Share

Bab 3

Penulis: Aman
Senyum puas melintas di wajah Quinza. Ia bersandar manja dalam pelukan William dan berkata dengan suara lembut, “Kalau gitu pecat dia! Aku nggak mau lihat dia lagi!”

Alis William sedikit berkerut, seolah ragu sesaat.

Lihat itu, Quinza raih teh jahe di atas meja dan dalam sekejap menjerit sambil siramkan itu ke tubuhku.

“Ah, Will panas banget!”

Lihat ujung jari Quinza memerah, wajah William langsung muram.

Ia menatapku dengan dingin, sepenuhnya abaikan kulit lenganku yang melepuh karena kena teh panas.

“Jenny! Empat tahun kamu kerja dengan aku, masa hal kecil kayak gini saja kamu nggak bisa lakukan dengan benar! Kamu sengaja ngincar Quinza, yah?”

William langsung panggil sekretarisnya, nggak kasih aku kesempatan untuk jelaskan.

“Liam, Jenny lakukan kesalahan kerja. Potong gaji dan bonusnya bulan ini! Dan kasih tahu kesalahannya waktu rapat pegawai minggu depan!”

Liam melirik kondisiku yang memprihatinkan, lalu berkata dengan hati-hati, “Tapi, Pak William, Jenny sudah mengundurkan diri dari kantor .…”

Begitu kata-kata itu terucap, Quinza tiba-tiba mengaduh kesakitan.

“Will, kalau kamu lindungi asistenmu seperti ini, aku akan pergi dan nggak akan pernah kembali lagi!”

Pupil William mengerut. Ia nggak peduli lagi dengan apa yang dikatakan Liam Darko, sekretarisnya dan segera peluk Quinza erat-erat.

“Quinza, jangan!”

Tatapan dinginnya mengiris tubuhku seperti pisau.

“Jenny, kalau lain kali sampai kejadian kayak gini lagi, kamu pulang saja ke Kota Jegelang! Meskipun Jason yang datang mohon sendiri, nggak akan ada gunanya!”

Luka di tanganku buat keringat dingin mengalir, namun suaraku tetap tenang.

“Tenang saja. Nggak akan ada lain kali.”

William tampak terkejut, seolah nggak nyangka akan dengar jawabanku yang seperti itu.

Ia nggak berkata apa-apa lagi dan langsung gendong bawa Quinza pergi.

“Ayo, ke rumah sakit.”

Tatapannya sempat menyapu kulit lenganku yang memerah, dan keningnya semakin berkerut.

“Kamu ikut juga!”

Khawatir lukaku kena infeksi, aku ikuti dia tanpa berkata apa-apa.

Begitu duduk di kursi belakang, HP-ku bergetar, pesan dari William.

[Tadi aku terlalu emosi. Aku sudah pernah kehilangan Quinza sekali dan nggak bisa kehilangan dia lagi untuk kedua kalinya. Kalau kamu marah, aku akan tebus.]

Aku menatap pesan itu, lalu lihat William di depan yang begitu perhatian ke Quinza, rasanya benar-benar menggelikan.

Dengan satu sentuhan jari, aku langsung blokir nomornya William.

Detik berikutnya, di layar HP-ku muncul pesan di Whatsapp untuk minta kenalan dari calon pasangan perjodohanku.

Mario Mosana, kalau dipikir-pikir, aku pernah ketemu dia sekali.

Aku tarik napas dalam-dalam dan balas menerimanya.

Mobil berhenti di depan UGD rumah sakit.

Begitu pintu terbuka, sebuah mobil melaju kencang dari samping.

Hampir secara refleks, William lindungi Quinza dalam pelukannya.

Aku terseret dan jatuh ke dalam pot bunga besar di samping.

Saat aku bangkit, aku lihat William dengan wajah cemas gendong Quinza yang tangannya tergores, lari ke ruang UGD.

“Nona, lenganmu berdarah. Ayo cepat diperban ….”

Seorang asing yang ada di sampingku kasih aku tisu bersih.

Aku tutup lukaku, ucapkan terima kasih, lalu tanpa ragu jalan ke tepi jalan dan hentikan taksi.

“Pak, ke bandara.”

Mobil itu melaju, menuju arah yang berlawanan dengan William.

Sementara itu, setelah urus Quinza, William baru ingat kalau aku juga terluka.

Ia minta salep luka bakar ke perawat dan tanya, “Di mana wanita lain yang datang bersamaku? Namanya Jenny. Dia ada di ruang mana?”

