Share

Bab 2

Penulis: Aman
Di sudut gudang, seluruh barangku ditumpuk sembarangan, seperti sekumpulan sampah nggak berharga.

Kalung berlian yang pernah dikasih William kini terinjak-injak hingga nggak berbentuk lagi.

Sepasang mug yang kami buat bersama hancur berkeping-keping di lantai.

William menghela napas.

“Gimanapun juga ini semua bukan barang berharga. Buang saja. Nanti kalau perlu apa-apa, aku belikan yang baru.”

‘Nggak berharga?’

Pandangan mataku tertuju pada sebuah toples kaca warna-warni yang ada di antara kekacauan itu.

Tutupnya pecah, perlihatkan bintang-bintang kertas yang aku lipat satu per satu.

Ada seribu satu bintang, masing-masing bintang simpan cinta yang nggak pernah berani aku ucapkan.

Aku ambil toples yang pecah itu, lalu bersama bintang-bintang dan hadiah-hadiah rusak lainnya, lemparkan semua itu ke tempat sampah di samping.

Alis William langsung mengernyit.

Aku justru tersenyum. “Pak William benar. Barang yang nggak berharga, kalau sudah kotor dan rusak, memang seharusnya dibuang.”

Termasuk perasaanku yang bodoh dan nggak pada tempatnya.

Aku nggak lagi menatap wajahnya yang berubah muram, aku menunduk dan keluarkan surat pengunduran diri dari dalam tas.

“Pak William, ini surat pengunduran diriku .…”

Kalimatku belum selesai ketika HP William berdering.

Suara Quinza Retnaning terdengar sangat jelas di gudang yang sunyi itu.

“Will, di luar lagi hujan. Cepetan jemput aku.”

Ekspresinya seketika mengeras. Ia bahkan nggak ngelirik dokumen di tanganku dan langsung tanda tangani di bagian akhir.

“Kamu pulang naik taksi sendiri saja. Kalau sudah sampai, kabarin aku.”

Saat William pergi dengan mobilnya, hujan sudah turun dengan deras.

Vila itu berada di lereng bukit, nggak mungkin bisa dapat taksi.

Aku hanya bisa buka payung dan jalan menuruni bukit melawan angin.

Tiba-tiba kakiku terpeleset dan aku terjatuh keras, lutut serta siku terasa perih menyengat.

Aku nggak peduli pada lukaku, hanya genggam tas yang berisi surat pengunduran diri itu erat-erat.

Jika dokumen itu sampai basah, aku harus temui William lagi.

Aku nggak ingin terikat lagi dengan dia.

Namun tepat saat itu, sebuah sedan hitam yang sangat aku kenal melaju dari kejauhan.

Mobil itu melintas tanpa kurangi kecepatannya, percikkan air ke tubuhku dan menambah kehinaanku.

Lewat kaca penumpang depan, aku lihat Quinza yang tampil anggun dan William yang tersenyum lembut.

Sambil menggertakkan gigi, aku menopang diriku dan berdiri perlahan dari tanah yang dingin.

Meski lututku terasa nyeri menusuk, aku tetap tegakkan punggung dan melangkah pergi ke arah yang berlawanan dengan sedan itu, nggak noleh lagi.

Setelah surat pengunduran diri diajukan, prosesnya hanya perlu tunggu tiga hari.

Di hari terakhir, aku serahkan seluruh pekerjaanku di kantor.

Layar HP-ku menyala, pesan dari William masuk.

[Bawakan satu cangkir teh jahe.]

Gimanapun juga aku belum resmi keluar, aku harus tetap jalankan tugasku.

Setelah siapkan secangkir teh jahe hangat, aku ketuk pintu dan benar saja Quinza ada di sana.

Ia berbaring di sofa dengan kepala di paha William, sementara pria itu memijat perutnya dengan lembut.

Empat tahun terakhir, saat aku meringkuk kesakitan karena datang bulan hingga nggak bisa luruskan punggung, yang ia lakukan hanya lemparkan sekotak obat pereda nyeri dan berkata dingin, “Jangan ganggu kerjaanku.”

Yang paling konyol, aku dulu sempat tersentuh oleh sikap itu.

Tanpa melirik, aku jalan lewati mereka dan letakkan cangkir teh jahe itu di meja.

“Pak William, aku sudah taruh teh jahe-nya di meja.”

Saat aku berbalik untuk pergi, Quinza berdiri dan tiba-tiba berkata, “Tunggu!”

