LOGINSean Costa Nostra, pria dingin yang dipersiapkan menguasai dunia bawah, terguncang saat melihat bola mata hijau Aisyah, dokter bercadar yang menyelamatkannya. Mengingatkan pada cinta pertamanya yaitu Maria. Demi memastikan identitas di balik cadar hitam dan kecurigaan pada tunangannya yaitu Maria, Sean rela membongkar kebohongan sepuluh tahun silam dan menghabisi siapa pun yang menghalanginya. Sang Mafia telah menemukan kembali obsesi dan cinta. Dia tidak akan melepaskannya.
View MoreSeorang pria yang menjadi incaran duduk bersama penumpang lain di dalam sebuah pesawat yang sedang terbang di langit malam. Sean Costa Nostra. Keturunan keluarga mafia yang kejam. Dia kembali ke tanah air untuk menepati janji pernikahan dengan kekasih masa kecilnya bernama Maria.
Usinya masih muda, tetapi prestasi di dunia bisnis sudah sangat luar biasa. Bisnis legal dan illegal dijalaninya. Ajaran dari sang ayah dan kakek disempurnakan oleh Sean. Usianya baru tiga puluh tahun, tetapi pola pikirnya sangat matang dalam mengambil keputusan dan bertindak.
“Berapa lama lagi penerbangan ini?” Sean memegang foto Maria yang baru lulus kuliah. Gadis yang sudah siap menikah dengan kekasih pujaan hati. Pria yang menjadi idaman semua wanita di dunia.
“Kita sekarang berada di atas pulau terpencil, Tuan. Ada perubahan jalur penerbangan,” jelas Elio yang merupakan asisten Sean.
“Anda bisa tidur terlebih dahulu, Tuan.” Elio memberikan selimut pada Sean.
“Hmm.” Sean menyimpan foto Maria. Dia memejamkan matanya.Malam itu, langit gelap hanya diterangi cahaya bulan yang samar. Pesawat komersial yang sedang melaju tenang tiba-tiba diguncang oleh teriakan dan kekacauan: sekelompok penjahat bersenjata berhasil membajak kabin. Mereka memaksa pilot mengubah jalur penerbangan, sementara penumpang dicekam ketakutan.
Di dalam kokpit, pilot berusaha tetap tenang, berkomunikasi dengan menara pengawas secara terselubung, berharap ada jalan keluar. Namun para pembajak semakin brutal, menekan kru dan mengancam keselamatan semua orang. Ketegangan memuncak ketika pesawat kehilangan kendali akibat perebutan paksa di ruang kendali.
“Aaahh. Tolong! Jangan bunuh kami!” teriakan terdengar dari kursi belakang. “Apa yang terjadi?” tanya Sean membuka matanya. Pria itu tetap tenang.Elio terkejut melihat keributan di badan pesawat. Para penumpang yang hanya berjumlah beberapa orang saja itu ketakutan karena ada pembajakan. Tiga orang pria mengeluarkan senjata api dan menodongkan pada seorang pramugari.
“Ada penjahat, tetapi mereka tidak merampok. Apa yang mereka inginkan?” Elio duduk di samping Sean.
“Sean Costa Nostra. Di mana kamu?” teriak seorang pria dengan senjata api di tangannya.“Hari ini adalah jadwal kamu kembali ke Italia. Kami sudah menyelundupkan banyak pasukan untuk menangkap kamu,” ucap pria itu berjalan menyusui pesawat.
“Apa kamu di sini Sean?” tanya pria itu berteriak.
“Keluar! Atau aku akan membunuh satu persatu penumpang yang ada di dalam pesawat ini.” Pria itu menarik seorang wanita hamil.“Tidak! Tolong!” Wanita itu berteriak ketakutan. Air mata telah membanjiri wajahnya.
“Bos, pesawat akan segera mendarat di pulau kosong,” ucap seorang pria yang keluar dari ruangan pilot. “Tuan, tolong tenang.” Pinta pramugari yang juga menjadi sandera.“Oh, kamu saja yang menggantikan wanita hamil ini.” Pria itu menarik tangan pramugari dan menekan tubuh wanita ke dinding pesawat.
“Aaah!” Sang pramugari kesakitan. Kepalanya terbentur.
“Sean! Keluarlah! Aku ingin melihat wajah cucu kesayangan raja mafia!” teriak seorang pria dari pengeras suara. “Subhanallah. Ini adalah takdir Allah. Aku seharusnya pulang dengan pesawat ekonomi, tetapi terjebak di sini.” Seorang wanita dengan pakaian serba hitam lengkap cadar penutup wajah untuk menyembunyikan kecantikannya tersenyum pada takdir yang tidak biasa untuk pertama kali dialaminya.Selama ini, hidupnya sangat tenang dan damai. Tidak ada hal yang mengejutkan. Apalagi bertemu dengan para penjahat di dalam pesawat yang sedang berada di ketinggian. Dia adalah Aisyah. Seorang dokter bedah muda yang sangat terkenal.
