Langkah kaki mereka bergema di sepanjang koridor batu Kastil Harapan yang dingin. Kastil ini, meskipun telah dipugar di beberapa bagian, masih menyimpan sisa-sisa kemuraman dari era perang besar. Elizabeth melangkah dengan anggun di sisi Altair, tangannya bergerak lincah di atas papan kayu kecil, mencatat setiap detail yang keluar dari mulut pria di sampingnya. Tugas sebagai 'pendamping' ternyata bukan sekadar istilah pemanis, Altair benar-benar memanfaatkan ketelitian Eli untuk mendokumentasikan segala hal.“Dana hibah dari kas pusat untuk kuartal ini seharusnya mencakup perbaikan sistem pemanas di sayap barat, Tuan Count,” ujar Altair, suaranya terdengar berat dan otoriter, memantul di langit-langit koridor yang tinggi. “Aku melihat beberapa pipa uap masih berkarat saat melewati lorong tadi.”Tuan Count, yang berjalan sedikit membungkuk di depan mereka, menyeka keringat dingin di dahinya. “Benar, Yang Mulia. Pipa-pipa itu peninggalan lama. Kami sedang mengusahakan penggantian, nam
続きを読む