“Kamu Jenny Winarko, adiknya Jason Winarko?”

Sebelum sempat jawab, Quinza tampar wajahku.

Telingaku berdengung dan pipiku langsung bengkak.

William segera berdiri, suaranya penuh rasa terkejut.

“Quinza, kamu ngapain?”

Namun mata wanita itu langsung berubah jadi merah dan menunjuk ke arahku sambil nangis.

“Putri Keluarga Winarko tinggalkan hidup mewahnya demi jadi asistenmu! Dan kamu masih bohongin aku, bilang dia nggak suka kamu?”

Udara seketika membeku.

Tatapan William melintas singkat di tubuhku, lalu ia peluk Quinza dengan lembut dan seka air matanya.

Nada suaranya terdengar nggak berdaya, namun penuh kasih sayang.

“Meskipun dia suka aku, itu cuma sepihak saja. Karena di dalam hatiku, cuma ada kamu.”
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kekasihnya Pulang, Hubungan Kita Putus   Bab 9

    Selesai berkata demikian, aku kibaskan tangannya dan bersama Mario berbalik masuk ke dalam rumah.Setelah William pergi, di anak tangga depan pintu tertinggal salep luka bakar yang diambilnya dari rumah sakit hari itu.Obat memang punya tanggal kedaluwarsa.Begitu pula perasaanku ke dia, sudah lama lewat masa berlakunya.Aku sentuh lengan Mario.“Kamu tadi dengar semuanya?”“Iya.”“Terus, kamu nggak jengkel aku bicara panjang lebar dengan dia.”Dia tersenyum lembut.“Nggak. Justru bagus kalian bicara sampai tuntas. Aku tahu kamu nggak akan lakukan hal yang lampaui batas.”Beda dari William yang selalu bawa aura tajam dan defensif, Mario seperti matahari musim semi, selalu hangat dan menenangkan.Rasa hangat itu kembali mengalir di dadaku. Dengan suara kecil aku berkata, “Makasih … suamiku.”“Apa?”Tubuh Mario menegang seketika.Aku palingkan wajah, malu menatapnya.“Aku bilang … makasih, suamiku.”Ini bukan salah dengar. Juga bukan mimpi.Suara Mario bergetar.“Bisa nggak … panggil sek

  • Kekasihnya Pulang, Hubungan Kita Putus   Bab 8

    Begitu dia lihat aku keluar, raut wajahnya langsung meredup.“Jenny .…”Dia tampak begitu letih, jauh beda dari William yang selalu penuh percaya diri dalam ingatanku.Aku menghela napas, tahu kalau aku nggak akan bisa hindari percakapan ini.“Ngapain cari aku?”Aku berhenti melangkah, nggak jalan dekati dia lagi.Dia berdiri di bawah anak tangga, sementara aku berada di atasnya.Dia menatapku dari bawah.“Apa sekarang hubungan kita harus sedingin ini?”Aku tersenyum tipis.“Memangnya masih ada perlu apa lagi?”Rasa sakit terbersit di matanya. Dia menatapku, seolah ingin bicara namun ragu.Setelah beberapa saat bergulat dengan dirinya sendiri, akhirnya dia nyerah dan berkata, “Jenny, kalau aku bilang aku cinta kamu, kita bisa balikan lagi nggak? Mulai sekarang aku akan perlakukan kamu dengan baik. Bisa nggak?”Aku menatapnya dengan terkejut.“William, aku sudah nikah.”Aku angkat tanganku, perlihatkan cincin di jari manisku.“Kamu mau jadi pria simpanan?”“Apa salahnya? Asal kamu mau.”

  • Kekasihnya Pulang, Hubungan Kita Putus   Bab 7

    “Siapa suruh aku suka kamu?”Aku menatapnya dengan wajah terkejut.‘Mario baru bilang apa? Dia suka aku? Bukannya kita nikah hanya demi penuhi permintaan orang tua?’Telinga Mario memerah karena tatapanku.“Lupa yah? Kita pernah ketemu.”Tentu aku ingat.Dulu waktu aku ketemu Mario, usiaku tujuh tahun dan dia delapan.Saat itu Keluarga Mosana baru saja pindah ke vila di sebelah rumah kami. Aku dipenuhi rasa penasaran ke Mario yang baru saja datang.Bukan karena apa-apa, tapi karena dia ganteng.Dengan penuh semangat aku pergi cari dia untuk main, tapi entah kenapa, aku nggak pernah benar-benar ketemu dengan dia.Sampai suatu hari hujan turun deras. Dalam perjalanan pulang dari sekolah, aku lihat sekelompok anak mengerubungi Mario, minta dia bayar “uang perlindungan”.Saat itu, dengan mimpi jadi pendekar wanita, aku muncul bak pahlawan, acungkan sebatang kayu dan usir anak-anak nakal itu.Kupikir akhirnya aku bisa kenalan dengan dia.Namun siapa sangka, keesokan harinya aku justru denga