Perawat bolak-balik catatannya lalu menggeleng.

“Maaf, Pak. Nggak ada pasien bernama Jenny yang daftar di sini.”

William terdiam, jemarinya cengkeram salep itu dengan erat.

HP-nya berdering, Jason telepon.

Begitu tersambung, teriakan marah kakakku langsung terdengar.

“William! Jadi gini caramu jaga adikku? Sampai dia luka kayak gini!”

William mengernyit, dia kira aku ngadu ke kakakku.

Nada suaranya jadi dingin dan kesal. “Dia ada di sebelahmu? Suruh dia bicara.”

“Omong kosong!”

Kakakku melirik aku yang terjebak di bandara, suaranya penuh amarah.

“Kalau mau tebus kesalahan, dua hari lagi Jenny akan nikah. Kamu, sebagai ‘kakaknya’, harus datang!”
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kekasihnya Pulang, Hubungan Kita Putus   Bab 9

    Selesai berkata demikian, aku kibaskan tangannya dan bersama Mario berbalik masuk ke dalam rumah.Setelah William pergi, di anak tangga depan pintu tertinggal salep luka bakar yang diambilnya dari rumah sakit hari itu.Obat memang punya tanggal kedaluwarsa.Begitu pula perasaanku ke dia, sudah lama lewat masa berlakunya.Aku sentuh lengan Mario.“Kamu tadi dengar semuanya?”“Iya.”“Terus, kamu nggak jengkel aku bicara panjang lebar dengan dia.”Dia tersenyum lembut.“Nggak. Justru bagus kalian bicara sampai tuntas. Aku tahu kamu nggak akan lakukan hal yang lampaui batas.”Beda dari William yang selalu bawa aura tajam dan defensif, Mario seperti matahari musim semi, selalu hangat dan menenangkan.Rasa hangat itu kembali mengalir di dadaku. Dengan suara kecil aku berkata, “Makasih … suamiku.”“Apa?”Tubuh Mario menegang seketika.Aku palingkan wajah, malu menatapnya.“Aku bilang … makasih, suamiku.”Ini bukan salah dengar. Juga bukan mimpi.Suara Mario bergetar.“Bisa nggak … panggil sek

  • Kekasihnya Pulang, Hubungan Kita Putus   Bab 8

    Begitu dia lihat aku keluar, raut wajahnya langsung meredup.“Jenny .…”Dia tampak begitu letih, jauh beda dari William yang selalu penuh percaya diri dalam ingatanku.Aku menghela napas, tahu kalau aku nggak akan bisa hindari percakapan ini.“Ngapain cari aku?”Aku berhenti melangkah, nggak jalan dekati dia lagi.Dia berdiri di bawah anak tangga, sementara aku berada di atasnya.Dia menatapku dari bawah.“Apa sekarang hubungan kita harus sedingin ini?”Aku tersenyum tipis.“Memangnya masih ada perlu apa lagi?”Rasa sakit terbersit di matanya. Dia menatapku, seolah ingin bicara namun ragu.Setelah beberapa saat bergulat dengan dirinya sendiri, akhirnya dia nyerah dan berkata, “Jenny, kalau aku bilang aku cinta kamu, kita bisa balikan lagi nggak? Mulai sekarang aku akan perlakukan kamu dengan baik. Bisa nggak?”Aku menatapnya dengan terkejut.“William, aku sudah nikah.”Aku angkat tanganku, perlihatkan cincin di jari manisku.“Kamu mau jadi pria simpanan?”“Apa salahnya? Asal kamu mau.”

  • Kekasihnya Pulang, Hubungan Kita Putus   Bab 7

    “Siapa suruh aku suka kamu?”Aku menatapnya dengan wajah terkejut.‘Mario baru bilang apa? Dia suka aku? Bukannya kita nikah hanya demi penuhi permintaan orang tua?’Telinga Mario memerah karena tatapanku.“Lupa yah? Kita pernah ketemu.”Tentu aku ingat.Dulu waktu aku ketemu Mario, usiaku tujuh tahun dan dia delapan.Saat itu Keluarga Mosana baru saja pindah ke vila di sebelah rumah kami. Aku dipenuhi rasa penasaran ke Mario yang baru saja datang.Bukan karena apa-apa, tapi karena dia ganteng.Dengan penuh semangat aku pergi cari dia untuk main, tapi entah kenapa, aku nggak pernah benar-benar ketemu dengan dia.Sampai suatu hari hujan turun deras. Dalam perjalanan pulang dari sekolah, aku lihat sekelompok anak mengerubungi Mario, minta dia bayar “uang perlindungan”.Saat itu, dengan mimpi jadi pendekar wanita, aku muncul bak pahlawan, acungkan sebatang kayu dan usir anak-anak nakal itu.Kupikir akhirnya aku bisa kenalan dengan dia.Namun siapa sangka, keesokan harinya aku justru denga