“Aaarrgh! Tolong!” Wanita yang sedang hamil berteriak kesakitan. Air ketuban bercampur darah telah mengalir membasahi pakaian dan lantai pesawat.“Tolong! Tolong anakku.” Wanita itu berteriak dan menangis. Dia mengusap perutnya yang sakit.
“Diam!” Penjahat mengarahkan pistol pada wanita yang sedang hamil.
“Allahuakbar.” Aisyah berdiri.“Aku akan menolong wanita ini melahirkan. Apa boleh?” tanya Aisyah menatap tajam pada penjahat. Dia benar-benar tidak tega melihat dua nyawa yang mungkin akan melayang bersama.
“Hey. Kamu adalah teroris. Seorang penjahat dengan wajah ditutupi dan hanya memperlihatkan mata saja. Tetapi, bola mata kamu sangat indah. Hijau kebiruan seperti berlian.” Pria itu mendekati Aisyah.
“Bola mata hijau.” Sean ingat benar bahwa hanya keluarga calon istrinya yang memiliki bola mata hijau langka.
“Aku seorang dokter bedah. Ini kartu dokterku.” Aisyah memperlihatkan kartunya kepada penjahat tanpa ragu.
“Dokter khusus.” Pria itu tersenyum tipis. “Kamu tidak akan menyelamatkan wanita itu kecuali pria bernama Sean keluar,” tegas penjahat.“Apa kamu yakin penumpang bernama Sean ada di sini? Apa Anda memiliki foto atau data dia?” tanya Aisyah tanpa ragu. Wanita muda itu tidak terlihat takut sama sekali. Suaranya tenang dan stabil.
“Sean adalah keturuan mafia. Dia pasti bisa memalsukan identitas diri,” jawab penjahat. “Karena kamu seorang dokter. Nyawa kamu akan kami ampuni.” Pria itu tersenyum. “Apa bisa bukakan cadar kamu? Aku mau melihat wajah di balik kain penutup ini?” Pria itu ingin menyentuh Aisyah, tetapi dengan cepat sang dokter menghidar.“Tidak akan,” tolak Aisyah tegas.
“Dor!” Sebuah tembakan terdengar dari ruang pilot. “Apa yang terjadi?” tanya semua orang panik.“Bos! Pilot tidak mau mendaratkan pesawat. Terjadi pertengkaran di kokpit,” ucap seorang pria.
“Aaarrgh!” Semua orang berteriak karena pesawat yang mulai oleng dan keluar jalur yang seharusnya.
“Aaah!” Aisyah yang sedang berdiri jatuh tepat di pelukan Sean. Pria dengan wajah tampan dan mengenakan topi serta kacamata.
“Bola mata hijau.” Sean menatap bola mata Aisyah yang berubah warna dengan cepat ketika terkena cahaya. Alis tersusun rapi dengan bulu mata panjang dan lentik.“Maria.” Sean terus menatap Aisyah.
“Maaf.” Aisyah segera beranjak dari pangkuan Sean. “Mari. Bu.” Aisyah masih sempat menolong wanita hamil dan membantu untuk duduk di kursi dengan tidak lupa memasang sabuk pengaman. “Semua kenakan sabuk pengaman!” teriak pramugari.“Aaarg!” Tubuh Aisyah terdorong. Dia terjatuh di lantai. Tangan Sean berhasil memegang wanita itu. Bola mata mereka kembali bertemu. Ada tarikan yang tidak mampu ditolak.
“Terima kasih.” Aisyah menarik diri dan menjauh dari Sean.
Pesawat kembali stabil dengan ketinggian seribu kilometer di atas permukaan laut. Pilot tidak bisa mendarat sembarangan tempat. Itu semua demi keselamatan para penumpang.
“Mendarat!” perintah penjahat.
“Tidak ada lintasan terbang di pulau itu,” jelas pilot.“Kita bisa ke pulau sebelahnya,” ucap co-pilot.
“Lakukan pendaratan darurat. Ada padang rumput di pulau itu. Kami telah memeriksanya.” Seorang pria mengarahkan pistol ke kepala copilot.
“Apa kamu mau mati seperti dia?” Penjahat tersenyum melihat seorang pramugrari yang sudah tidak sadarkan diri dengan tubuh berlumuran darah. “Sean! Keluar atau wanita hamil ini akan mati bersama anaknya!” Penjahat berdiri di samping kursi wanita hamil dengan mengarahkan senjata pai.“Aku akan keluarkan bayi dengan tembakan. Hahaha!” Penjahat tertawa puas.