  • Kekasihnya Pulang, Hubungan Kita Putus   Bab 6

    “Kayak badut.”Pupil William menyusut tajam, lalu ia paksakan tersenyum kaku.“Jangan bercanda, Jenny.”“Kamu nggak mungkin nikah sembarangan hanya untuk pancing emosiku, kan.”Lihat wajahnya yang jelas-jelas sembunyikan kepanikan, tiba-tiba aku merasa semuanya begitu hambar.Pria yang aku cintai bertahun-tahun itu, ternyata nggak seistimewa yang aku pikirkan.Aku tersenyum sinis.“William, emang kamu siapaku? Kenapa aku harus repot-repot buat kamu marah?”Lihat tekad di wajahku, hawa dingin merambat di hatinya.Baru saat itulah ia sadar kalau tatapanku ke dia sudah nggak seperti dulu lagi.Sekarang yang ada cuma tatapan dingin, sinis, dan penuh ejekan.Nggak tersisa sedikit pun rasa cinta.Hatinya mengerut, seperti ditarik paksa lalu dijatuhkan dengan kejam.Seolah mengalami deformasi dan nggak bisa kembali seperti semula.Sudut bibirnya terangkat dalam senyum kaku.Sebenarnya, sudah seharusnya ia duga hari ini akan datang, karena dialah yang dorong aku menjauh.Ia buka mulut, ingin k

  • Kekasihnya Pulang, Hubungan Kita Putus   Bab 5

    “Gimana kalau sofanya juga kita ganti yang baru? Terus .…”William usap pelipisnya, untuk pertama kalinya jawab Quinza dengan nada setengah hati, “Terserah kamu. Aku harus ke kantor.”Usai berkata begitu, ia nggak peduli dengan teriakan Quinza di belakangnya dan pergi begitu saja....Di kantor, di atas meja kayu itu nggak ada lagi roti dan susu yang biasanya tersedia.Di dalam laci, obat pereda mabuk yang biasa aku siapkan juga sudah habis, cuma tinggal botol kosong.William minta Liam bawakan secangkir kopi, namun begitu minum sedikit, rasanya nggak seperti dulu lagi.“Kenapa rasa kopinya kok berubah?”Liam ragu sejenak, lalu jawab dengan hati-hati, “Sebelumnya, Jenny yang selalu buatkan kopimu .…”Aku lagi .…Untuk pertama kalinya, William sadar kalau aku telah lama menyatu dalam setiap sudut hidupnya.Ia menghela napas panjang dan tanya lagi, “Kapan Jenny akan kembali?”Liam tertegun, nggak ngerti.“Pak William, Jenny sudah keluar dari perusahaan. Kamu sendiri yang tanda tangani it

  • Kekasihnya Pulang, Hubungan Kita Putus   Bab 4

    Setelah tutup telepon, pikiran William terhenti lama pada satu kata itu, menikah.Aku akan menikah?Aku yang selalu ikutin dia seperti bayangan, ternyata akan menikah .…Saat itu, William sendiri nggak tahu perasaan apa yang kuasai hatinya.Apa itu kegembiraan karena akhirnya terbebas dari aku, atau justru kehilangan yang nggak bisa ia jelaskan?William berdiri di sana untuk waktu yang lama, nggak bergerak.Ia baru tersadar ketika Quinza yang tunggu dia di ruang rawat panggil namanya.“Kenapa, Will?”William menatap wanita di hadapannya.Ia nggak pernah merasa aku mirip dengan Quinza.Saat pertama kali ketemu denganku, aku cuma gadis kecil yang nggak ngerti apa-apa.Aku berdiri di belakang Jason, dengarkan obrolan mereka dengan sungguh-sungguh.Kesan pertamanya tentang aku adalah penurut.Kemudian setelah lulus kuliah, aku ngotot mau tinggal di Kota Harmosa.Jason minta William untuk jagain aku.Apa yang dikatakan Jason waktu itu?“Jenny punya orang yang sudah lama dia suka tinggal di

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status