LOGINKarena sejak kecil aku suka minum susu, tubuhku berkembang lebih matang dibandingkan gadis seusiaku. Saat usiaku menginjak delapan belas tahun, kakakku yang sangat protektif takut aku dimanfaatkan orang, jadi ia minta teman baiknya untuk jagain aku. Namun pada pertemuan pertama kami, tatapan pria itu terpaku pada lekuk tubuhku, dan sejak saat itu aku berulang kali jadi sasaran pelampiasan nafsunya. Sejak hari itu, di siang hari ia adalah atasanku, dan di malam hari aku jadi "asisten pribadinya". Empat tahun penuh kami jalin hubungan rahasia, hingga aku berubah jadi sosok yang paling ia sukai. Empat tahun kemudian, mantan tunangannya pulang ke sini, dan ia tinggalkan aku di ranjang demi jemput mantan tunangannya di bandara. Dengan tahan rasa malu dan sakit hati, aku tetap kejar dia ke bandara. Padahal satu jam sebelumnya, tangan pria yang penuh bekas gigitan itu masih nutupin bibirku. Namun kini, di depan mataku, ia belai rambut perempuan lain dengan penuh kelembutan. “Jenny, empat tahun lalu kamu sendiri yang cari kesempatan waktu aku mabuk dan tidur denganku. Ngapain sekarang ribut kayak gini? Nggak tahu malu.” Tatapannya pada wanita itu begitu lembut, sementara ejekan dalam sorot matanya saat memandangku terasa begitu nyata. Aku pun merasa semuanya nggak berarti lagi. Aku tundukkan kepala dan kirim pesan ke kakakku agar ia menyetujui perjodohan dengan Keluarga Mosana. Kemudian aku menatapnya sambil tersenyum. “Oke, kalau gitu, selamat tinggal.”
View MoreSelesai berkata demikian, aku kibaskan tangannya dan bersama Mario berbalik masuk ke dalam rumah.Setelah William pergi, di anak tangga depan pintu tertinggal salep luka bakar yang diambilnya dari rumah sakit hari itu.Obat memang punya tanggal kedaluwarsa.Begitu pula perasaanku ke dia, sudah lama lewat masa berlakunya.Aku sentuh lengan Mario.“Kamu tadi dengar semuanya?”“Iya.”“Terus, kamu nggak jengkel aku bicara panjang lebar dengan dia.”Dia tersenyum lembut.“Nggak. Justru bagus kalian bicara sampai tuntas. Aku tahu kamu nggak akan lakukan hal yang lampaui batas.”Beda dari William yang selalu bawa aura tajam dan defensif, Mario seperti matahari musim semi, selalu hangat dan menenangkan.Rasa hangat itu kembali mengalir di dadaku. Dengan suara kecil aku berkata, “Makasih … suamiku.”“Apa?”Tubuh Mario menegang seketika.Aku palingkan wajah, malu menatapnya.“Aku bilang … makasih, suamiku.”Ini bukan salah dengar. Juga bukan mimpi.Suara Mario bergetar.“Bisa nggak … panggil sek
Begitu dia lihat aku keluar, raut wajahnya langsung meredup.“Jenny .…”Dia tampak begitu letih, jauh beda dari William yang selalu penuh percaya diri dalam ingatanku.Aku menghela napas, tahu kalau aku nggak akan bisa hindari percakapan ini.“Ngapain cari aku?”Aku berhenti melangkah, nggak jalan dekati dia lagi.Dia berdiri di bawah anak tangga, sementara aku berada di atasnya.Dia menatapku dari bawah.“Apa sekarang hubungan kita harus sedingin ini?”Aku tersenyum tipis.“Memangnya masih ada perlu apa lagi?”Rasa sakit terbersit di matanya. Dia menatapku, seolah ingin bicara namun ragu.Setelah beberapa saat bergulat dengan dirinya sendiri, akhirnya dia nyerah dan berkata, “Jenny, kalau aku bilang aku cinta kamu, kita bisa balikan lagi nggak? Mulai sekarang aku akan perlakukan kamu dengan baik. Bisa nggak?”Aku menatapnya dengan terkejut.“William, aku sudah nikah.”Aku angkat tanganku, perlihatkan cincin di jari manisku.“Kamu mau jadi pria simpanan?”“Apa salahnya? Asal kamu mau.”
“Siapa suruh aku suka kamu?”Aku menatapnya dengan wajah terkejut.‘Mario baru bilang apa? Dia suka aku? Bukannya kita nikah hanya demi penuhi permintaan orang tua?’Telinga Mario memerah karena tatapanku.“Lupa yah? Kita pernah ketemu.”Tentu aku ingat.Dulu waktu aku ketemu Mario, usiaku tujuh tahun dan dia delapan.Saat itu Keluarga Mosana baru saja pindah ke vila di sebelah rumah kami. Aku dipenuhi rasa penasaran ke Mario yang baru saja datang.Bukan karena apa-apa, tapi karena dia ganteng.Dengan penuh semangat aku pergi cari dia untuk main, tapi entah kenapa, aku nggak pernah benar-benar ketemu dengan dia.Sampai suatu hari hujan turun deras. Dalam perjalanan pulang dari sekolah, aku lihat sekelompok anak mengerubungi Mario, minta dia bayar “uang perlindungan”.Saat itu, dengan mimpi jadi pendekar wanita, aku muncul bak pahlawan, acungkan sebatang kayu dan usir anak-anak nakal itu.Kupikir akhirnya aku bisa kenalan dengan dia.Namun siapa sangka, keesokan harinya aku justru denga
“Kayak badut.”Pupil William menyusut tajam, lalu ia paksakan tersenyum kaku.“Jangan bercanda, Jenny.”“Kamu nggak mungkin nikah sembarangan hanya untuk pancing emosiku, kan.”Lihat wajahnya yang jelas-jelas sembunyikan kepanikan, tiba-tiba aku merasa semuanya begitu hambar.Pria yang aku cintai bertahun-tahun itu, ternyata nggak seistimewa yang aku pikirkan.Aku tersenyum sinis.“William, emang kamu siapaku? Kenapa aku harus repot-repot buat kamu marah?”Lihat tekad di wajahku, hawa dingin merambat di hatinya.Baru saat itulah ia sadar kalau tatapanku ke dia sudah nggak seperti dulu lagi.Sekarang yang ada cuma tatapan dingin, sinis, dan penuh ejekan.Nggak tersisa sedikit pun rasa cinta.Hatinya mengerut, seperti ditarik paksa lalu dijatuhkan dengan kejam.Seolah mengalami deformasi dan nggak bisa kembali seperti semula.Sudut bibirnya terangkat dalam senyum kaku.Sebenarnya, sudah seharusnya ia duga hari ini akan datang, karena dialah yang dorong aku menjauh.Ia buka mulut, ingin k












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.