Aula pertemuan megah, dengan lampu gantung berkilau dan dinding marmer yang biasanya menjadi saksi perundingan antar keluarga mafia. Siang itu, meja panjang penuh dokumen perjanjian yang tak telah ditandatangani.Barron duduk dengan wajah tegang, jemarinya mengetuk meja. Jack berdiri di seberang, tatapannya dingin. Mereka benar-benar tidak menemukan kesepakatan karena Jack tidak mungkin menyerahkan Aisyah kepada Barron.“Tuan Jack, kau tahu apa yang kuinginkan. Pelabuhan bisa menunggu, uang bisa menunggu. Tapi Aisyah… Aku akan mengambilnya, dengan atau tanpa persetujuanmu.” Barron tersenyum.“Kau gila, Barron. Menyentuh istri Sean berarti kau menyalakan perang yang tak akan padam. Aku tidak akan ikut dalam kegilaanmu.” Jack menahan amarah. Dia telah salah langkah dengan tanda tangan perjanjian karena tidak pernah mengira bahwa Barron menginginkan Aisyah yang merupakan cucu menantunya.Ketegangan memuncak. Barron memberi isyarat halus, dan anak buahnya segera menarik senjata. Jack, yang
Baca selengkapnya