“Tolong ampuni kami.” Wanita hamil benar-benar ketakutan.
“Harusnya aku pulang dengan jet pribadi.” Sean mengepalkan tangannya.
“Ya Allah. Apa yang akan terjadi?” Aisyah melihat pada wanita yang sudah mengalami pendarahan.
“Bunuh seorang ibu hamil, pramugari dan lecehkan wanita bercadar itu.” Penjahat tersenyum pada Aisyah.“Aku yakin. Dia adalah penumpang paling cantik di pesawat ini. Seorang dokter yang masih sangat muda dan memiliki passport serta visa khusus.” Pria itu memegang kartu identitas Aisyah.
“Ya Allah lindungilah kesucian hamba hingga ajal menjemput.” Aisyah hanya bisa membaca doa. Tidak ada yang mampu dilakukan karena mereka sedang berada di langit.
“Mulai dari pramugari itu.” Penjahat mengarahkan pistol pada pramugari yang duduk di kursinya.
“Dor!” Sebuah tembakan tepat di dada pramugari.
“Ya Allah. Apa pria bernama Sean itu benar-benar ada di dalam pesawat? Apa dia akan keluar dengan berani atau akan tetap bersembunyi?” Mata Aisyah mencari sosok yang dicurigai sebagai Sean.
“Penumpang pesawat ini hanya sedikit. Selebihnya mereka adalah penjahat.” Aisyah berusaha untuk tenang dalam tasbih dan tahmid yang tidak pernah luput dari lidahnya.
Tasbih digital terselip di jari manis tangan kanan. Hapalan Alquran yang tidak pernah hilang dari ingatan. Wanita muda itu benar-benar mampu mengontrol emosinya selama tidak ada pria yang menyentuhnya.
“Kamu! Buka kain penutup wajah!” teriak penjahat dengan mengarahkan pistol pada Aisyah.
“Hentikan!” Sean berdiri. Pria itu seakan tidak rela melihat wanita Muslimah dilecehkan. Dia bukan seorang muslim, tetapi cukup menganggumi wanita berhijab dan menutup aurat karena perempuan dengan pakaian seksi bahkan telanjang biasa dimatanya.
“Tuan.” Elio terkejut karena tidak biasanya majikannya peduli pada orang asing.“Aku Sean Costa Nostra.” Sean melihat pada Aisyah yang sudah duduk di kursi. Bola mata hijau itu benar-benar mengingatkannya pada Maria yang merupakan calon istrinya. Ada kilatan tidak biasa yang hanya dimiliki orang-orang tertentu.
Leana keluar dari ruang kerja dan menemui Maria. Dia melihat putri angkatnya masih belum menentukan pilihan.“Maria, apa tidak ada yang kamu suka?” tanya Leana.“Aku suka semuanya, Ma.” Maria memeluk tangan Leana. Dia sangat bahagia karena akan mengenakan rancangan hasil karya sang mama yang legendaris. Perancang busana yang sangat terkenal di seluruh dunia.“Kamu hanya bisa mengenakan tiga gaun, Sayang. Pagi, siang dan malam.” Leana mencubit pipi Maria.“Ma, di ruangan itu ada gaun apa?” Maria menunjukkan ruang kaca yang tertutup rapat.“Itu rancangan gaun Muslimah untuk Aisyah.” Leana tersenyum bangga.“Apa aku boleh melihatnya?” tanya Maria.“Kamu tidak akan suka karena gaun-gaun itu tertutup dan khusus untuk Aisyah,” jawab Leana yang tanpa sadar membuat Maria iri.“Mama sudah siapkan gaun pengantin ini yang juga dirancang khusus untuk kamu kenakan di hari bahagia.” Leana merapikan rambut Maria.“Terima kasih, Ma.” Maria tidak puas sebelum bisa melihat gaun Muslimah yang dibuat oleh
Pagi hari Sean membawa Aisyah sarapan di ruang makan. Dia tidak pergi ke perusahaan sehingga dapat menemani sang istri di rumah.“Sayang, apa tidak pergi ke kantor?” tanya Aisyah menyelesaikan sarapannya.“Beberapa hari ini aku tidak menemani kamu karena sibuk,” jawab Sean.“Jadi, hari ini aku akan tetap di rumah bersama kamu.” Sean tersenyum.“Jika banyak pekerjaan, aku tidak masalah di rumah atau mau aku temani di kantor?” Aisyah menatap Sean.“Tidak, Sayang. Di luar sana sangat bahaya. Jalanan akan menjadi medan perperangan,” jelas Sean.“Aku tidak mau kamu terluka,” lanjut pria itu.“Baiklah.” Aisyah tersenyum.Sean dan Aisyah beranjak dari kursi. Mereka berjalan bersama menuju taman samping ruang tengah. Keduanya menikmati suasana pagi yang tenang dan sejuk. Angin berhembus lembut menggoyangkan dedaunan dan ranting pohon. Kupu-kupu tampak bertebangan bahagia menikmati harumnya bunga yang bermekaran.“Nyaman sekali.” Aisyah memperhatikan sekeliling. Dia sudah lama tidak menginjakka
