"Pengantin baru ya begitu, Bu. Kita dulu juga begitu, kan?" sahut Bu Darmi. Bu Aminah kembali tertawa, lalu menepuk lengan Harsa. "Anak saya ini memang kecintaan dengan istrinya, Bu. Udah betah tinggal di sini." "Ya malah bagus dong, Bu. Sayang istri, juga sayang anaknya. Baik-baik sama Nak Kamila ya, Le. Dia sering berbagi ke tetangga, entah itu kue atau makanan. Makanya waktu ada musibah kemarin, banyak yang datang melayat. Waktu dia menikah lagi, semua tetangga di sini hadir. Kami ikut bahagia." Bu Aminah bisa melihat sorot mata bangga di mata Harsa. Anaknya sedang jatuh cinta. "Saya pamit dulu, Bu. Mau ke toko. Ada banyak orderan hari ini," pamit Harsa, lalu mencium punggung tangan Bu Aminah. "Assalamualaikum." "Waalaikumussalam," jawab dua wanita itu bersamaan. "Masya Allah, anak sholeh. Ya sudah. Saya cuma bisa mendoakan yang terbaik untuk mereka ya, Bu. Semoga pernikahan mereka terus diberkahi." "Aamiin," jawab Bu Aminah. Setelah Bu Darmi pamit, Bu Aminah bergegas masu
Read more