  • Kekasihnya Pulang, Hubungan Kita Putus   Bab 6

    “Kayak badut.”Pupil William menyusut tajam, lalu ia paksakan tersenyum kaku.“Jangan bercanda, Jenny.”“Kamu nggak mungkin nikah sembarangan hanya untuk pancing emosiku, kan.”Lihat wajahnya yang jelas-jelas sembunyikan kepanikan, tiba-tiba aku merasa semuanya begitu hambar.Pria yang aku cintai bertahun-tahun itu, ternyata nggak seistimewa yang aku pikirkan.Aku tersenyum sinis.“William, emang kamu siapaku? Kenapa aku harus repot-repot buat kamu marah?”Lihat tekad di wajahku, hawa dingin merambat di hatinya.Baru saat itulah ia sadar kalau tatapanku ke dia sudah nggak seperti dulu lagi.Sekarang yang ada cuma tatapan dingin, sinis, dan penuh ejekan.Nggak tersisa sedikit pun rasa cinta.Hatinya mengerut, seperti ditarik paksa lalu dijatuhkan dengan kejam.Seolah mengalami deformasi dan nggak bisa kembali seperti semula.Sudut bibirnya terangkat dalam senyum kaku.Sebenarnya, sudah seharusnya ia duga hari ini akan datang, karena dialah yang dorong aku menjauh.Ia buka mulut, ingin k

  • Kekasihnya Pulang, Hubungan Kita Putus   Bab 5

    “Gimana kalau sofanya juga kita ganti yang baru? Terus .…”William usap pelipisnya, untuk pertama kalinya jawab Quinza dengan nada setengah hati, “Terserah kamu. Aku harus ke kantor.”Usai berkata begitu, ia nggak peduli dengan teriakan Quinza di belakangnya dan pergi begitu saja....Di kantor, di atas meja kayu itu nggak ada lagi roti dan susu yang biasanya tersedia.Di dalam laci, obat pereda mabuk yang biasa aku siapkan juga sudah habis, cuma tinggal botol kosong.William minta Liam bawakan secangkir kopi, namun begitu minum sedikit, rasanya nggak seperti dulu lagi.“Kenapa rasa kopinya kok berubah?”Liam ragu sejenak, lalu jawab dengan hati-hati, “Sebelumnya, Jenny yang selalu buatkan kopimu .…”Aku lagi .…Untuk pertama kalinya, William sadar kalau aku telah lama menyatu dalam setiap sudut hidupnya.Ia menghela napas panjang dan tanya lagi, “Kapan Jenny akan kembali?”Liam tertegun, nggak ngerti.“Pak William, Jenny sudah keluar dari perusahaan. Kamu sendiri yang tanda tangani it

  • Kekasihnya Pulang, Hubungan Kita Putus   Bab 4

    Setelah tutup telepon, pikiran William terhenti lama pada satu kata itu, menikah.Aku akan menikah?Aku yang selalu ikutin dia seperti bayangan, ternyata akan menikah .…Saat itu, William sendiri nggak tahu perasaan apa yang kuasai hatinya.Apa itu kegembiraan karena akhirnya terbebas dari aku, atau justru kehilangan yang nggak bisa ia jelaskan?William berdiri di sana untuk waktu yang lama, nggak bergerak.Ia baru tersadar ketika Quinza yang tunggu dia di ruang rawat panggil namanya.“Kenapa, Will?”William menatap wanita di hadapannya.Ia nggak pernah merasa aku mirip dengan Quinza.Saat pertama kali ketemu denganku, aku cuma gadis kecil yang nggak ngerti apa-apa.Aku berdiri di belakang Jason, dengarkan obrolan mereka dengan sungguh-sungguh.Kesan pertamanya tentang aku adalah penurut.Kemudian setelah lulus kuliah, aku ngotot mau tinggal di Kota Harmosa.Jason minta William untuk jagain aku.Apa yang dikatakan Jason waktu itu?“Jenny punya orang yang sudah lama dia suka tinggal di

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status