Langit malam mulai diguyur hujan tipis ketika Sean mengendarai mobilnya pulang. Jalanan basah berkilau oleh lampu kota, namun ketenangan itu segera pecah. Dari persimpangan gelap, dua mobil hitam meluncur cepat, memotong jalannya. Rem Sean berdecit keras, mobilnya berhenti mendadak.Pintu mobil musuh terbuka serentak. Anak buah Barron keluar dengan langkah mantap, jas hitam mereka basah oleh hujan, senjata berkilat di bawah lampu jalan. Sean tetap tenang, matanya menyapu sekeliling mencari celah.“Turun, Sean! Malam ini kau tak akan lolos!” teriak salah satu dari mereka, suaranya menembus deru hujan.Sean membuka pintu, berdiri tegak meski tubuhnya basah kuyup. Pria itu tidak pernah melepaskan musuhnya. Apalagi tidak ada sang istri di dekatnya. Tangan kedua tangannya meraih pistol dari jas hitam.Benturan pertama terjadi cepat. Peluru menghantam bodi mobil, memercikkan api kecil. Sean membalas dengan tembakan terarah, membuat dua penyerang langsung terjatuh. Namun jumlah mereka terlalu
Sean pergi ke penjara. Dia harus memastikan bahwa Khaled masih hidup. Pria itu cukup khawatir dengan keadaan mantan tunangan istrinya.“Khaled,” sapa Sean melihat Khaled yang duduk di kursi. Pria itu sudah mendapatkan perawatan.“Kenapa kamu tidak membunuhku? Apa takut Aisyah akan marah?” Khaled hanya mengenakan celana dengan bertelanjang dada. Tubuhnya seksi dan terbentuk sempurna. Sejak mendapatkan keringanan hukuman dan makanan, Khaled fokus merawat diri dengan Latihan di dalam penjara.“Jika kamu tidak menculik Aisyah, maka tidak akan ada permusuhan ini,” ucap Sean tenang.“Aku hanya meniru kamu, Sean. Kamu yang menculik Aisyah di hari pernikahan kami. Pria mana yang rela?” Khaled menatap tajam pada Sean.“Aku akan mengirim kamu pulang ke Kairo dan jadilah saudara Aisyah. Hapus semua rasa cinta dan sayang kamu padanya.” Sean berlalu.“Sean!” teriak Khaled memegang pintu besi. Pria itu benar-benar marah. Cinta yang tersimpan dan terjaga sepuluh tahun dengan harapan bisa bersama sirn
Setelah sarapan Sean dan Aisyah meninggalkan kastil. Lokasi keluarga yang masih sepi karena semua orang masih terlelap di dalam tidur yang indah. Mereka berdua pergi ke padang rumput di mana terdapat peternakan kuda serta tempat Latihan.“Kita sampai, Sayang.” Sean mengendarai sendiri mobil. Dia be
Jack kembali ke aula pesta. Dia meminta semua orang berpindah ke ruang pertemuan untuk membicarakan permintaan Barron.“Ada apa ini? Malam sudah sangat larut dan kita masih harus berkumpul di ruang pertemuan?” tanya beberapa orang yang heran. Mereka sudah lelah dan mengantuk. Siang yang sibuk dan ha
Aula utama telah ramai oleh semua anggota keluarga mafia. Mereka sudah tidak sabar ingin bertemu dengan istri Sean. Wanita yang rela ditunggu hingga sepuluh tahun lamanya.“Apa Sean benar-benar sudah tiba di Amerika?” tanya seorang wanita paruh baya.“Tentu saja. Dia tidak akan bisa membantah permin
Sean dan Aisyah telah berada di dalam pesawat pribadi. Mereka akan terbang ke Amerika dengan lama penerbangan kurang lebih sebelas jam. Pergi di malam hari dan akan tiba di pagi.“Tidurlah, Sayang.” Sean memeluk Aisyah.“Ya.” Aisyah membenamkan wajahnya di dada Sean dan memejamkan mata. Dia tersenyu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore