"Eh, enggak Non... Nggak apa-apa," sahut Juned cepat sambil membuang muka dari arah kerumunan. Maudy menyipitkan mata, merasa ada yang aneh dengan gerak-gerik supirnya itu, "Kamu lihat apa dari tadi emangnya?" "Eng-enggak lihat apa-apa kok Non, cuma masih heran saja lihat orang ramai begini... di desa saya jam segini sudah sepi," dalih Juned beralasan. Maudy tersenyum tipis, sorot matanya berubah menjadi nakal dan menggoda, "Oh gitu, jadi kamu senangnya yang sepi-sepi ya, Mas?" Juned hanya bisa nyengir kuda dengan perasaan yang tidak tenang, "Eh, enggak gitu juga Non..." "Aduh, si Desi tadi perginya sama siapa ya," gumam batin Juned sambil meremas ponsel di saku celananya, ingin sekali menelepon tapi nyalinya ciut. Setelah menghabiskan sate, Maudy bangkit dan langsung merangkul lengan Juned dengan erat di depan umum. "Yuk Mas pulang," ucap Maudy manja, "Aku sudah nggak sabar mau berduaan sama Mas sampai pagi." Langkah Juned terasa berat, kepalanya terus menoleh ke bela
Last Updated : 2026-03-04 Read more