“Gimana kalau sofanya juga kita ganti yang baru? Terus .…”William usap pelipisnya, untuk pertama kalinya jawab Quinza dengan nada setengah hati, “Terserah kamu. Aku harus ke kantor.”Usai berkata begitu, ia nggak peduli dengan teriakan Quinza di belakangnya dan pergi begitu saja....Di kantor, di atas meja kayu itu nggak ada lagi roti dan susu yang biasanya tersedia.Di dalam laci, obat pereda mabuk yang biasa aku siapkan juga sudah habis, cuma tinggal botol kosong.William minta Liam bawakan secangkir kopi, namun begitu minum sedikit, rasanya nggak seperti dulu lagi.“Kenapa rasa kopinya kok berubah?”Liam ragu sejenak, lalu jawab dengan hati-hati, “Sebelumnya, Jenny yang selalu buatkan kopimu .…”Aku lagi .…Untuk pertama kalinya, William sadar kalau aku telah lama menyatu dalam setiap sudut hidupnya.Ia menghela napas panjang dan tanya lagi, “Kapan Jenny akan kembali?”Liam tertegun, nggak ngerti.“Pak William, Jenny sudah keluar dari perusahaan. Kamu sendiri yang tanda tangani it
อ่านเพิ่มเติม