liar seperti ini, sebuah gundukan di sem
"Tuan Duke, cuaca di perbatasan Ashwood ini memang selalu lebih buruk dari prediksi. Haruskah kita mencari tempat berteduh sementara?"Suara derap ratusan kaki kuda yang menghentak tanah basah akibat hujan semalaman. Irama itu diselingi oleh bunyi gemerincing halus dari zirah rantai dan pedang panjang yang beradu di pinggang para ksatria.Mereka bergerak membelah hutan yang berkabut tebal. Pasukan elit yang tidak seharusnya berada di wilayah ini.Di barisan paling depan, memimpin rombongan tersebut, adalah Adrian Goldwyn. Grand Duke Valoria yang baru berusia dua puluh sembilan tahun itu duduk tegak di atas pelana kuda jantan berwarna putih keabu-abuan.Wajahnya yang tegas dan bersudut tajam tampak tidak terpengaruh oleh hawa dingin yang menusuk tulang. Sorot matanya yang sebiru safir menyapu ke sekeliling dengan kewaspadaan.Adrian baru saja kembali dari sebuah misi diplomatik ra
Emily tidak sempat mengelak. Ia hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat saat merasakan hantaman keras di sisi tubuhnya.Jlep.Rasa sakit yang luar biasa seketika meledak dari sisi pinggang kanannya. Emily merasakan sensasi seperti besi membara yang dipaksa masuk ke dalam dagingnya. Napasnya terhenti seketika.Seluruh saraf di tubuhnya seolah berteriak secara bersamaan, melumpuhkan kemampuannya untuk bergerak."Aakh..."Jeritan Emily tertahan di kerongkongan dan yang keluar hanya berupa rintihan pendek. Ia membuka matanya dengan susah payah, menunduk menatap bagian perut dan pinggangnya.Bilah pisau panjang itu masih tertancap di sana, sebelum akhirnya ditarik keluar dengan sentakan kasar oleh tangan si perampok yang gemetar.Darah merah segar langsung keluar dan menodai jubah hitamnya yang basah.Si p
"Aakh! Dasar jalang!"Pemimpin perampok itu melolong kesakitan saat gigi Emily menancap dalam di pangkal ibu jarinya. Emily tidak melepaskannya.Ia menggigit sekuat tenaga hingga rasa anyir darah memenuhi mulutnya. Bersamaan dengan itu, kakinya yang gemetar menendang tulang kering pria itu berulang kali. Adrenalin yang dipicu oleh rasa takut yang luar biasa memberikan Emily kekuatan."Lepaskan aku! Pergi kalian semua!" teriak Emily di sela isakannya setelah berhasil melepaskan gigitannya.Pria itu mundur selangkah, menatap tangannya yang kini berlubang dan mengucurkan darah segar. Wajahnya yang kotor berubah menjadi merah padam. Matanya melotot karena amarah yang memuncak."Berani sekali kau..." desis pria itu.Plak!Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Emily. Kekuatan hantaman tangan pria besar itu membuat kepala Emily terlempar ke samping dan terjerembap ke atas tanah yang dipenuhi kerikil tajam serta akar pohon yang mencuat."Ugh..." Emily mengerang kesakitan.Wajahnya mengh
"Lucien, berhentilah bekerja. Kau akan membunuh dirimu sendiri dengan tumpukan kertas itu jika terus memaksakan dirimu."Suara Alice memecah keheningan ruang kerja yang hanya diisi oleh suara api di perapian. Lampu minyak menyala di atas meja kerjanya.Lucien Montague tidak mengangkat wajahnya. Seb
"Aku percaya pada laporanmu, Gregor," ucap Alice.Suaranya kembali datar dan terkendali."Tapi Marquess merupakan pria yang sulit diyakinkan,” tambahnya. “Dia tidak akan percaya hanya dengan kata-kata dari seorang mata-mata."Gregor mendengus karena merasa tersinggung mengenai kredibilitasnya sebaga
Suasana di meja makan pagi itu terasa canggung dan tidak biasa. Lucien sudah sembuh total dari demamnya. Dia duduk tegak di kepala meja seperti biasa, wajahnya datar dan tak terbaca.Namun, ada sesuatu yang berbeda dalam sikapnya. Sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh Alice.
“Maafkan saya, Marquess.” Emily menjawab seraya menunduk.Lucien menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dengan kaku. Rasa sakit di pergelangan kakinya masih berdenyut dan kepalanya masih terasa berat sisa demam semalam.Namun, rasa sakit f
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews